MetroTimes (Mojokerto) – Hutan memainkan peran penting dalam kehidupan di planet bumi. Namun, belakangan ini perusakan hutan terjadi dengan skala yang lebih besar dan juga lebih cepat.

Lions Clubs Internasional Indonesia Distrik 307 B2 Joint Activity Environment Wilayah VI Bersama Lintas Agama, LPBI NU Kabupaten Mojokerto, Wihara Buddhayana Mojokerto, dan Gereja Katolik Paroki Santo Yosef Mojokerto, mengadakan Penanaman 1000 Bibit Pohon dan Pelepasan Satwa ke Alam. Yang diadakan pada hari Sabtu, 05 Maret 2022 tempat Venue di Padepokan Wihara Buddhayana Mojokerto, Pimpinan Bhante NayaSila Thera di Hutan Lindung, Pacet, Wet Sendi 3, Gunung Lorokan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur – Indonesia.

Kegiatan diawali dengan upacara bendera yang diikuti oleh seluruh anggota Lions Clubs Internasional Indonesia, kemudian Bhante NayaSila Thera perwakilan agama Buddha dan juga sebagai tuan rumah, Romo RD Fransiskus Xaverius Prathama Adi perwakilan dari agama Katolik dan juga LPBI NU Kabupaten Mojokerto sebagai perwakilan agama Islam.

Setelah upacara bendera, kegiatan dilanjutkan dengan memberikan bibit pohon yang akan ditanam, kepada setiap perwakilan yang hadir.

Ketua Wilayah Lions Clubs Internasional Indonesia Distrik 307 B2, Maria K. Andriana menyampaikan, Lions Clubs Internasional mempunyai 5 (lima) program pokok yang harus dijalankan oleh setiap Club dan ini di seluruh dunia, yang salah satunya Environment lingkungan hidup. Jadi setiap Club itu mempunyai program sendiri-sendiri yang intinya kita ini harus merawat bumi.

Ia melanjutkan, Contoh salah satu misalnya Lions Club Srikandi yang home Club saya dan kebetulan sejak 2012 saya yang pegang atau Presidennya, itu kita memberi penyuluhan mengenai pemakaian kantong plastik agar dikurangi, dan bagaimana kita menghemat air.

Kita pergi ke sekolah-sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang air, tentang bahayanya kantong plastik, dan kita juga masuk ke kegiatan ibu-ibu PKK agar kita bisa memberikan penyuluhan, bahkan kita terjun ke pasar-pasar.

“Kegiatan penanaman 1000 pohon
kali ini dengan Project Officernya Anam dari Lions Club Mojokerto Mojopahit Host, dan kita bekerjasama dengan lintas agama untuk membuat program menanam 1000 pohon, diantaranya durian, rambutan, matoah, dan trembesi. Dan kita juga bekerjasama dengan Perhutani,” terang Maria K. Andriana disela-sela acara penanaman pohon dan pelepasan satwa.

Ia juga menuturkan, kita menanam 1000 pohon pada giat siang ini secara simbolik, karena yang hadir para senior sehingga kami mempekerjakan orang lain untuk menanam pohon. Kita berharap masyarakat bisa menangkap pesan dari kami bahwa kita harus merawat bumi, yang dimulai dari hal-hal kecil, menanam pohon dulu.

Banyak pohon-pohon ditebang sekarang ini, dan kadang-kadang ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pengusaha yang punya hak untuk mengelola hutan, habis ditebang ditinggal.

Jadi secara tidak langsung Lions Club mengambil langkah kecil, memberi contoh bagaimana merawat bumi, merawat hutan kita supaya lestari dan anak cucu kita betul-betul menerima dampaknya dengan baik.

“Anak-anak muda NU (LPBI NU Kabupaten Mojokerto) terlibat menanam 1000 pohon dengan tujuan khusus untuk kaum mileneal agar pesan merawat bumi tersampaikan ke anak-anak muda,” tegasnya.

“Program yang kita buat ini bukan hanya lingkungan hidup, tapi pesan penting yang ingin kita sampaikan, bahwa perbedaan, keberagaman itu harus kita rawat dengan hal-hal yang paling kecil. Kerjasama seperti ini penting sekali, karena kita ketahui masih banyak yang miscommunication mengenai agama, ras itu kadang-kadang ada sekelompok kecil masyarakat yang terlalu mempermasalahkan, tapi dengan hal-hal kecil yang Lions Club buat ini dengan ada yang dari Buddha, Katolik, dan NU. Kita ingin ajak bahwa keberagaman itu perlu dirawat, dipertahankan, dipelihara dengan cara apapun. Hal kecil, tapi kita berharap hal kecil itu akan berdampak hal yang besar dikemudian hari,” ujarnya.

Ketua Panitia Menanam 1000 Pohon, Darmanto Anam Muliawan yang juga sebagai Project Officer Dari Lions Club Mojokerto Mojopahit Host, mengatakan, agenda kami hari ini kegiatan pokok dari Lions Club Internasional, kemudian kami selibkan untuk lintas agama. Tujuan kami supaya gaung ini bisa lebih luas menyampaikan kepada masyarakat pentingnya untuk menjaga lingkungan, dan menjaga silaturahmi antar umat beragama. Lintas agama dalam hal ini NU wakil dari Muslim, kemudian Vihara Buddhayana dari Mojokerto, kemudian dari Katolik Santo Yusuf Mojokerto.

“Harapan kami, supaya ini langkah kecil yang akan bergaung sehingga bisa berkesinambungan, bisa mempengaruhi pada kami dan kepada lingkungan diluar sana,” jelasnya.

Menurut Anam sapaannya, Salah satu acara ini yang kita namakan toleransi antara umat beragama. Bhante ini memiliki satu ritual Pindapata dimana umat diberikan kesempatan untuk melakukan kebajikan kepada bhikkhu sangha yang menjalankan kehidupan suci. Jadi mereka mendapat makanan dari pemberian umat, sehingga toleransi antara umat beragama bisa tercitra, terbentuk dari perilaku tersebut. Bukan hanya umat Buddha saja memberikan dana makan tetapi NU dalam hal ini muslim, kemudian teman-teman Lions Club yang banyak dari Katolik juga, kemudian didampingi oleh Romo.

“Jadi Pindapata ini terbuka oleh umum, seperti halnya sedekah di Islam. Pihak manapun, agama tidak pandang bulu, ras suku dan agama, kita mentoleransi. Sehingga ini yang kita gaungkan agar kehidupan kita bermasyarakat itu tetap terjaga, sehingga tidak ada perpecahan untuk Indonesia yang memang Bhinneka Tunggal Eka,” ujarnya.

Lanjutnya, Setelah ini kita melakukan pelepasan satwa secara simbolis. Jadi kita menggunakan burung, kemarin juga ada katak, hari ini kita melepas ikan lele, dimana maksud dan tujuan itu merupakan melepas ego kita, seperti merusak lingkungan, ego kita untuk bersinggungan antara agama, kita lepas. Jadi simbolisnya demikian.

Maria K. Andriana menambahkan, Jadi ini terlepas dari agama, melepas satwa itu juga salah satu melakukan pelestarian alam. Jadi kita tidak hanya bisanya mengambil-mengambil, tetapi tidak ada kelanjutanya untuk memelihara. Kita tidak hanya mengambil untuk kita makan, tapi untuk kita lestarikan. Jadi benar-benar dari lingkungan hidup, kita melestarikan alam dengan melepas satwa ke alam.

Lanjut Anam, jadi prinsipnya sama halnya menanam pohon. Untuk masyarakat, kami mengharapkan dengan adanya ini lingkungan juga bisa merespon terhadap kegiatan positif ini. Tidak hanya menanam pohon, tetapi menjaga lingkungan agar bersih, tidak menebang pohon sembarangan, tidak buang sampah sembarangan, menjaga kali / sungai, menjaga satwa tidak menembak burung, tidak mengambil apapun yang ada di dalam hutan ini.

“Harapan kami agar kita menjaga bumi, bumi menjaga kita,” tutup Anam. (nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini