- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Setelah diguyur hujan selama berjam-jam Desa Kalijering Kecamatan Pituruh pada, Selasa (13/11) sore sekitar pukul 15.00 wib. Tebing setinggi 18 hingga 20 meter itu ambrol dan menimpa rumah warga. Meski tidak ada korban jiwa, kejadian ini menyebabkan delapan rumah warga rusak dan 9 jiwa terpaksa mengungsi, sementara kerugian ditaksir mencapai ratusan juta.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo, delapan rumah yang rusak yakni milik Budi (60), Mangin, dan Misran di Dusun Gupit, rumah milik Adi Waluyo (75) di Dusun Kaliduren, serta rumah milik Niyem (70), Senin (40), Kliwon (55), dan Bawon (55) di Dusun Pencil.

Kerusakan terparah terjadi pada rumah Budi yang terkena material longsoran dari tebing depan rumah sehingga roboh 90% dan harus dibongkar. Longsor tebing setinggi 20 meter dengan panjang sekitar 50 meter ini juga mengakibatkan rumah yang ada di atasnya, milik Mangin yang sedang di perantauan, mengalami kerusakan di bagian dapur akibat longsor.

Sementara rumah Adi Waluyo seluruh tembok bagian belakang sepanjang 13 meter jebol dan sebagian atap rusak tertimpa material longsor dari tebing belakang rumah setinggi 9 meter. Kerusakan rumah warga lainnya relatif ringan.

ads

Sebelum kejadian, hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 13.00 dan berlangsung hingga pukul 18.30. Tak kuat menahan air hujan, tebing di beberapa lokasi longsor sekitar pukul 16.00 wib.

“Saya sedang tidur di kamar. Tiba-tiba ada suara brug, saya kaget, langsung lari ke tempat tetangga. Begitu saya keluar, pintu langsung ketutup longsoran. Alhamdulillah saya langsung keluar,” ungkap Adi Waluyo, Rabu (14/11) pagi. Iya  tinggal di rumah itu seorang diri sementara sang istri tinggal di rumah lama.

Akibat perstiwa ini kerugian ditaksir sekitar Rp 22 juta. Selain tembok jebol, sebagian perabot dan perkakas rumah juga rusak. Untuk sementara Adi harus mengungsi ke rumah lama. Sedangkan Budi mengaku saat kejadian sedang duduk-duduk di teras rumah bersama sang istri. Kemudian mulai terlihat tanda-tanda tebing di depan rumahnya akan longsor.

“Pertamanya keluar air, kemudian batu-batu runtuh, dan tebing longsor, kejadiannya pelan. Saya sempat tolong-tolong tapi karena hujan deras tidak ada tetangga yang dengar, kemudian saya berusaha menyelamatkan barang-barang berharga,” katanya.

Material longsoran itu mengenai rumah joglo dari kayu miliknya sehingga roboh 90% dan harus dibongkar. Selain itu sepeda motor Honda Grand yang ada di teras juga sempat tertimbun dan rusak. Peralatan elektronik dan perabot juga rusak. Kerugian ditaksir Rp 70 juta. Budi dan istrinya terpaksa mengungsi ke rumah tetangga.

TNI dan Polri serta relawan bersama warga gotong royong membersihkan meterial longsoran dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan di dua lokasi tersebut, Rabu (14/11). Kapolsek Pituruh, AKP Junani Jumantoro, memperkirakan total kerugian akibat bencana longsor ini ditaksir sekitar Rp 200 juta. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada musim penghujan ini.

Sementara Anggota DPRD Purworejo, Ngadianto, yang datang ke lokasi mendorong pemerintah desa agar mengupayakan bantuan untuk perbaikan rumah warga yang rusak. Menurutnya, ada bantuan material siap pakai yang bisa diakses di BPBD. Selain itu pemerintah desa juga bisa mengusulkan dana hibah tidak direncanakan untuk perbaikan rumah yang besarannya Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Dia sempat mengaku kecewa dengan BPBD karena dinilai lamban.

“Ini sampai sekarang (sekitar pukul 10.00) dari BPBD belum datang. Harusnya BPBD sigap 24 jam. Begitu ada kejadian langsung melakukan assessment,” katanya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Purworejo, Sutrisno mengungkapkan, pihaknya telah melakukan assessment di lokasi kejadian dan mengirimkan bantuan logistik. Upaya penanganan darurat berupa gotong royong warga bersama aparat desa juga telah dilakukan.

Ada lima orang yang mengungsi di tempat saudaranya,” ungkapnya. (Daniel)