
Metro Times (Semarang) Menteri Ketenagakerjaan RI, Muhammad Hanif Dhakiri, pamerkan keberhasilan BLK Semarang yang selama ini dikesankan ndeso, dengan keahlian kejuruan menjahit, sudah bisa diubah menjadi lebih bagus, modern dan disukai generasi milenial. Hal itu dikatakannya, berkat tangan kreatif desainer kondang tanah air Lisa Fitria, yang dimintanya atas rekomendasi kenalannya, Primadi.
Hal itu disampaikan Hanif dalam acara “Workshop fashion pelatihan berbasis kompetensi sekaligus penandatanganan kerjasama antara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dengan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang” pada Selasa (26/2/2019).
Menurutnya, industri fashion merupakan industri yang sangat besar dan penting bagi Indonesia, bahkan dikatakannya, dari 16 subsektor bidang ekonomi kreatif, industri fashion menempati urutan ketiga, setelah kuliner, dan seni kriya atau kerajinan tangan.
“Pertumbuhan ekspor fashion kita besar, angkanya sekitar 8,7 persen , jadi industri fashion juga menjadi penghasil devisa negara, kalau tidak salah angkanya 8,2milar USD atau setara dengan Rp 122 triliun untuk tahun 2018,”sebutnya.
Sedangkan disela-sela acara, Human Capital Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Tri Wasono Sunu, mengatakan, kerjasama tersebut terkait dengan program pelatihan berbasis kompetensi. Menurutnya, program pelatihan itu telah dijalankan sebanyak empat batch dengan jumlah peserta 64 orang, untuk jabatan member relation officer (MRO).
Sedangkan pada tahun 2019 ini, ia menyampaikan, akan kembali melakukan pelatihan berbasis kompetensi sebanyak enam batch dengan jumlah peserta 96 orang untuk jabatan MRO dan store crew.
“Dalam pelatihan ini bentuknya merupakan kolaborasi antara Alfamart dan BBPLK. Semua proses dijalankan secara bersama-sama. Mulai dari proses seleksi hingga training,” kata Tri Wasono Sunu.
Dijelaskannya, keunikan proses kerjasama ini setiap peserta yang mengikuti pelatihan, maka sudah dipastikan akan menjadi karyawan Alfamart. Sedangkan, peserta pelatihan sendiri bersumber dari cabang-cabang Alfamart yang ada di seluruh Indonesia, dengan proses seleksi yang dilakukan sebelum diberangkatkan ke Semarang. Ia juga berharap melalui kolaborasi pelatihan tersebut mampu menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
“Tujuan pelatihan ini diharapkan karyawan baru sudah lebih siap secara kompetensi baik soft skill maupun technical skill,” jelasnya.
Sementara itu, Sekda Provinsi Jateng, Dr Sri Puryono, mengklaim, sudah berupaya dalam meningkatkan daya saing mengatasi pengangguran tersebut yakni, dengan menambah pelatihan kejuruan pelatihan yang dibutuhkan dunia usaha saat ini, seperti jasa perhotelan, baik pemandu kepariwisataan dan bahasa asing, kemudian kerjasama dengan asosiasi pelatihan dan penambahan sarana dan prasarana. Selain itu, refitalisasi BLK, serta penyediaan infrastruktur kerjasama dengan asosiasi dan praktisi.
“Berbicara tentang ketenagakerjaan di Jateng penganguran kurang lebih ada 680.000 orang yang masih menganggur,”kata Sri Puryono, dalam sambutannya, mewakili Gubernur Jateng. (jon/dnl)





