
MetroTimes (Surabaya) – Etnura Fashion Festival (EFF) 2026 kembali digelar sebagai ruang kolaborasi antara desainer, pelaku UMKM, serta talenta disabilitas untuk memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara, khususnya dari Jawa Timur. Kegiatan ini menampilkan 27 desainer yang menghadirkan karya berbasis batik dan tenun sebagai bentuk dukungan terhadap produk lokal agar semakin dikenal hingga ke tingkat internasional.

Yussi Martha Ketua atau Chairwoman dari Asosiasi Etnik Nusantara (Etnura) Jawa Timur, menjelaskan bahwa konsep yang diusung dalam pergelaran tahun ini merupakan perpaduan antara batik dan tenun yang dikemas dalam karya kreatif para desainer. Melalui pendekatan tersebut, Etnura ingin mengangkat potensi wastra daerah sekaligus memperkuat peran UMKM dalam industri fesyen.
“Kami menekankan kepada seluruh desainer untuk menggunakan produk UMKM berupa batik dan tenun, sehingga karya teman-teman bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat bahkan sampai ke ajang internasional,” ujarnya.
Tidak hanya menampilkan karya desainer profesional, Etnura juga menghadirkan penampilan adik-adik disabilitas binaan yang telah didampingi selama empat tahun terakhir. Melalui pelatihan rutin, mereka dibekali kemampuan berkarya hingga berjalan di atas panggung peragaan busana.
Menurut Yussi, kolaborasi dengan Kementerian Sosial turut membuka ruang bagi karya disabilitas untuk dipadukan dengan rancangan para desainer menjadi busana yang memiliki nilai artistik tinggi. Dalam pergelaran ini, para peserta disabilitas tampil mengenakan hasil karya mereka sendiri, termasuk dari penyandang tuli, bisu, hingga pengguna kursi roda.
“Penampilan mereka luar biasa. Walaupun tanpa latihan khusus menjelang acara, mereka sudah terbiasa karena sering mengikuti pelatihan catwalk. Kami ingin mereka percaya diri dan mampu tampil seperti model pada umumnya,” katanya.
Ia menegaskan, Etnura bukan sekadar asosiasi fesyen, tetapi juga wadah kepedulian sosial yang berupaya terus mendampingi dan memberdayakan penyandang disabilitas agar mendapatkan ruang berekspresi dan kesempatan berkarya.
Penyelenggaraan EFF 2026 juga melibatkan kolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) serta dukungan dari perangkat daerah di Provinsi Jawa Timur, guna memperluas perhatian terhadap desainer dan pelaku UMKM fesyen lokal.
Meski dipersiapkan dalam waktu sekitar dua bulan, Yussi menyebut pelaksanaan acara berjalan lancar tanpa kendala berarti dari hari pertama hingga penutupan. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya pergelaran, termasuk mitra yang selama ini konsisten memberikan dukungan.
Melalui Etnura Fashion Festival, diharapkan sinergi antara desainer, UMKM, pemerintah, dan komunitas disabilitas dapat terus terjalin, sehingga karya wastra Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing di panggung dunia.
(nald)





