- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Jakarta) — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menyelenggarakan CEO Talks 2026 sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalis yang ke-65 FEB UNAIR di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat. Acara ini mengundang Keynote Speaker Ibu Neneg Goenadi selaku CEO Grab Indonesia, serta turut dihadiri para alumni FEB UNAIR yang tergabung kedalam IKAFE, termasuk Bapak Ignasius Jonan dan Theo Lekatompessy. Melalui acara ini, FEB UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus mendorong transformasi pendidikan bisnis agar semakin relevan dengan perubahan dunia usaha, perkembangan teknologi, serta kebutuhan dunia kerja melalui diskusi bertajuk “Shaping the Future of Business Education.”

Diskusi menghadirkan perspektif dari akademisi, pelaku industri, regulator, dan pemangku kepentingan terkait mengenai arah pendidikan bisnis di tengah perubahan yang semakin cepat. Salah satu pesan utama yang mengemuka adalah bahwa transformasi bukan lagi sekadar respons terhadap krisis, melainkan telah menjadi bagian dari business as usual.

Dalam diskusi tersebut, Neneng menekankan pentingnya kepemimpinan dalam mendorong transformasi organisasi. Menurutnya, transformasi membutuhkan clarity, courage, critical mindset, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Dunia bisnis juga dituntut untuk terus melakukan continuous improvement agar mampu bertahan dan tetap relevan menghadapi perubahan.

ads

Perspektif strategis juga disampaikan Muhammad Koba yang mengingatkan pentingnya memahami tidak hanya competitive advantage, tetapi juga strategic vulnerability. Organisasi perlu mampu mengenali berbagai potensi kerentanan, termasuk risiko yang berasal dari aspek mikro, serta melakukan diversifikasi produk dan mitra untuk memperkuat ketahanan bisnis.

Sementara itu, Deputi Bank Indonesia, Pak Solikin, menyoroti pentingnya transformasi institusi dan digitalisasi agar kebijakan publik tetap relevan dan mampu memberikan dampak nyata terhadap sektor riil. Ia juga mendorong perguruan tinggi untuk memperbanyak case study dan memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Pandangan mengenai pentingnya keterhubungan antara pendidikan dan dunia industri turut disampaikan Ignasius Jonan. Ia menekankan perlunya keterlibatan praktisi dalam proses pendidikan, khususnya pada jenjang pascasarjana, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga perspektif dan pengalaman praktis.

Dalam konteks FEB UNAIR, Neneng menegaskan bahwa agar pendidikan tetap relevan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, kurikulum perlu ditransformasi secara berkelanjutan. Penguatan soft skills, case-based learning, serta keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja.

Hal senada disampaikan Dian, Direktur OVO, yang menyoroti perkembangan artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI akan semakin meningkatkan efisiensi, namun pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Dosen perlu memperbarui case studies dan mengembangkan kemampuan analitis mahasiswa, bukan hanya berfokus pada aspek kognitif.

Sementara itu, Sutan dari KNEKS menekankan bahwa communication skill merupakan salah satu kompetensi paling penting bagi generasi masa depan. Kemampuan mahasiswa dalam mengekspresikan ide, membangun argumentasi, dan berkomunikasi secara efektif perlu terus diasah dalam proses pendidikan.

Dari sisi industri, Bilton dari PT DOK Perkapalan mengingatkan pentingnya fokus pada penguatan internal organisasi. Menurutnya, organisasi tidak seharusnya terlalu berorientasi pada kompetitor, tetapi terlebih dahulu memastikan bahwa fondasi dan kapabilitas internal telah kuat.

Dalam sesi pembahasan Research and Societal Impact, Ahmad Hidayat menyoroti adanya demand yang kuat terhadap riset-riset berkualitas, khususnya untuk kebutuhan due diligence kelayakan investasi di dunia industri. Kemudian dari sisi Policy & Societal Impact, ketua IKAFE, Rizky, menggaris bawahi sejumlah isu entrepreneurship dalam pembelajaran dan penguatan program Alumni Mengajar melalui keterlibatan alumni untuk berbagi wawasan dan pengalaman dunia profesional di ruang kelas melalui program “Alumni Mengajar”.

Membangun Pendidikan Bisnis yang Future-Ready

Berbagai perspektif tersebut bermuara pada satu kesimpulan: pendidikan bisnis harus terus bergerak dari knowledge-based education menuju future-ready education.

Pendidikan bisnis masa depan tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, menganalisis persoalan, berkomunikasi, beradaptasi, berkolaborasi, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

Melalui diskusi “Shaping the Future of Business Education”, FEB UNAIR memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap perubahan dan terus membangun kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.

“From knowledge to impact, from stability to transformation, and from job-ready to future-ready leadership.”

Pesan tersebut menjadi refleksi sekaligus komitmen bersama untuk membangun pendidikan bisnis yang tidak hanya relevan untuk menghadapi tantangan hari ini, tetapi juga mampu membentuk pemimpin dan profesional yang siap menciptakan masa depan.

Melalui CEO Talk 2026, FEB UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dengan dunia usaha, pemerintah, regulator, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan. Masukan yang dihimpun dari forum ini diharapkan menjadi bagian penting dalam merancang pendidikan, riset, dan kolaborasi industri yang semakin relevan serta mampu melahirkan pemimpin dan profesional yang siap menghadapi sekaligus menciptakan masa depan.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!