
MetroTimes (Surabaya) – Nama Indarto Pamoengkas kini berada di jajaran direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero). Namun jauh sebelum memimpin sektor keuangan salah satu BUMN transportasi terbesar di Indonesia, ia hanyalah mahasiswa tingkat akhir yang memberanikan diri melamar pekerjaan bahkan sebelum ijazahnya selesai.
Tahun 1989, PT Caltex Pacific Indonesia membuka lowongan kerja dengan syarat pelamar harus berstatus sarjana. Saat itu, Indarto yang merupakan mahasiswa Akuntansi FEB UNAIR angkatan 1984 belum resmi lulus. Meski begitu, ia tetap mengirimkan lamaran.
“Saya daftar saja. Saat wawancara saya jujur kalau belum lulus, ternyata tetap diterima,” kenangnya.
Beberapa bulan setelah diterima bekerja, skripsinya dinyatakan lulus. Pengalaman itu menjadi titik awal perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya terhadap karier. Bagi Indarto, keberanian mengambil langkah bukan sekadar tindakan nekat, melainkan bagian dari strategi hidup yang dirancang dengan sadar.
Penempatan kerja di Riau saat bergabung dengan Caltex justru membuka perspektif baru baginya. Ia mulai menyusun arah karir secara jangka panjang, termasuk keberanian untuk berpindah sektor demi mendapatkan ruang berkembang yang lebih luas. Tahun 1991, ia memutuskan pindah ke Bank Bumi Daya yang kemudian merger menjadi Bank Mandiri karena melihat peluang pengembangan karir yang lebih besar.
Perjalanan tersebut perlahan membawanya masuk ke lingkaran BUMN strategis nasional. Pada 2015 hingga 2020, Indarto dipercaya menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Pupuk Indonesia (Persero). Di perusahaan holding pupuk nasional itu, ia dikenal berhasil memperkuat efisiensi keuangan, manajemen risiko, serta tata kelola perusahaan.
Kiprahnya di Pupuk Indonesia turut mengantarkannya menerima penghargaan Best Professional dalam ajang Obsession Awards 2023 yang diselenggarakan Obsession Media Group.
Setelah itu, Indarto kembali mendapat amanah sebagai Direktur Keuangan dan SDM PT LEN Industri (Persero), BUMN yang bergerak di sektor industri pertahanan. Di bawah kepemimpinannya, LEN Industri menjalani berbagai transformasi, mulai dari restrukturisasi keuangan hingga penguatan budaya organisasi yang lebih adaptif dan kolaboratif.
Karier panjang lintas sektor itu akhirnya membawanya ke PT Kereta Api Indonesia (Persero). Pada 12 Agustus 2025, Kementerian BUMN resmi menunjuknya sebagai Direktur Keuangan dan Umum PT KAI. Penunjukan tersebut dinilai menjadi langkah strategis perusahaan dalam memperkuat tata kelola, transformasi keuangan, dan inovasi layanan transportasi publik nasional.
Meski telah menduduki berbagai posisi strategis nasional, Indarto tetap menyimpan perhatian besar terhadap almamaternya. Ia menilai banyak alumni UNAIR memiliki kualitas yang kuat, tetapi masih terlalu nyaman bermain di lingkup yang sempit.
“Jangan hanya berpikir bekerja di daerah sendiri. Harus berani mencoba perusahaan nasional dan keluar dari zona nyaman,” tegasnya.
Menurutnya, keberanian mengambil peluang di luar kota bahkan di level nasional menjadi salah satu faktor penting untuk membangun daya saing alumni. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan jejaring alumni agar posisi UNAIR semakin diperhitungkan secara nasional. “Networking itu penting. Kampus besar tidak hanya dibangun oleh akademiknya, tetapi juga oleh kekuatan alumninya,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong FEB UNAIR menghadirkan lebih banyak kelas inspiratif dan forum yang mempertemukan mahasiswa dengan alumni profesional secara rutin. Baginya, pengalaman nyata dari para alumni dapat membuka perspektif mahasiswa tentang dunia kerja yang lebih luas.
Di tengah kesibukannya memimpin perusahaan strategis negara, Indarto tetap menjaga sisi sederhana dalam hidupnya. Sejak 2003, ia rutin berkebun di kawasan Tapos, Bogor. Manggis, durian, cabai, hingga sawi ia rawat sendiri sebagai ruang refleksi di tengah ritme korporasi yang cepat.
“Manusia bisa menciptakan pesawat atau satelit, tapi tidak bisa menciptakan selembar daun,” pungkasnya.
(nald)




