
MetroTimes (Surabaya) — Panen raya biasanya menjadi momen paling ditunggu petani. Namun di Banyuwangi, kondisi itu pernah menghadirkan persoalan berbeda misalnya harga buah naga jatuh, hasil panen melimpah tak terserap pasar, dan sebagian buah berakhir menjadi limbah.
Situasi tersebut pertama kali menarik perhatian Ahmad Maulana ketika memutuskan kembali ke kampung halamannya setelah beberapa tahun merantau dan bekerja di Surabaya. Alih-alih bertahan di kota dengan jalur karir yang sudah terbentuk, alumni S1 Ekonomi Islam FEB UNAIR angkatan 2010 itu memilih pulang dan membangun usaha dari desa.
“Desa bukan sekadar tempat pulang, tetapi ruang untuk bertumbuh dan memberi dampak,” ujarnya.
Keputusan tersebut tidak datang tiba-tiba. Selama menjadi mahasiswa FEB UNAIR, Ahmad dikenal aktif di berbagai organisasi, mulai dari HIMA Ekonomi Islam, BEM, AcSES, hingga komunitas penalaran mahasiswa. Ia mengaku lingkungan kampus menjadi tempat yang membentuk cara berpikirnya tentang masyarakat dan kebermanfaatan.
“UNAIR mengajarkan saya untuk tidak hanya mengejar capaian pribadi, tetapi juga melihat persoalan sosial sebagai ruang kontribusi,” ungkapnya.
Perjalanan akademiknya juga terbilang menonjol. Ahmad menempuh pendidikan melalui program Beasiswa Santri Berprestasi yang kini disebut LPDP Santri, membiayai studinya secara penuh. Setelah lulus, ia sempat bekerja di lembaga riset yang menangani berbagai proyek bersama NGO internasional seperti AUSAID.
Namun selepas menikah pada 2020, ia memutuskan kembali ke Banyuwangi. Di sanalah ia melihat persoalan yang selama ini luput diperhatikan seperti overproduksi buah naga tanpa hilirisasi yang kuat membuat petani sulit memperoleh nilai tambah.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Ahmad mendirikan PT Oreng Osing Banyuwangi menggunakan uang mahar pernikahannya sebagai modal awal. Nama “Oreng Osing” sendiri lahir dari perpaduan identitas budaya Madura dan Osing yang melekat dalam kehidupannya.
Perusahaan itu kemudian berkembang menjadi usaha pengolahan hasil pertanian lokal dengan produk khas seperti sale buah naga, keripik buah naga, sale pisang, hingga bagiak khas Banyuwangi. Salah satu inovasi yang membuat usahanya dikenal luas adalah keberhasilannya mengembangkan sale buah naga dimana produk yang saat itu belum banyak dikenal di Indonesia.
“Inovasi kami lahir dari masalah nyata petani. Jadi yang kami pikirkan bukan sekadar menjual produk, tetapi bagaimana hasil panen punya nilai tambah dan tidak terbuang,” tuturnya.
Proses membangun usaha tersebut tidak berjalan instan. Ahmad mengaku harus melewati berbagai eksperimen produksi dan penyesuaian pasar sebelum produknya diterima secara luas. Perlahan, PT Oreng Osing berkembang menjadi tiga lini usaha yang mencakup industri olahan pangan, pusat oleh-oleh, dan layanan digital marketing.
Kini, jaringan distribusi mereka telah menjangkau lebih dari 300 mitra di Jawa Timur, Bali, dan Yogyakarta.
Dampak yang dibangun juga meluas ke sektor pemberdayaan masyarakat. PT Oreng Osing bekerja sama dengan dua kelompok tani yang melibatkan lebih dari 100 petani buah naga dan pisang melalui pola contract farming yang lebih berkeadilan. Selain itu, usaha ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, termasuk perempuan berusia lanjut yang sebelumnya bekerja kasar di kebun.
“Ibu-ibu yang dulu bekerja berat di ladang, sekarang bisa bekerja di ruang produksi dengan kondisi yang lebih layak,” tuturnya.
Aktivitas Ahmad tidak berhenti di bisnis. Ia juga aktif sebagai instruktur pengembangan UMKM, pembicara di berbagai kampus dan instansi, serta memimpin koperasi petani milenial di Banyuwangi.
Atas kiprahnya, Ahmad meraih sejumlah penghargaan seperti Top 20 Nasional Pengusaha Muda BRILiaN 2023, Youngpreneur Pertamina Foundation 2023, Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian, hingga Jagoan Tani Banyuwangi 2024.
Meski begitu, Ahmad tetap memegang prinsip sederhana tentang makna keberhasilan.
“Kesuksesan tidak dinilai dari setinggi apa gelar kita atau kampus asal kita, tetapi dari seberapa besar dampak positif yang bisa dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
(nald)




