- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 kembali digelar sebagai ajang strategis bagi industri percetakan, pengemasan (packaging), digital printing, dan industri kreatif di Indonesia. Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-19 ini menghadirkan 153 perusahaan peserta serta melibatkan pelaku industri, pemerintah, asosiasi, hingga UMKM dalam mendorong transformasi industri grafika nasional.

Industri Printing Terus Bertumbuh Seiring Perkembangan Industri Makanan dan Minuman

Chief Executive Officer (CEO) Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan penyelenggaraan SPE 2026 menjadi bukti besarnya potensi ekonomi Jawa Timur. Tahun ini Krista Exhibitions bahkan menambah satu pameran di Surabaya sehingga total menjadi tiga kali penyelenggaraan dalam setahun.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang konsisten menjadikan provinsi ini sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia. Hal tersebut menjadi alasan Krista menghadirkan ProPak Surabaya yang mengadopsi konsep pameran ProPak Indonesia di Jakarta.

ads

Daud menjelaskan, teknologi pengemasan kini dipisahkan dari pameran makanan dan minuman karena tingginya kebutuhan ruang pamer. Packaging menjadi sektor yang berkembang sangat pesat seiring meningkatnya industri makanan dan minuman serta pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif di Indonesia.

Ia menambahkan, perkembangan industri makanan otomatis mendorong kebutuhan teknologi kemasan, digital printing, labeling hingga dekorasi kemasan. Karena itu, Surabaya Printing Expo tidak hanya menghadirkan mesin cetak konvensional, tetapi juga teknologi industrial printing, packaging decoration, textile printing, promotional printing hingga berbagai inovasi digital printing.

Tahun ini sebanyak 153 perusahaan berpartisipasi, termasuk 10 UMKM yang menampilkan produk dan inovasi di bidang percetakan. Pengunjung pun tidak hanya berasal dari Jawa Timur, tetapi juga dari Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur.

Daud juga mengungkapkan rencana ekspansi penyelenggaraan pada 2027 dengan memanfaatkan hall baru Grand City Surabaya agar kapasitas pameran semakin besar dan mampu menghadirkan tema-tema baru seperti desain kreatif dan desain industri.

Ia optimistis Jawa Timur akan semakin mengukuhkan diri sebagai Gerbang Baru Nusantara sekaligus pusat pertumbuhan industri kreatif nasional.

Industri Percetakan Menjadi Penopang Industri Pengolahan

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Yudi Ariyanto, menyampaikan pemerintah provinsi menyambut positif penyelenggaraan SPE 2026 karena sejalan dengan upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.

Ia menjelaskan, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 31,45 persen. Di dalamnya terdapat subsektor industri kertas, percetakan, dan reproduksi media.

Meski bukan sektor terbesar, industri percetakan memiliki peran penting sebagai pendukung berbagai sektor lain seperti makanan dan minuman, farmasi, serta industri manufaktur lainnya.

Yudi menyebut hampir 99 persen pelaku industri percetakan di Jawa Timur merupakan usaha mikro dan kecil. Oleh sebab itu, dukungan terhadap teknologi dan inovasi melalui pameran seperti SPE menjadi sangat penting dalam meningkatkan daya saing industri.

Ia berharap kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi mampu memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Printing Expo Percepat Transformasi UMKM

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Dr. Haryo Bimo Bramantyo, memberikan apresiasi atas konsistensi Krista Exhibitions yang selama 19 tahun menghadirkan Surabaya Printing Expo.

Ia mengatakan Jawa Timur saat ini memiliki sekitar 4,586 juta UMKM yang sebagian besar merupakan usaha mikro. Tantangan terbesar yang dihadapi UMKM adalah kemampuan berinovasi, memanfaatkan teknologi digital, menghadirkan kemasan yang menarik, serta memperluas pemasaran.

Menurutnya, SPE menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan UMKM dengan industri besar sehingga pelaku usaha kecil tidak hanya menjadi penjual produk, tetapi juga dapat berkembang sebagai bagian dari rantai pasok industri nasional.

Haryo berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha dalam pameran ini mampu mempercepat transformasi UMKM menjadi lebih produktif, inovatif, dan berdaya saing global.

Pameran Internasional Dorong Pariwisata MICE

Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Ali Afandi, mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan sektor Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Surabaya dan Jawa Timur.

Menurutnya, Surabaya memiliki potensi besar sebagai kota penyelenggara pameran nasional maupun internasional meskipun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur pameran berskala besar.

Ia mengapresiasi Krista Exhibitions yang secara konsisten menghadirkan SPE di Surabaya karena mampu mendatangkan pelaku usaha dan pengunjung dari berbagai daerah sehingga meningkatkan pergerakan wisatawan bisnis dan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian daerah.

Industri Grafika Bertransformasi Menuju Packaging dan Smart Printing

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, mengatakan kondisi ekonomi saat ini menuntut industri grafika melakukan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi terbaru.

Menurutnya, Surabaya Printing Expo bukan sekadar ajang penjualan mesin, tetapi menjadi tempat mencari solusi untuk meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi limbah, menghemat energi, dan meningkatkan produktivitas perusahaan.

Ia menjelaskan tren industri grafika kini bergeser dari percetakan komersial konvensional menuju packaging, labeling, smart packaging, dan kebutuhan cetak industri yang terus berkembang seiring pertumbuhan e-commerce.

Ahmad menyebut nilai pasar industri percetakan Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp190 triliun, dengan pertumbuhan terbesar berasal dari sektor kemasan.

Melalui SPE 2026, PPGI mengajak seluruh pelaku industri melakukan transformasi teknologi agar mampu bersaing di pasar global.

Era Digital Tidak Mematikan Industri Percetakan

Ketua DPD PPGI Jawa Timur, Iwan Dhamar, menegaskan era digital bukan ancaman bagi industri percetakan, melainkan membuka peluang bisnis baru.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap produk cetak tidak berkurang, tetapi berubah bentuk. Jika sebelumnya didominasi buku, majalah, brosur, dan surat kabar, kini permintaan bergeser menuju kemasan kreatif, merchandise, digital printing, personalisasi produk, hingga teknologi 3D printing.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi memungkinkan pencetakan kemasan secara satuan (customized) yang sangat dibutuhkan UMKM dan industri kreatif.

Selain itu, teknologi digital printing kini jauh lebih cepat, efisien, dan terjangkau dibanding beberapa tahun lalu sehingga membuka peluang usaha baru bagi pelaku industri grafika.

Iwan juga mengungkapkan keberhasilan mahasiswa asal Surabaya yang meraih tiga penghargaan nasional dalam lomba desain kemasan sebagai bukti bahwa Jawa Timur memiliki sumber daya kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Menurutnya, Surabaya Printing Expo menjadi momentum penting bagi pelaku industri untuk melihat langsung perkembangan teknologi terbaru, mulai dari digital printing, packaging, hingga teknologi 3D printing yang akan menjadi masa depan industri grafika Indonesia.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!