Metro Times (Jakarta) Perusahaan milik Pemerintah Provinsi Jakarta, PT Ancol Pembangunan Jaya Ancol Tbk, berada di ujung tanduk. Kondisi itu dikatenakan ancol harus menanggung kerugian sebanyak ratusan miliar. Hal ini pun memicu komentar netizen.

MLT: “Kerjanya maen twitter pantas ancol rugi.”

Ronaldmen Sitanggang: “Yang aneh, masa pendapatan utamanya cuma dari tiket masuk? Sama kaya toilet umum dong? Neh komisaris ngapain aja yah?”

Pada 2020 pendapatan Ancol berkurang sekitar Rp944 miliar atau sekitar 69,51 persen dari pendapatan 2019. Pada laporan tersebut juga tercatat Ancol rugi sebesar Rp392,83 miliar, berbanding terbalik dengan tahun 2019 yang untung sebesar Rp230,42 miliar.

Data tersebut dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (2/6). Dalam laporan, pendapatan usaha Ancol pada 2020 tercatat sebesar Rp414,17 miliar.

Adapun pendapatan tahun sebelumnya sebesar Rp1,35 triliun, dengan rugi per saham dasar Rp246.

Manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol menyebut, pandemi Covid-19 pada 2020 berpengaruh signifikan terhadap bisnis dan kelangsungan usaha mereka.

“Meskipun gangguan ini diperkirakan hanya bersifat sementara, namun terdapat ketidakpastian yang cukup tinggi terkait luas dampaknya terhadap operasi dan kinerja keuangan grup, saat ini dampak signifikan adalah menurunnya jumlah pengunjung akibat adanya pembatasan kuota kunjungan per hari yang tercermin dari penurunan pendapatan tiket,” tulis manajemen dalam laporan keuangan 2020.

Pendapatan Tiket dari Wahana Wisata pada 2020 sebesar Rp169.449.811.593, tidak sebanding dengan pendapatan tiket pada 2019 sebesar Rp644.248.529.282.

Pendapatan dari Pintu Gerbang tahun 2020 yakni Rp70.352.714.519 juga tidak sebanding dengan 2019 sebesar Rp332.027.226.961.

Sementara pendapatan Hotel dan Restoran pada 2020 sebesar Rp35.644.193.144, tidak sebanding juga dengan pendapatan pada 2019 sebesar Rp102.624.847.909.

Pengamat Kebijakan Publik, Amir Hamzah menilai, BUMD yang merugi dan hanya menjadi beban sebaiknya dilakukan evaluasi.

“Direksi dan komisaris itu harus kreatif dan lincah. Kalau tidak mampu ya copot sajalah,” ujarnya di acara Kongkow Anak Jakarta ‘Membedah Borok BUMD’ di Johar Baru, Jakpus, Rabu (2/6).

Amir menyatakan, BUMD jangan lagi menjadi beban Anies Baswedan.

“BUMD itu ya harus menjadi penopang ekonomi warga Jakarta, masa hanya berharap PMD saja,” tegasnya dikutip dari Radarnonstop.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini