- iklan atas berita -

Metro Times (Semarang) Ketua Pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Tengah, Sarwa Pramana mewanti-wanti pentingnya kompetensi petugas teknis (Teknisi) Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). Sebab, pemberian darah kepada pasien yang membutuhkan menentukan nasib dekat pada kesembuhan atau kematian.
“Yang tidak kalah pentingnya adalah, antara mendekatkan pada kematian atau pada kesembuhan. Kalian harus punya keyakinan bahwa tangan saya mendekatkan pada kesembuhan,” kata Sarwa saat memberikan sambutan dalam pembukaan ‘Pelatihan Petugas Bank Darah Rumah Sakit Angkatan XXVI yang digelar oleh PMI Jateng sejak hari ini, Selasa (18/10) di gedung Pusdiklat PMI Jawa Tengah, Jl. Arumsari Sambiroto Tembalang, Kota Semarang.

“Kecermatan dan keahlian petugas bank darah rumah sakit sangat mementukan ketika terjadi emergency di rumah sakit. Jangan sampai ada kekeliruan dalam transfusi darah,” tandasnya.

Sarwa mengungkapkan, salah satu tujuan mengirim petugas laboratorium yang berlatar belakang analis kesehatan sebagai peserta pelatihan teknisi BDRS untuk memenuhi akreditasi rumah sakit. Lebih dari itu menjaga amanah dalam berkontribusi kepada rumah sakit untuk menyelamatkan jiwa seseorang. “Kegiatan Pelatihan Petugas teknis (Teknisi) Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) kali ini diikuti 27 peserta (23 perempuan dan 4 laki-laki) yang berasal dari empat Provinsi, yakni; Jateng, Jabar, Jatim dan DIY. Untuk tahun ini, kita sudah mengadakan empat kali,” terang Sarwa

Sementara itu, Kepala Unit Donor Darah (UDD) Pengurus Pusat PMI Dr. dr. Ria Safitri, MKes Biomed yang menjadi pelatih narasumber kegiatan. Dia katakan pentingnya kurikulum materi yang sesuai dengan standart teknisi BDRS, “Tugas kita mulai dari mencari donor darah untuk mendapatkan pelayanan bagi pasien yang membutuhkan,” ungkapnya.

Lebih jauh Ria mengatakan pelatihan petugas bank darah bagi rumah sakit merupakan tuntutan kompetensi bagi analis kesehatan rumah sakit sebagai petugas, “Ini sesuai dengan peraturan menteri kesehatan harus memiliki teknisi khusus,” jelasnya.

Untuk itu, lanjutnya evaluasi terhadap peserta wajid dilakukan oleh PMI Jawa Tengah kepada setiap peserta dalam pelatihan yang berlangsung selama 10 hari, meskipun pada umumnya sudah terbiasa bekerja di laboratorium, “Kami penyelenggara bertanggungjawab untuk kelulusan peserta karena nanti harus lapor kepada direktur rumah sakitnya masing-masing,” tuturnya.

Ria juga menekankan, petugas BDRS harus kompeten, jangan sampai ada kesalahan dalam mengolah sampai transfusi darah kepada pasien, “Tanggungjawabnya dunia akhirat karena ini menyangkut keselamatan seseorang,” tandasnya. (af)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini