- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Universitas Airlangga (UNAIR) memperkuat jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan Integration EXITT x NEWTON 2026, sebuah program kolaborasi yang mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut merupakan kolaborasi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) bersama Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR dalam rangka mengintegrasikan aktivitas akademik, kemahasiswaan, penelitian, serta jejaring internasional.

Dekan FTMM UNAIR Prof. Dr. Ir. Retna Apsari, M.Si., IPM., ASEAN Eng.

Dekan FTMM UNAIR Prof. Dr. Ir. Retna Apsari, M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari penugasan universitas melalui bidang Global Engagement untuk mendorong integrasi dua fakultas dalam aktivitas dosen dan mahasiswa.

“Ini adalah acara inbound student, integrasi antara Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin dengan Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas memberikan penugasan agar dua fakultas ini berintegrasi dalam aktivitas dosen dan aktivitas student,” ujar Retna.

ads

Menurutnya, integrasi dalam aktivitas dosen diwujudkan melalui pembelajaran bersama atau joint class yang melibatkan mitra perguruan tinggi internasional. Sementara dari sisi mahasiswa, FTMM menjadi koordinator kegiatan dengan menghadirkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi mitra.

Program tersebut juga menjadi bagian dari Overseas Immersive Short-Term Program dengan mengusung tema Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu fokus yang dibahas adalah pengelolaan limbah industri, lingkungan, serta pemanfaatan dan pemrosesan limbah menjadi material maupun energi yang memiliki nilai tambah.

“Goal besarnya adalah Overseas Immersive Short-Term Program. Kita mengangkat tema terkait SDGs, khususnya bagaimana pengelolaan limbah industri yang berkaitan dengan lingkungan dan pemrosesannya,” jelasnya.

Retna menambahkan, rangkaian kegiatan tidak hanya berupa seminar dan diskusi. Peserta juga mendapatkan kesempatan mengunjungi sejumlah laboratorium di lingkungan UNAIR untuk melihat secara langsung fasilitas dan teknologi yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin.

Pada hari berikutnya, peserta dijadwalkan melakukan kunjungan laboratorium, termasuk ke fasilitas FTMM maupun FST, salah satunya bidang biomedical engineering. Rangkaian kemudian ditutup dengan kegiatan eksplorasi dan pengenalan lingkungan.

Kegiatan tersebut diikuti delegasi dari sejumlah perguruan tinggi mitra, antara lain Universiti Tenaga Nasional (UNITEN), Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Universiti Teknologi MARA (UiTM), Management and Science University (MSU), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prince of Songkla University (PSU) Thailand, serta Nanyang Polytechnic Singapura.

Retna menilai keterlibatan perguruan tinggi mitra tersebut menunjukkan pentingnya membangun hubungan akademik yang berkelanjutan. Menurutnya, kedekatan antarinstitusi akan membuka peluang lebih luas bagi mobilitas mahasiswa, kegiatan kemahasiswaan, hingga publikasi bersama.

“Harapannya kedekatan dengan mitra semakin besar. Ke depan ada kegiatan kemahasiswaan, kemudian juga join publication bersama. Kalau tidak dekat dengan mitra, tidak mungkin dalam waktu singkat bisa mendatangkan mahasiswa sebanyak ini,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan jumlah peserta yang lebih besar serta topik yang semakin beragam. Program Integration 2026, menurutnya, menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat kolaborasi internasional yang dapat dikembangkan ke berbagai bidang strategis lainnya.

Vice Rector for Research, Innovation and Community Development (RICD) UNAIR), Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., FINASIM

Sementara itu, Vice Rector for Research, Innovation and Community Development (RICD) UNAIR), Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., FINASIM, menegaskan bahwa kolaborasi lintas fakultas dan lintas negara menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan global.

Dalam sambutannya, Prof. Miftahussurur menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyelenggara, narasumber, delegasi, dan peserta yang telah berpartisipasi dalam Integration EXITT x NEWTON 2026.

Ia mengatakan kegiatan tersebut mempertemukan dua program unggulan dalam sebuah bentuk kolaborasi yang diharapkan mampu menghasilkan sinergi keahlian untuk menjawab berbagai persoalan global.

“Nilai sebenarnya dari pertemuan ini terletak pada sinergi keahlian kolektif kita untuk mengatasi tantangan global yang mendesak,” ujarnya.

Menurut Prof. Miftahussurur, tantangan lingkungan dan energi saat ini semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan interdisipliner. Karena itu, diskusi dalam kegiatan tersebut diarahkan pada berbagai isu strategis, mulai dari transformasi limbah padat menjadi material dan energi bernilai hingga pengembangan nanomaterial berbasis karbon.

“Inilah sebabnya mengapa inisiatif bersama antara Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin serta Fakultas Sains dan Teknologi sangat terpuji,” katanya.

Ia menekankan bahwa penelitian transformatif tidak dapat dilakukan secara terpisah. Kolaborasi antarfakultas dan antaruniversitas diperlukan untuk menjembatani berbagai disiplin ilmu sehingga pengetahuan ilmiah dapat dikembangkan menjadi solusi praktis yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Penelitian transformatif tidak dapat dicapai secara terisolasi. Penelitian tersebut berkembang ketika fakultas-fakultas menjembatani disiplin ilmu untuk mengubah pengetahuan ilmiah menjadi solusi praktis,” tegasnya.

Prof. Miftahussurur juga menilai lanskap akademik global saat ini menuntut perguruan tinggi untuk tidak lagi terbatas pada batas-batas institusional maupun negara. Persoalan pembangunan berkelanjutan membutuhkan kemitraan strategis yang dibangun dalam jangka panjang.

“Inisiatif seperti Integration 2026 sangat penting. Jaringan akademis dapat mencapai tujuan sebenarnya ketika melampaui pertukaran teori untuk membangun teknologi bersama, kerangka penelitian yang kuat, dan solusi sosial yang berdampak,” tuturnya.

Ia berharap pertemuan selama tiga hari tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan pertukaran akademik, tetapi menjadi titik awal terbentuknya kerja sama penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Kehadiran delegasi dari berbagai perguruan tinggi Malaysia, Thailand, dan Singapura juga menjadi bagian penting dari upaya memperluas jejaring internasional UNAIR.

Program Integration EXITT x NEWTON 2026 pada akhirnya diharapkan mampu mempertemukan gagasan, teknologi, dan sumber daya akademik dari berbagai negara untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam isu lingkungan, energi, material maju, dan pembangunan berkelanjutan.

Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan bagi mahasiswa dan dosen, tetapi juga menjadi fondasi bagi lahirnya kolaborasi internasional yang lebih luas di masa mendatang.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!