
METROTIMES ( Ambon ) atap seng yang memantulkan terik matahari Bogor, Pasar Baranangsiang bukan sekadar tempat pertukaran rupiah dan komoditas.
Ia adalah sebuah mikrokosmos Indonesia, Di sini, aroma kencur beradu dengan bau amis ikan asin, dan suara tawar-menawar dalam berbagai dialek menciptakan simfoni keberagaman yang organik. Namun, di balik riuhnya transaksi, tersimpan sebuah narasi penting tentang ketahanan sebuah bangsa melawan virus yang lebih mematikan dari pandemi mana pun: radikalisme dan provokasi.
Hal ini secara terang di sampaikan Lettu Joel Wakanno STR. Han. MH kepada sejumlah media di Bogor” Bagi pengunjung sekilas, Pasar Baru mungkin tampak semrawut. Ucapnya
Namun bagi mereka yang hidup di dalamnya, ada hukum tak tertulis yang menjaga harmoni, Di sebuah sudut, Koh Ahian, seorang pedagang kelontong yang telah menetap selama tiga dekade, berbagi ruang dinding dengan Bang Ucok, penjual kopi di sebelahnya.
Kami tidak punya waktu untuk membenci, ujar Koh Ahian sambil menata tumpukan kaleng susu.
Kalau saya sakit, Bang Ucok yang menjaga toko saya. Kalau dia butuh modal kecil, saya ada. Di sini, agama dan suku itu urusan rumah masing-masing. Di pasar, urusan kita adalah perut dan persaudaraan.
Sentimen ini bukan tanpa tantangan, Di era digital, gawai di tangan para pedagang seringkali menjadi pintu masuk bagi narasi-narasi kebencian.
Video pendek yang dipotong-potong, pesan berantai yang membakar amarah, hingga ajakan untuk memusuhi sesama warga negara karena perbedaan keyakinan kini menghantui layar seorang tokoh masyarakat yang dihormati dan sering menjadi penengah konflik kecil di pasar, mengamati fenomena ini dengan tatapan prihatin namun waspada.
Duduk di sebuah bangku kayu usang, ia menjelaskan bahwa provokasi adalah rayap yang memakan tiang penyangga rumah besar bernama Indonesia.
Radikalisme itu bermula dari hati yang tertutup dan telinga yang hanya mau mendengar satu nada, tutur Bapak Alif dengan suara rendah namun tegas.
Mereka yang ingin memecah belah kita biasanya datang dengan kata-kata manis atas nama kebenaran, padahal tujuannya adalah menciptakan abu dari pembakaran persaudaraan kita.
Bapak Alif menekankan bahwa menjaga persatuan di tingkat akar rumput adalah bentuk jihad yang sesungguhnya di masa modern.
Ia seringkali berkeliling, sekadar untuk mengingatkan para pedagang muda agar tidak mudah “tersulut” oleh informasi yang belum jelas sanadnya.
Dalam diskusi santai di pelataran pasar, Bapak Alif menyampaikan pesan yang lugas bagi seluruh elemen masyarakat, yaitu :
Jangan biarkan jari kita menjadi alat penyebar kebencian.
Jika sebuah berita membuat kita ingin membenci saudara sendiri, hampir dipastikan itu adalah racun.
Di pasar ini, kita melihat manusia yang sama-sama berjuang untuk keluarga.
Jangan ganti wajah saudara kita dengan label-label politik atau agama yang memisahkan.
Provokasi hanya akan berhenti jika tidak ada yang menggubrisnya. Jadilah air saat api kebencian mulai dipantik.
Saat matahari mulai condong ke barat di Kota Hujan, aktivitas di Pasar Baru tidak lantas meredup. Kebersamaan mereka adalah bukti hidup bahwa perbedaan bukanlah celah untuk retak, melainkan serat yang memperkuat tenunan kebangsaan.
Radikalisme dan ujaran kebencian mungkin akan terus mencoba menyusup lewat celah-celah ketidaktahuan.
Namun, selama masih ada sosok seperti Bapak Alif dan semangat gotong royong para pedagang di Pasar Baru, Indonesia akan tetap berdiri tegak.
Persatuan bukanlah sebuah hasil akhir, melainkan sebuah kerja keras yang harus terus diupayakan setiap hari, di setiap sudut pasar, dan di setiap detak jantung warganya.
Karena pada akhirnya, saat api provokasi padam, yang tersisa hanyalah kita Satu bangsa, di bawah langit yang sama. (V374)




