
MetroTimes (Surabaya) — Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) melantik dan mengambil sumpah 150 dokter hewan pada Periode ke-175, Rabu (16/9/2026), di Arif Rahman Hakim Convention Hall.
Pelantikan dan pengambilan sumpah tersebut menjadi momentum bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesi dengan tanggung jawab yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Dekan FKH UNAIR Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh., M.Kes., mengatakan, dokter hewan memiliki posisi penting dalam penerapan konsep One Health, yakni pendekatan yang melihat keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Dokter hewan ini tidak hanya mengurus hewan. Tugas mereka cukup berat, selain untuk kesehatan hewan juga kesehatan manusia dan lingkungan. Terkait One Health, garda depannya sebenarnya adalah dokter hewan,” ujarnya.
Menurut Lilik, luasnya cakupan profesi membuat lulusan dokter hewan memiliki banyak pilihan jalur karier. Bahkan, FKH UNAIR mencatat sekitar 60 hingga 70 persen mahasiswa yang mengikuti pelantikan telah bekerja sebelum pengambilan sumpah profesi.
“Kalau dokter hewan itu ada 33 profesi yang bisa dimasuki. Ada pegawai negeri, kementerian, swasta, industri, laboratorium, researcher, dosen dan banyak sekali wahana atau lapangan kerja yang bisa dimasuki,” jelasnya.
Selain bekerja di institusi pemerintah maupun perusahaan, dokter hewan juga memiliki peluang membangun usaha secara mandiri. Profesi tersebut memungkinkan lulusan membuka klinik, menjalankan usaha peternakan maupun mengembangkan berbagai bidang kewirausahaan yang berkaitan dengan kesehatan dan produksi hewan.
Karena itu, Lilik berpesan agar para dokter hewan baru tetap menjaga integritas dalam menjalankan profesinya. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan keseimbangan antara keunggulan akademik dan moralitas.
“Yang pertama tetap menjunjung tinggi integritas. Universitas mempunyai mutu excellent with morality, jadi excellent juga morality-nya harus tetap dijaga,” tegasnya.
Ia menambahkan, para lulusan FKH UNAIR merupakan bagian dari institusi pendidikan yang telah memperoleh rekognisi internasional. Karena itu, kualitas dan reputasi tersebut harus tercermin dalam perilaku serta kinerja para alumninya ketika memasuki dunia profesi.
“Harapan kami anak-anak tetap menjadikan excellent dimanapun berada sehingga ini akan menjadikan UNAIR ke depan akan lebih baik lagi,” katanya.
Dituntut Terus Belajar di Tengah Perkembangan AI

Tantangan lain yang harus dihadapi dokter hewan baru adalah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, termasuk pemanfaatan artificial intelligence (AI).
Lilik mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan profesi. Menurutnya, dinamika teknologi menuntut dokter hewan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
“Dinamika teknologi begitu cepat sehingga harus tetap belajar. Jadi tidak hanya puas diri, tapi harus tetap belajar mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan pengalaman drh. Irena Tan, lulusan Program Pendidikan Dokter Hewan (PPDH) FKH UNAIR yang mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah pada periode tersebut.
Irena mengaku berencana melanjutkan karier sekaligus pendidikan untuk mengembangkan kompetensinya. Selama menjalani pendidikan, ia tidak hanya mendapatkan kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan yang menurutnya sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.
“Selain kemampuan teknis, yang paling penting bagi saya adalah skill manajerial dan skill komunikasi yang benar-benar digunakan dan bermanfaat di dunia kerja,” kata Irena.
Irena sendiri memiliki ketertarikan pada bidang laboratorium. Ia melihat bidang kedokteran hewan memiliki cakupan yang luas karena setiap dokter hewan dapat memilih spesialisasi atau bidang yang sesuai dengan minat masing-masing.
Ada lulusan yang memilih bidang unggas atau poultry, peternakan hewan besar, hewan kecil, laboratorium hingga penelitian.
Menurut Irena, perkembangan teknologi juga harus diikuti dengan peningkatan kapasitas diri. Ia mencontohkan bidang penyakit hewan, termasuk avian influenza (AI), yang membutuhkan pembaruan pengetahuan secara berkelanjutan.
“Yang pasti kita harus terus up to date dan terus belajar. Kita juga harus melihat tren, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri,” ujarnya.
Ia menilai perhatian terhadap perkembangan penyakit tidak boleh hanya terfokus pada satu jenis penyakit. Tren outbreak maupun penyakit yang bersifat transboundary disease juga perlu terus dipantau karena dapat berdampak lintas wilayah dan negara.
Tantangan Fresh Graduate
Di sisi lain, Irena melihat tantangan yang cukup nyata bagi lulusan baru ketika memasuki dunia kerja. Kondisi perekonomian yang dinilai belum sepenuhnya stabil dapat membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat.
“Banyak lulusan yang sebenarnya berkualitas, tetapi susah untuk mendapatkan pekerjaan. Mungkin tantangannya lebih di situ, terutama untuk fresh graduates,” tuturnya.
Meski demikian, pengalaman selama pendidikan profesi menjadi modal penting untuk menghadapi dunia kerja. Selain kompetensi teknis, kemampuan komunikasi dan manajerial dinilai dapat membantu lulusan beradaptasi dengan lingkungan profesional.
Pelantikan 150 dokter hewan pada Periode ke-175 FKH UNAIR pun menjadi awal bagi para lulusan untuk mengimplementasikan ilmu dan sumpah profesi yang telah diucapkan.
Dengan cakupan profesi yang luas, para dokter hewan baru diharapkan mampu berkontribusi dalam menjaga kesehatan hewan, mendukung kesehatan manusia, melindungi lingkungan, serta terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(nald)










