- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Pesta demokrasi harus ditanamkan sejak usia dini. Seperti yang dilakukan SD Al Falah Surabaya tersebut mengajarkan pesta demokrasi sekaligus menanamkan pendidikan karakter, melalui edukasi pemilihan umum (Pemilu) di Sekolah SD Al Falah Surabaya, Jumat (25/11/2022).

Kepala Sekolah SD Al Falah Surabaya Ustadzah Yuni Wahida menuturkan, anak-anak sedang menyelesaikan proyek kepemimpinan. Kemudian agar anak-anak ini bisa memahami secara langsung pesta demokrasi di Indonesia, maka dibuat kegiatan pemilihan umum (Pemilu) pada umumnya.

“Pemilu merupakan puncak kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Sebagai salah satu upaya untuk membentuk karakter siswa,” ungkapnya.

“Pembiasaan karakter sangat penting ditanamkan pada siswa. Hilangnya hafalan adalah hal lumrah. Namun kehilangan karakter, adalah kemiskinan yang nyata. Nah, pembiasaan dan pembentukan karakter bagi anak-anak ini, membutuhkan waktu yang cukup lama dan konsisten,” terangnya.

Persiapan pemilu diawali dengan memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Para capres-cawapres diberi kesempatan berkampanye, layaknya pemilu sungguhan. Dilengkapi penyampaian tata cara pemilihan. Tidak ketinggalan, fasilitas yang luar biasa yang hampir mirip pemilu. Berupa penyediaan bilik suara, surat suara, hingga kotak suara.

“Termasuk kami menyediakan tinta celup jari. Bagi yang sudah memilih, langsung dicelupkan jarinya ke tinta. Sebagai bukti sah sudah memilih,” ujarnya.

Yuni melanjutkan, awal mengadakan pemilihan kandidat Capres dan Cawapres di kelas masing-masing, yaitu kelas 6 A, 6 B, 6 C, dan 6D, karena kegiatan ini hanya diikuti siswa kelas 6. Setelah itu diambil suara terbanyak dulu di kelasnya masing-masing, mencalonkan satu pasang calon. Jadi setiap kelas 6 A sampai 6 D ada satu pasangan calon.

“Sebelum memilih satu pasang calon presiden, terlebih dahulu pembentukan KPU, karena KPU yang menyelenggarakan dan mengatur pemilu. KPU ini yang mengurusi tentang pendataan calon peserta,” jelasnya.

Kemudian setelah ada Capres dan Cawapres, maka Capres boleh membentuk tim sukses dari teman-teman sekelas, anak kelas 6.

Kemudian setelah ada terbentuk Capres dan Cawapres di kelasnya masing-masing. Dan pasangan Capres dan Cawapres berkampanye ke kelas-kelas, dari kelas 1 sampai kelas 5.
Berikutnya, setelah itu KPU membagikan undangan untuk pencoblosan, berikutnya KPU juga yang membuat lembar/kertas suaranya dan semuanya oleh tim KPU.

“Kegiatan pemilu ini untuk menyiapkan siswa menjadi pemimpin di masa mendatang. Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam, namun juga di luar kelas. Termasuk pembelajaran demokrasi,” tegasnya.

“Di tahap ini, mereka akan berlatih dan memahami tugas sebagai pemimpin. Supaya kelak anak-anak menjadi pemimpin yang amanah, jujur, dan dapat dipercaya,” paparnya.

Setelah kegiatan pemilu ini, diharapkan siswa menjadi pemimpin di internal kelas. Sekaligus mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila. “Ke depan, semoga kami dapat melahirkan generasi yang bersinergi, amanah, sidiq, tabligh, dan fathonah,” tutupnya. (nald )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini