- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Rajawali atau Stiera Purworejo berhasil meraih pendanaan nasional dari Kemendikbudristek Dikti melalui Ditjend Belmawa pada skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Video Gagasan Konstruktif (VGK). Keberhasilan kali ini menjadi momentum bersejarah bagi STIE Rajawali sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan kolaborasi antara mahasiswa, pembimbing, dan seluruh elemen program studi (Prodi).

Tim mahasiswa peraih pendanaan diketuai oleh Hilda Nova Indira dengan anggota Andini Wulansari, Yoga Wicaksana, Nasywa Anasya Rahma, dan Erin Fitriyah. Tema PKM-VGK yang diangkat dalam proposal mereka yakni Modernisasi Pemasaran Bibit Buah Unggul dalam Mendukung Lahirnya Petani Milenial di Daerah dalam bentuk aplikasi Toko Bibitku (Tobitku).

Hilda Nova Indira menyebut dalam PKM VGK kali ini, tim akan menguraikan secara komprehensif mengenai rencana modernisasi pemasaran bibit buah unggul sebagai upaya strategi dalam mendukung pertumbuhan petani milenial di daerah. Menurutnya, urgensi penyusunan VGK dengan gagasan modernisasi pemasaran bibit buah unggul untuk meningkatkan petani milenial daerah ini diharapkan dapat menginspirasi dan menciptakan ekosistem pertanian yang inklusif, inovatif, dan memberikan dampak positif bagi peningkatan jumlah petani milenial.

“Tujuan jangka panjang PKM-VKG tim mahasiswa STIE Rajawali dapat memotivasi partisipasi mahasiswa dalam mengelola imajinasi, persepsi, dan nalar sebagai upaya solusi yang konstruktif terhadap masalah kekinian yang terjadi di masyarakat dan terkait dengan isu keprihatinan bangsa Indonesia atau pencapaian tujuan SDGs di Indonesia. PKM VGK dimulai dari gagasan yang konstruktif, kemudian diwujudkan dalam karya konten video kreatif dan komunikatif di YouTube,” katanya, Kamis (18/7).

Dijelaskan, “TOBITKU” lahir sebagai aplikasi yang mendorong minat dan motivasi anak muda. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan anak muda dapat meningkatkan perekonomian di daerahnya. Anak muda juga memahami bahwa menjadi seorang petani tidak harus terjun langsung kesawah. Dengan membantu menjual bibit buah unggul dengan memanfaatkan teknologi modern, anak muda sudah menjadi petani milenial.

ads

“Proses pelaksanaan dimulai dengan fase observasi. Untuk tahap ini, hal pertama yang akan kita lakukan adalah mengambil suatu masalah untuk menentukan ide cerita dan kemudian melanjutkan dengan pemecahan masalah,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa metode pelaksaan tahap awal dengan tahap praproduksi, dimana hal pertama yang dilakukan adalah menentukan ide cerita. Pada bulan Juli 2024 aktivitas kegiatan tim PKM VGK Stiera sudah memasuki proses produksi video.

“Video dan konten yang dibuat dipublikasi kedalam YouTube (STIE Rajawali). Dan menggunakan platflom media sosial (IG: pkmvgk_tobitku, tiktok: pkmvgk_tobitku). Dengan dilakukanya hal ini, untuk membantu memperoleh pengakuan dan dapat meningkatkan eksposur pada film ini,” paparnya.

Ketua STIE Rajawali yang sekaligus Dosen Pembimbing Tim Mahasiswa PKM VGK, Dr Hesti Respatiningsih SE MPar, merasa bangga dan memberikan apresiasi kepada 5 mahasiswa yang telah menyumbangkan prestasi nasional tahun 2024 ini. Selaras dengan pembelajaran Kampus Merdeka, kegiatan PKM diharapkan dapat memberikan kesempatan dan tantangan dalam pengembangan kreativitas, inovasi, dan kapasitas, serta kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan atau solusi melalui masalah dan dinamika yang ada di masyarakat.

“STIE Rajawali Purworejo memberikan konversi SKS sebesar 6 SKS pada tim mahasiswa yang sudah berprestasi dengan lolos pendanaan PKM VGK Kemendikbudristek Dikti. Dan jika nanti tim mahasiswa PKM VGK lolos Pimnas akan diberikan tambahan konversi 3 SKS,” sebutnya.

Menurut Hesti, PKM VGK merupakan bagian dari implementasi Program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) dan upaya mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Khususnya IKU 1 (lulusan mendapat pekerjaan yang layak atau berwirausaha atau melanjutkan studi), IKU 2 (mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus), IKU 3 (dosen berkegiatan di luar kampus), dan IKU 5 (hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat).

“Untuk mencapai keempat IKU tersebut, kami aktif mendorong, memberikan fasilitas dan dukungan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan cara melakukan kegiatan pembelajaran dengan model variatif, serta mampu memberi bekal keterampilan yang mumpuni melalui PKM. Adapun keterlibatan dosen dalam pendampingan PKM VGK dapat memberikan kesempatan bagi dosen untuk berinteraksi dengan berbagai pihak di luar kampus,” terangnya. (dnl)