
MetroTimes (Surabaya) – Mayoritas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Indonesia ternyata masih berada di tahap awal dan rentan salah langkah. Riset terbaru yang dirilis Polytron bersama Populix mengungkap, 80 persen UMKM masih berstatus perintis, dengan berbagai tantangan mendasar yang kerap tidak disadari pelaku usaha.
Temuan ini tertuang dalam “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” yang diluncurkan dalam pelatihan UMKM di Surabaya, Kamis (9/4). Riset tersebut membongkar sejumlah pola pikir keliru yang selama ini justru menghambat pertumbuhan usaha, terutama di sektor kuliner yang sangat kompetitif.

Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, menegaskan bahwa banyak UMKM gagal berkembang bukan karena kurang peluang, melainkan karena keputusan bisnis yang tidak berbasis data.
“Banyak pelaku usaha masih mengandalkan intuisi. Padahal tanpa sistem, tanpa pencatatan, dan tanpa strategi yang tepat, usaha akan sulit naik kelas,” ujarnya.
Didominasi Anak Muda, Tapi Rentan Finansial
Riset menunjukkan 65 persen pelaku UMKM berasal dari Gen Z dan milenial, mencerminkan tingginya minat generasi muda terhadap kewirausahaan. Namun di sisi lain, fondasi bisnis mereka masih rapuh.
Sebanyak 63 persen pelaku usaha mengandalkan tabungan pribadi, sementara 46 persen mengembangkan usaha dari perputaran keuntungan. Minimnya akses dan pemahaman terhadap pembiayaan formal membuat banyak UMKM berada dalam posisi rentan saat menghadapi tekanan usaha.
Lima Kesalahan Fatal yang Masih Dianggap “Strategi”
Riset Polytron–Populix mengidentifikasi sedikitnya lima pola pikir keliru yang masih diyakini pelaku UMKM :
1. Ekspansi Tanpa Sistem
Ambisi membuka cabang sering tidak diimbangi kesiapan operasional. Faktanya, 25 persen UMKM belum memiliki SOP yang jelas, dan 48 persen masih mencatat transaksi secara manual.
2. Menganggap Modal Sulit Diakses
Padahal masalah utamanya adalah literasi. Banyak pelaku usaha tidak memiliki laporan keuangan yang menjadi syarat utama akses pembiayaan.
3. Menaikkan Harga sebagai Jalan Pintas
Strategi ini berisiko karena 20 persen konsumen sensitif terhadap harga, sementara persoalan utama justru ada pada efisiensi dan manajemen SDM.
4. Terjebak Ilusi Omzet Besar
Omzet tinggi tidak menjamin keuntungan jika dibarengi hidden cost, seperti kerusakan alat atau inefisiensi operasional.
5. Salah Investasi Peralatan
Sebanyak 60 persen UMKM belum menggunakan perangkat pendukung, sementara sebagian lainnya justru membeli alat hanya karena murah, bukan karena kebutuhan usaha.
Naik Kelas Bukan Soal Omzet, Tapi Sistem
Melalui riset ini, Polytron menegaskan bahwa definisi “naik kelas” bagi UMKM harus diubah. Bukan sekadar meningkatkan omzet atau membuka cabang, tetapi membangun fondasi bisnis yang kuat.
Empat pilar utama yang menjadi kunci adalah :
- Konsep: identitas dan positioning usaha
- Sistem: digitalisasi dan pencatatan yang rapi
- Aset: investasi alat yang tepat dan tahan lama
- Ekspansi: pertumbuhan yang terukur
- Produk Bagus Saja Tidak Cukup
Dalam sesi pelatihan, praktisi branding Radityo Suryo Hartanto mengingatkan bahwa kualitas produk tidak lagi menjadi pembeda utama di pasar.
“Pasar sudah penuh. Yang membedakan adalah brand dan value. Kalau tidak punya identitas, bisnis akan tenggelam,” katanya.
Hal serupa disampaikan Jessica Hartono yang sukses membangun bisnis dari skala rumahan.
“Produk bisa ditiru, tapi kepercayaan pelanggan tidak,” ujarnya.
Dorong Transformasi UMKM Nasional
Sebagai tindak lanjut, Polytron menghadirkan program “UMKM Naik Level Bareng Polytron” yang mencakup dukungan perangkat usaha, pelatihan, hingga akses promosi dan ekspansi pasar.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi UMKM nasional agar lebih adaptif, efisien, dan kompetitif.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, riset ini menjadi pengingat bahwa kegagalan UMKM sering kali bukan karena kekurangan peluang, melainkan karena strategi yang keliru sejak awal.
Kalau mau, saya bisa buatkan versi headline lebih “keras” lagi (gaya investigatif/ekonomi nasional) atau versi opini/analisis dari data ini.
(nald)






