
MetroTimes (Surabaya) – Krista Exhibitions Group kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong kemajuan industri grafika nasional melalui pembukaan Surabaya Printing Expo (SPE) 2026, Rabu (8/7/2026), di Grand City Convention Center, Surabaya. Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran industri percetakan terbesar di Indonesia Timur ini berlangsung hingga 11 Juli 2026 dengan menghadirkan lebih dari 150 peserta pameran, termasuk 10 pelaku UMKM, serta menargetkan 15.000 pengunjung dari berbagai sektor industri.
Mengusung berbagai inovasi teknologi percetakan terkini, SPE 2026 menjadi wadah strategis yang mempertemukan produsen, distributor, pelaku usaha, desainer, akademisi, komunitas kreatif, hingga investor untuk memperluas jejaring bisnis, mempercepat transfer teknologi, serta membuka peluang kolaborasi di era digital.

Mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengatakan industri percetakan memiliki posisi penting dalam menopang sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur.
Ia mengungkapkan, pada triwulan I 2026 Jawa Timur menjadi penyumbang ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 14,40 persen terhadap PDB nasional dan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,96 persen (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Menurut Sherlita, sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB Jawa Timur dengan porsi sekitar 31 persen. Di dalamnya, industri percetakan menjadi subsektor yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
“Nilai PDRB industri percetakan Jawa Timur telah mencapai Rp27,64 triliun dengan pertumbuhan kumulatif sebesar 11,42 persen dalam tiga tahun terakhir. Kontribusinya terhadap sektor industri pengolahan juga stabil di kisaran 4,94 hingga 4,98 persen,” ujarnya.
Sherlita juga menyoroti perdagangan mesin percetakan Jawa Timur yang kembali menunjukkan tren positif. Nilai ekspor mesin percetakan meningkat 40,07 persen pada periode 2024–2025 setelah sebelumnya mengalami penurunan. Namun demikian, impor mesin percetakan masih jauh lebih besar dengan nilai mencapai 52,75 juta dolar Amerika Serikat pada 2025, yang hampir separuhnya berasal dari Tiongkok.
Di tengah pesatnya digitalisasi, Sherlita menilai perkembangan teknologi, internet, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri percetakan.
“Penetrasi internet di Jawa Timur sudah mencapai 83,1 persen. AI mampu mempercepat proses kerja, namun juga menuntut peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Karena itu, Surabaya Printing Expo bukan sekadar pameran, tetapi telah membentuk sebuah ekosistem industri yang menghubungkan dunia usaha, pendidikan, teknologi, dan inovasi,” katanya.
Ia juga mendorong perusahaan-perusahaan peserta pameran membuka peluang magang bagi siswa SMK maupun mahasiswa agar dapat belajar langsung menggunakan teknologi percetakan modern yang belum banyak tersedia di lingkungan pendidikan.
Selain itu, Sherlita menekankan pentingnya perlindungan hak cipta serta keamanan data pribadi dalam industri percetakan, terutama pada produk-produk bernilai tinggi seperti sertifikat, ijazah, maupun dokumen penting lainnya yang membutuhkan teknologi tinta dan pengamanan khusus.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjutnya, akan terus mendukung iklim usaha yang kondusif, mempermudah investasi, serta memperluas akses pasar bagi industri percetakan Jawa Timur hingga tingkat internasional.

Sementara itu, CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan menjadi katalis percepatan transformasi industri grafika di Indonesia, khususnya di Jawa Timur yang memiliki ekosistem industri sangat kuat.
“Jawa Timur merupakan salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di Indonesia. Pertumbuhan industri makanan dan minuman, kemasan, kosmetik, farmasi, tekstil, pertanian, perikanan hingga ekonomi kreatif membutuhkan dukungan teknologi percetakan yang semakin modern, efisien, dan berkualitas tinggi,” ujarnya.
Daud menjelaskan, Surabaya Printing Expo telah diselenggarakan secara konsisten selama 19 kali. Perjalanan pameran dimulai dari Surabaya Convention Center (SCC), kemudian berpindah ke Jatim Expo, Gramedia Expo, hingga kini rutin digelar di Grand City Convention Center.
Menurutnya, tahun 2026 menjadi momentum penting karena Krista Exhibitions telah menggelar tiga pameran industri besar di Surabaya, mulai dari industri makanan dan minuman, industri kemasan, hingga industri percetakan.
“Surabaya Printing Expo telah berkembang menjadi pameran teknologi percetakan terbesar dan terlengkap di Jawa Timur. Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan produsen teknologi, distributor, pelaku usaha, desainer, sekolah, akademisi, investor hingga pengguna industri,” jelasnya.
Daud menambahkan, perkembangan teknologi percetakan saat ini bergerak sangat cepat, mulai dari sistem cetak berbasis web (web-based printing), otomatisasi produksi, hingga pemanfaatan AI dalam proses desain dan produksi.
Karena itu, SPE 2026 tidak hanya menampilkan mesin-mesin terbaru, tetapi juga menjadi pusat edukasi melalui berbagai seminar dan workshop yang membahas transformasi digital, branding, inovasi produk, kemasan, hingga keberlanjutan industri.
Salah satu agenda utama adalah workshop “Dari Ide ke Merchandise: Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Desain Merchandise Kreatif”, yang mengupas pemanfaatan AI untuk menghasilkan desain kreatif dan produk bernilai komersial.
Selain itu, seminar “Strategi UMKM Naik Kelas Melalui Bisnis Kreatif & Kemasan Produk” memberikan pembekalan kepada pelaku UMKM mengenai pentingnya inovasi, branding, dan desain kemasan untuk meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun internasional.
Selama empat hari pelaksanaan, pengunjung juga dapat menyaksikan demonstrasi langsung berbagai teknologi percetakan modern, mulai dari digital printing, offset printing, UV printing, hingga teknologi 3D printing yang semakin berkembang.
Berbagai merek ternama dari dalam maupun luar negeri turut menampilkan inovasi terbaru yang diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi di kalangan pelaku industri grafika Indonesia.
Melalui penyelenggaraan SPE 2026, Krista Exhibitions berharap industri percetakan nasional semakin kompetitif, adaptif terhadap perkembangan teknologi digital, serta mampu memperluas pasar hingga tingkat global.
Surabaya Printing Expo 2026 berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Grand City Convention Center Surabaya mulai pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Pengunjung dapat melakukan registrasi secara daring maupun langsung di lokasi pameran.
(nald)







