MetroTimes (Surabaya) – Dalam rangka mendukung suksesnya Presidensi G20 Indonesia tahun 2022, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur melakukan diseminasi informasi kepada perwakilan diplomatik melalui acara yang bertajuk “East Java Policy Discussion on G20 Presidency 2022”. Gelaran yang dilaksanakan pada 31 Maret 2022 di Hotel Shangri-La Surabaya tersebut, dihadiri oleh Konsul Jenderal, Konsul, dan/atau Konsul Kehormatan dari 11 negara, yaitu Australia, Jepang, Hungaria, Filipina, Mongolia, Denmark, Belarusia, Selandia Baru, Inggris, Belanda, dan Singapura.

Budi Hanoto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, membuka diskusi sekaligus menyampaikan bahwa tahun 2022 merupakan tahun “sibuk” bagi Indonesia yang mendapatkan mandat penting dalam mendukung pemulihan ekonomi global melalui perannya sebagai Presidensi G20. Di tengah pemulihan ekonomi antara negara maju dan berkembang yang terjadi secara tidak seimbang (global imbalances), terdapat 3 (tiga) tantangan yang perlu mendapat perhatian, yaitu 1) normalisasi kebijakan di negara maju, dimana kenaikan suku bunga The Fed berdampak pada kenaikan suku bunga global sehingga mempersulit pemulihan ekonomi negara berkembang; 2) dampak jangka menengah-panjang scarring effect (luka memar) akibat pandemi terhadap sektor riil, serta 3) eskalasi ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berdampak pada lonjakan harga komoditas internasional (energi maupun pangan), gangguan mata rantai perdagangan global, serta pembalikan arus modal secara tiba – tiba ke safe heaven asset (terutama emas) yang menimbulkan ancaman bagi stabilitas eksternal dan kinerja nilai tukar.

Sebagai bentuk respon kebijakan atas tantangan tersebut, Presidensi G20 Indonesia 2022 mengusung tema *“Recover Together, Recover Stronger”*, yang bertujuan mendorong seluruh dunia untuk saling bahu-membahu dan saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan pasca pandemi COVID-19. Perhelatan tersebut juga memiliki 5 (lima) pilar utama, yaitu 1) mempromosikan produktivitas; 2) meningkatkan ketahanan dan stabilitas; 3) memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan yang inklusif; 4) mendukung iklim/lingkungan dan kemitraan; serta 5) kepemimpinan global kolektif yang lebih kuat.

Selanjutnya, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan memimpin pembahasan jalur keuangan (finance track) dan memperjuangkan 6 (enam) agenda prioritas, yaitu 1) Mengatasi dampak normalisasi kebijakan di negara maju agar well calibrated, well-planned dan well-communicated; 2) Mengatasi dampak scarring effect terhadap sektor riil melalui reformasi dan transformasi struktural, serta meningkatkan produktifitas dan daya saing dengan strategi bisnis yang baru di post-COVID era, termasuk mendorong investasi dan produktivitas SDM; 3) Digitalisasi Sistem Pembayaran, termasuk isu Cross Border Payment dan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC); 4) Green Economy dan Sustainable Finance, agar transisinya berjalan lancar termasuk dukungan pembiayaan hijau (green financing); 5) Inklusi Ekonomi dan Keuangan, termasuk pemanfaatan digitalisasi untuk optimalisasi potensi UMKM sebagai pilar pertumbuhan ekonomi yang kuat; serta 6) Perpajakan Internasional, termasuk perpajakan digital.

Untuk mendukung suksesnya Presidensi G20 2022, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur juga menyelenggarakan beberapa side events sepanjang tahun 2022, antara lain (1) Pre-event Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) Jawa Timur, (2) Rangkaian kegiatan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Berwisata di Indonesia (BBI/BBWI), (3) East Java Economic Forum (EJAVEC) berupa webinar dan call for paper, (4) Seminar nasional mengenai Presidensi G20 2022, (5) East Java Investment Program (EJIPRO) 2022 berupa rangkaian kegiatan Investment Leaders Forum (ILF), Capacity building penyusunan feasibility study proyek investasi, Kompetisi Investment Project Ready to Offer (IPRO) antar daerah (Investment Challenge), Investment Awards, Business Matching, One-on-One Meeting, serta (6) Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (FESYAR) se-Jawa.

Berbicara mengenai Jawa Timur, perekonomian Jawa Timur pada tahun 2022 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,0% – 5,8% (yoy), atau meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2021. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh potensi peningkatan konsumsi Rumah Tangga, Investasi, dan ekspor Luar Negeri dari sisi permintaan, serta bersumber dari lapangan usaha Industri Pengolahan, Perdagangan, Pertanian, dan Konstruksi dari sisi sektoral. Selain itu, Jawa Timur juga memiliki potensi investasi yang signifikan dengan multiplier effect yang besar sehingga penting untuk terus diakselerasi dalam rangka mendongkrak perekonomian daerah, mengingat hanya kurang dari 15% pembiayaan proyek strategis sesuai Perpres 80/ 2019 yang dapat didanai oleh Pemerintah via APBN/APBD. Untuk itu, investasi perlu dilakukan pada sektor yang memiliki keterkaitan antar sektor (forward dan backward linkage) yang besar yaitu sektor (1) Ketenagalistrikan; (2) Industri Kimia, Farmasi, dan Obat Tradisional; (3) Jasa Perusahaan ; (4) Industri Mamin; dan (5) Jasa Informasi dan Komunikasi.

Melalui pertemuan dan diskusi ini, diharapkan dapat terjalin sinergi yang berkelanjutan dan konsisten antara Bank Indonesia Jawa Timur dan perwakilan diplomatik dan/atau kantor dagang dalam mengupayakan promosi investasi dan perdagangan Jawa Timur yang tepat sasaran, mengingat investor setiap negara memiliki karakteristik, concern, dan minatnya masing-masing. (nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini