- iklan atas berita -

 

Metro Times (Surabaya) — Umahat Pengajian Jl. Dr. Soetomo 83 Surabaya mempunyai agenda tetap bakti sosial terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Yang bermula dari Diana Hanindio anak ke 4 dari Ibu Soebadi, pendiri Umahat Pengajian Jl. Dr. Soetomo 83 mengadakan PKMRS (Pendidikan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit) RS Budi Mulia (sekarang Siloam) yang setiap bulan mengundang masyarakat sekitar, antara lain dari sekolah-sekolah sekitar diundang, membahas salah satu topiknya mengenai HIV AIDS.

Diana Hanindio mengatakan, saat kegiatan PKMRS mengenai HIV AIDS saya konsultasi dengan suami, akhirnya mengundang bu Vera dengan anak-anak asuhnya dari Yayasan Abdi Asih. Bu Vera membawa contoh penderita HIV AIDS yang mantan WTS Dolly yang sudah sembuh. Kemudian mendapat pendidikan keahlian menjahit dari bu Vera.

“Saat Bu Vera cerita kalau sekarang juga mengasuh anak-anak penderita HIV AIDS, dimana tidak ada bantuan dari pemerintah berupa dana. Jadi saya bilang kalau bu Vera butuh apa-apa tolong beritahu saya. Kita bantu semampu kita,” jelas Diana.

ads

Lanjutnya Diana menjelaskan, setelah saya pensiun saya bergabung dengan Umahat Pengajian Jl. Dr. Soetomo 83 Surabaya. Saya shareing dengan ibu-ibu dan menanyakan bagaimana kalau kita memberi bantuan kepada Yayasan Abdi Asih yang mengurusi anak-anak terlantar akibat terjangkit HIV AIDS dari orang tuanya ? Dan saya mengundang bu Vera untuk presentasi dihadapan ibu-ibu pengajian, kemudian sejak saat itu kita rutin membantu Yayasan Abdi Asih.

 

Di Umahat Pengajian Jl. Dr. Soetomo 83 Surabaya ada dua kaleng infaq, yang satu untuk Abdi Asih, dan yang satunya lagi untuk bantuan sosial lainnya.

Didy Zainuddin anak ke 2 dari Ibu Soebadi, pendiri Umahat Pengajian Jl. Dr. Soetomo 83, menambahkan, kami berharapan ibu Vera bisa tetap merawat anak-anak yang tidak berdosa ini, karena mereka diterlantarkan karena orang tuanya telah meninggal akibat HIV AIDS. Dan soalnya merawat itu tidak pada saat sakit saja, tapi sampai pada pemakaman. Terkadang dari RSUD Dr Soetomo kalau tidak sanggup mengasuh maka di taruh di Yayasan Abdi Asih ini untuk merawat dan mengasuh.

“Kami juga menghimbau agar bantuan kepada Yayasan Abdi Asih ini lebih luas dari para donatur lainnya. Syukur alhamdulillah kalau pemerintah mau melihat dan membantu yayasan ini, karena kalau dilihat sangat kasihan sekali,” ungkap Didy haru.

Drg. Bagus Soebadi mengatakan, Pemerintah sudah membantu dalam hal pengobatan, tetapi obat itu hanya untuk orang tua aja, sedangkan anak-anak kecil ini yang terlantar, tidak sanggup dari Rumah sakit untuk memelihara anak-anak ini.

Menurut Drg. Bagus, kebanyakan anak-anak itu diketahui HIV pada tahap akhir, jadi tidak pada infeksi HIV tapi sudah AIDSnya itu. Semua gejala penyakitnya sudah menjadi satu sehingga sudah tahap AIDS, sudah tahap terminal. Akhirnya tinggal menunggu ajal, tapi yang paling bagus yaitu sedini mungkin dirawat.

Mulily Sulistiyowati Pengasuh Yayasan Abdi Asih yang akrab di sapa bu Vera mengatakan, kami tidak pernah mendapat sesuatu dari pemerintah, kecuali dari masyarakat yang sering membantu itu dari ibu-ibu pengajian Dr Soetomo 83 itu, tapi khususnya juga bu Diana dan pak Nandio sejak puluhan tahun.

“Saya berterimakasih kapada ibu-ibu pengajian yang ada di sana. Kami sangat-sangat bersyukur dengan adanya kunjungan, kemudian kami sering diundang ke pengajian dan ibu-ibu pengajian membeli hasil kerajinan anak-anak,” kata bu Vera.

Saya jujur tidak pernah membuat proposal untuk minta bantuan kepada pemerintah. Lanjut bu Vera mengutarakan, bahwa jumlah anak yang ditampung di Yayasan Abdi Asih ada lima, tetapi yang diluar sana seperti dikoskan juga ada, jadi ada 48 di dalam lindungan Abdi Asih. Kalau anaknya yang meninggal duluan tidak masalah, tapi kalau ibunya yang meninggal duluan itu anaknya akan di tampung. Ada yang baru lahir dua minggu, seminggu, tiga hari dibawa kesini. Yang terbesar umur 11 tahun ke atas, tapi sudah masuk ke saraf.

“Harapan saya semoga masyarakat tidak selalu mengucilkan teman-teman ini. Apapun kondisinya itu AIDS tidak menularkan penyakit-penyakit yang mudah menular kecuali hubungan sek itu aja. Kami selalu diusir oleh masyarakat ketika mereka tahu, saya pun tinggal di sini diusir, tapi yang punya rumah lebih kuat untuk membela saya,” keluhnya.

“Ada yang kita makamkan itu tidak boleh dikubur di tempat umum, harus di tempat Mr. X, padahal ini anak umur tiga bulan. Yang melarang aparat di makam. Kadang mayat yang kecil, kita gendong aja pakai sepeda motor ke Kuburan Mr. X. Masyarakat tidak banyak yang peduli, sementara mereka terkucil,” pungkas bu Vera. (nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!