Metro Times (Purworejo) Tren belanja pakaian bekas (Thrifting) kian menjadi passion sebagian kalangan millenial di Kabupaten Purworejo. Kondisi itu terlihat antara lain dari tingginya tingkat kunjungan dalam bazar bertajuk Ramadan Trift #1 yang digelar oleh Paguyuban Purworejo Thrift Market di Gedung PKPRI Purworejo.

Inam Maulana (21), Ketua Panitia Ramadan Thrift #1, menyebut even dijadwalkan berlangsung selama 3 hari, sejak Jumat hingga Minggu (22-24/4). Selama 2 hari terakhir, tingkat kunjungan mencapai ratusan orang yang didominasi oleh kaum millenial.

“Melihat antusias pengunjung dua hari ini sangat luar biasa, mungkin karena ini sudah mendekati lebaran juga. Per stand rata-rata bisa meraup omzet sekitar Rp1 juta per hari,” sebutnya, Sabtu (23/4) malam.

Dijelaskan, terdapat 20 stand dalam Ramadan Thrift #1 yang merupakan gabungan dari 25 orang pelaku bisnis thrift. Di lokasi bazar yang buka mulai pukul 13.00 WIB hingga 22.00 WIB itu, pengunjung dapat memilih langsung beragam produk pakaian impor berkas dari sejumlah negara, seperti Jepang, Korea, dan Paris. Produk yang ditawarkan variatif, mulai dari baju pria maupun wanita, celana, topi, hingga sepatu, semua merupakan produk dengan brand ternama.

“Harga mulai Rp30 ribuan ke atas, bergantung merk, kualitas, dan bahan,” jelasnya.

Ramadan Thrift merupakan bazar kali keempat. Namun, sebelumnya 3 even sebelumnya digelar di luar bulan Ramadan atau jelang lebaran.

“Lewat even ini kita ingin mendekatkan seller dan buyer. Dengan pilihan produk yang lebih banyak dan harga bersaing, harapannya pengunjung lebih puas dan penjual juga lebih mudah memasarkan,” ibuhnya.

Lebih lanjut Inam Maulana mengungkapkan bahwa tren passion pakaian impor bekas atau second mulai digemari kawula muda di Kabupaten Purworejo sejak sekitar tahun 2019. Sejumlah pelaku bisnis trift kemudian menyatu dan membentuk Paguyuban Purworejo Thrift Market sekitar awal tahun 2020 atau bertepatan dengan munculnya pandemi Covid-19. Gencarnya promosi dan penjualan secara digital atau online membuat pasar thrifting kian melejit.

“Sejak saat itu sampai sekarang, tren trift ini memang semakin naik. Tidak hanya anak-anak muda, kalangan orang tua pun mulai menggemari,” ungkapnya.

Salah satu pengunjung asal Kecamatan Lonao, Dida Arnessia Putri (23), menyebut bahwa banyaknya produk branded yang ditawarkan membuat pengunjung lebih leluasa memilih dan membeli. Apalagi, kendati produk bekas, seluruhnya masih tampak berkualitas.

“Semuanya impor dan branded. Produk-produknya juga sudah dilaundry bersih sehingga tidak kelihatan bekas,” ujarnya. (dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini