- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Riuh aktivitas pelabuhan di Jawa Timur tidak hanya soal bongkar muat barang, tetapi bagaimana sebuah sistem besar dapat bekerja dengan presisi. Di balik ritme itu, ada kepemimpinan yang memastikan setiap proses berjalan tanpa celah. Di titik inilah nama Wahyu Widodo mengambil peran.

Alumni FEB Universitas Airlangga angkatan 1993 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Terminal Petikemas Surabaya sejak 2023. Ia memegang kendali pada salah satu simpul penting logistik nasional, dengan fokus utama menjaga kinerja operasional tetap optimal dan berdaya saing.

Bagi Wahyu, keberhasilan terminal pelabuhan tidak ditentukan oleh satu aspek tunggal. Ia menekankan pentingnya perencanaan yang matang, optimalisasi proses bisnis, serta pengelolaan investasi yang tepat mulai dari fasilitas hingga keandalan peralatan. Di saat yang sama, penguatan kapasitas talenta menjadi fondasi agar sistem dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Layanan yang unggul hanya bisa tercapai jika seluruh elemen bekerja selaras, pekerja, pelanggan, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

ads

Perjalanan Wahyu tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia memulai karier di lingkungan Pelindo sejak 1999, berangkat dari latar belakang akuntansi. Pengalaman panjangnya ditempa melalui berbagai peran strategis, mulai dari bidang keuangan, investasi, teknologi informasi, hingga pengelolaan sumber daya manusia.

Lintas industri juga menjadi bagian dari pembentukannya. Ia pernah menduduki posisi direksi di sejumlah entitas Pelindo, mulai dari sektor pelabuhan, kawasan industri, hingga layanan kesehatan. Setiap fase tersebut membentuk perspektif yang lebih luas tentang bagaimana organisasi bertumbuh di tengah dinamika industri.

Titik balik penting terjadi saat ia dipercaya memimpin sebagai direksi di beberapa entitas. Pada fase itulah, Wahyu menyadari bahwa tantangan utama tidak berhenti pada pencapaian finansial. Melainkan ada kebutuhan untuk mempercepat transformasi proses bisnis, memperkuat tata kelola, serta membangun kolaborasi lintas fungsi yang solid.

“Menjaga kinerja itu penting, tetapi memastikan keberlanjutan jauh lebih krusial,” jelasnya.

Nilai hidup yang ia pegang berakar dari perjalanan yang tidak selalu mudah. Ia mengakui, proses panjang yang dilaluinya dibentuk oleh prinsip-prinsip sederhana seperti integritas, komitmen, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kerendahan hati untuk terus belajar.

“Karier seharusnya memberi manfaat. Bagaimana organisasi yang kita pimpin bisa menjadi lebih baik dan memberi kontribusi nyata bagi banyak orang,” tuturnya.

Di bawah kepemimpinannya, PT Terminal Petikemas Surabaya mencatatkan capaian signifikan. Pada 2024, perusahaan ini berhasil menjadi entitas terbaik di lingkungan Pelindo, sekaligus mencatatkan kinerja tertinggi sepanjang 25 tahun berdiri, baik dari sisi operasional maupun keuangan.

Keberhasilan itu tidak lepas dari pendekatan kolaboratif yang ia bangun. Wahyu memandang jejaring profesional bukan sekadar relasi, tetapi ruang untuk menciptakan solusi bersama. “Jejaring adalah cara kita mempercepat perbaikan, membuka peluang, dan menciptakan nilai yang lebih luas,” ujarnya.

Sebagai alumni FEB UNAIR, Wahyu turut membuka ruang kontribusi bagi almamaternya. Ia aktif dalam forum diskusi, berbagi pengalaman, hingga memberikan pendampingan informal bagi mahasiswa dan alumni yang ingin memahami dinamika dunia kerja. “Kesuksesan sejati bukan diukur dari sejauh mana kita melangkah sendiri, tetapi dari seberapa banyak orang yang bisa kita dorong untuk bertumbuh bersama,” pungkasnya.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!