- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Musim hujan telah tiba di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, setelah kemarau panjang melanda selama hampir 8 bulan lamanya. Kendati demikian, hujan turun tidak lantas membuat para petani padi di daerah itu bisa langsung memulai proses tanam.

Petani padi di sejumlah wilayah Purworejo saat ini masih mengalami kendala serius terkait pengairan, diantaranya petani di Desa Cengkawakrejo, Kecamatan Banyuurip. Jadwal masa tanam padi di desa tersebut sudah dua kali mengalami pengunduran.

“Secara umum sudah ada jadwal, awalnya Cengkawakrejo dijadwalkan November. Lalu diundur di 1 Desember, setelah itu diundur lagi dalam waktu 14 hari. Mudah-mudahan 15 Desember nanti petani sudah bisa menanam,” kata Kepala Desa Cengkawakrejo, Imlais Wiski Bagasworo, Kamis (7/12/2023).

Imlais menyesalkan kemunduran jadwal pengairan tersebut, karena tidak ada informasi yang disampaikan ke desanya. Kemunduran jadwal itu sangat berpengaruh terhadap petani maupun sektor petanian di desanya.

“Besar pengaruhnya, karena sebagian petani sudah mulai olah tanah bahkan tebar benih. Kalau air terlambat, olah tanah sulit dilakukan sedangkan usia benih sudah semakin tua,” katanya.

ads

Ia mengutarakan petani padi di desanya sangat bergantung pada saluran irigasi sungai Boro. Saat ini debit air sungai Boro masih rendah dan air sedang diarahkan ke wilayah selatan tepatnya di Blok Kemantren 2 Kecamatan Purwodadi.

“Tidak masalah, cuma seharusnya kalau ada perubahan jadwal tolong informasi cepat masuk ke kami. Kami dijadwalkan 1 Desember maka saat itu juga warga mulai olah tanah dan tebar benih, tapi ternyata air kurang,” ujarnya menambahkan.

Bagasworo menyadari, hujan telah turun di daerah ini namun intensitasnya masih cukup rendah sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan air bagi petani di desanya. Kendati jadwal terlambat ia mengimbau para petani tetap melanjutkan proses olah lahan dan tebar benih.

“Untuk tebar ini kan tidak terlalu butuh air. Jadi itu bisa dilakukan sambil pelan-pelan olah lahan. Mudah-mudahan tanggal 15 air benar-benar mengalir sehingga kita bisa mulai tanam,” kata dia lagi.

Tak hanya Cengkawakrejo, lanjut Imlais, saat ini persoalan yang sama juga dialami petani di Desa Keduren, Karangmulyo, Ketangi, Wangunrejo serta Sumberejo Kecamatan Purwodadi. Dia harap dinas terkait memberi perhatian serius terhadap persoalan pengairan yang dialami petani.

“Petani ini sudah sangat prihatin dengan masalah kelangkaan pupuk, hasil panen yang tidak maksimal termasuk persoalan air. Kami berharap ada komunikasi yang baik antara dinas pengelolaan air, P3A (perkumpulan petani pemakai air) juga kelompok tani,” imbus Imlais.

Ia menambahkan di Cengkawakrejo memiliki sekitar 130 hektar sawah yang sangat bergantung dengan irigasi Sungai Boro dan 30 hingga 50 hektar bergantung pada irigasi Kedung Putri. Pihaknya menginginkan pengaturan air di dua irigasi itu berjalan baik agar petani tidak merugi.(dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!