Metro Times (Purworejo) Para pengelola desa wisata di sekitar Badan Otorita Borobudur (BOB) didorong untuk meningkatkan kesiapannya dalam melayani wisatawan seiring membaiknya kondisi pandemi Covid-19 dan sektor pariwisata. Salah satu faktor penting yang harus dikuasai yakni terkait Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan dan produk.

Dorongan itu diwujudkan oleh BOB melalui program Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Desa Wisata dan Daya Tarik Wisata bagi 20 pelaku wisata di setiap desanya. Pelatihan dan pendampingan dilakukan bersama Lembaga Sertifikasi Jana Dharma Indonesia dan didukung oleh Dinas Pariwisata DI Jogjakarta, Disporapar Jawa Tengah, Dinporapar Purworejo, Dinparpora Magelang, dan Dinpar Kulonprogo.

Pelatihan dan pendampingan antara lain diberikan kepada para pengelola Desa Wisata Pandanrejo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Kegiatan berlangsung selama 5 hari, Selasa-Sabtu (10-14/5), di Objek Wisata Gunung Gajah Desa Pandanrejo.

Direktur Destinasi Pariwisata BOB, Agustin Peranginangin, menyebut tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pendampingan pengelolaan Desa Wisata agar mampu menjadi salah satu penyangga Zona Otorita. Materi pelatihan meliputi Pengelolaan Desa Wisata Terintegrasi, Manajemen Konflik dan Pengelolaan Masyarakat, Penyusunan SOP Produk, Penyusunan SOP Pelayanan.

Menurutnya, pelatihan tahun 2022 ini sekaligus menjadi tindak lanjut dari pelatihan tahun lalu yang berfokus pada SOP protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability).

“Maka sekarang ini yang dibutuhkan adalah SOP pelaksanaan pemasaran pariwisata, kemudian juga manajemen kelembagaan. Tahun ini, itu yang kita dorong,” kata Agustin Peranginangin saat ditemui pada acara penutupan pelatihan, Sabtu (14/5) sore.

Acara penutupan pelatihan dihadiri antara lain Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Purworejo, Bambang Susilo, Kabid Promosi Pariwisata Dinporapar Purworejo, Endah Hanna Rosanti, Kepala Desa Pandanrejo, Supandi, Ketua Pokdarwis Gunung Gajah, Sukijo, dan para pelaku wisata Desa Pandanrejo.

Agustin mengungkapkan, kegiatan pelatihan juga sudah terlaksana di Desa Pagerharjo, Desa Gerbosari, dan Desa Ngargosari yang berada di Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta. Kegiatan pelatihan dan pendampingan, sambungnya, sangat esensial membantu meningkatkan kualitas Pariwisata di kawasan BOB.

“Umumnya di Kawasan Pariwisata Borobudur Kondisi ini menjadi sebuah keunggulan mengingat beberapa Desa Wisata dan Daya Tarik Wisata telah memiliki potensi untuk memajukan sektor pariwisata,” sebutnya.

Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), lanjutnya, diiringi dengan meningkatkan kompetensi pelaku wisata di sekitar Zona Otorita BOB dilakukan agar pengelolaan desa wisata semakin berkualitas dan wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Pandanrejo mendapatkan kepuasan dan kenyamanan.

“Dan semoga Desa Pandanrejo semakin meningkatkan kualitas dan kemajuan di bidang kepariwisataannya,” tandasnya.

Sementara itu, Bambang Susilo yang hadir mewakili Bupati Purworejo menyampaikan terima kasih atas pelatihan yang difasilitasi oleh BOB kepada para pelaku wisata di Purworejo. Pihaknya juga mengapresiasi para pelaku wisata di Pandanrejo yang sangat aktif mengikuti berbagai materi pelatihan.

“Ada secerca harapan bagi saya. Tidak hanya bicara Purworejo itu yang ada di selatan, tapi yang di timur, yang di daerah pegunungan juga punya potensi luar biasa,” jelasnya.

Diharapkan, pariwisata khususnya di wilayah bagian timur diharapkan dapat menjadi etalase Kabupaten Purworejo yang akan banyak menarik wisatawan.

“Dengan melihat Pandanrejo saja bisa mewakili Purworejo dari aspek pariwisatanya, saya berpesan bagi yang sudah mengikuti pelatihan 5 hari, agar ilmunya bisa teruskan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.

Lebih lanjut Bambang menegaskan bahwa pelatihan ini juga merupakan salah satu bentuk keseriusan kerja sama antara Pemkab Purworejo dengan BOB.

“MoU BOB dengan Pemkab Purworejo tidak abal-abal, hari ini ada sesuatu yang diberikan BOB untuk Purworejo, dan kedepannya juga akan terus dilakukan,” tegasnya.

Ketua Lembaga Sertifikasi Jana Dharma Indonesia, Hairullah Ghazali, menyebut sedikitnya ada 51 SOP yang dipelajari dalam pelatihan dan pendampingan selama 5 hari di Desa Pandanrejo.

“Outputnya 51 SOP. SOP ini adalah sebuah gateline. Namun, SOP ini harus selalu dilakukan evaluasi seiring dengan perubahan zaman dan situasi,” tandasnya. (dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini