
MetroTimes (Surabaya) – Wakil Ketua Umum ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) Bidang Kebandaraan dan Angkutan Udara, Kristanti Erisandri Mahendra, menilai kondisi kebandaraan dalam dua tahun terakhir semakin kondusif, khususnya di Bandara Internasional Juanda dan Bandara Dhoho Kediri.

Kristanti yang akrab disapa Cece menyampaikan bahwa secara umum tidak ada hambatan signifikan dalam Rencana Pengembangan (RPD) kebandaraan. Ia menegaskan hubungan ALFI dengan para pemangku kepentingan kebandaraan berjalan sangat baik.
“Untuk kebandaraan sejauh ini relatif kondusif. Pejabat-pejabat yang ada di kebandaraan, baik Angkasa Pura maupun Otoritas Bandara, sangat kooperatif dengan kami. ALFI juga terus menjaga keharmonisan agar tidak terjadi persoalan seperti di DPW lain,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, persoalan yang sempat muncul di masa lalu, khususnya terkait ground handling dan peralatan (jaster) serta keterbatasan time frame pelayanan, kini sudah berangsur membaik. Hal tersebut tidak lepas dari pemahaman pejabat baru yang dinilai menguasai aspek logistik dan bisnis.
Cece juga mengapresiasi keterbukaan manajemen Angkasa Pura Juanda, khususnya GM AP Juanda Mamat Ohir, yang membuka peluang bagi anggota ALFI swasta untuk terlibat langsung di lini satu operasional kebandaraan.
“Teman-teman anggota ALFI swasta dipersilakan untuk ikut tender melalui mekanisme normal. Pak GM welcome dan sangat terbuka,” jelasnya.
Menurutnya, dalam hampir dua tahun terakhir, sinergi antara ALFI, Angkasa Pura, dan Otoritas Bandara berjalan semakin solid.
Terkait Bandara Dhoho Kediri, Cece menjelaskan bahwa bandara tersebut masih relatif baru dan baru saja memperoleh status internasional dari pemerintah. Saat ini, pengelola bandara masih aktif membangun kolaborasi, khususnya dengan ALFI.
“Desember lalu, tanggal 10–11, kami duduk bersama kementerian dan semua pihak terkait. Hospitality dari pemerintah kabupaten juga sudah dipenuhi. Teman-teman ALFI JPT bisa mulai mengembangkan bisnis di sana,” katanya.
Bahkan, pihak Bandara Dhoho secara langsung meminta dukungan ALFI agar sektor kargo dapat terisi optimal.
“Alhamdulillah, sekarang kargo sudah terisi. Mereka sangat welcome dengan keberadaan kami,” tambahnya.
Untuk tahun 2026, ALFI menargetkan pengembangan bertahap baik di Juanda maupun Dhoho, khususnya untuk penerbangan internasional.
“Untuk internasional memang harus pelan-pelan karena izin flight itu kewenangan kementerian. Kalau izinnya sudah keluar dan data freight dipublikasikan ke kami, tentu akan kami kawal dan support penuh,” tegas Cece.
Saat ini ALFI terus berkoordinasi dengan pengelola Bandara Dhoho, Barindo sebagai asosiasi penerbangan internasional, serta regulator lainnya.
Salah satu fokus utama ALFI adalah pembukaan layanan Pabean (Bea Cukai) di Bandara Dhoho Kediri. Cece mengungkapkan bahwa pihaknya telah bertemu langsung dengan Kepala Bea Cukai Kediri.
“Saat ini mereka masih fokus di Cukai, tapi karena banyak UMKM, mereka setuju untuk membuka sisi Pabean. Selanjutnya akan kami dorong ke Kanwil II Malang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kendala utama pengembangan bandara masih berkaitan dengan perizinan regulator dan slot penerbangan yang keputusannya berada di tingkat kementerian.
Cece menilai Bandara Dhoho memiliki potensi besar sebagai pintu ekspor UMKM wilayah Mataraman, meliputi Kediri, Tulungagung, Trenggalek, dan Nganjuk.
“UMKM di sana banyak sekali. Kami juga punya binaan dan mendorong mereka berani ekspor,” katanya.
Namun, tantangan utama UMKM adalah ketakutan berkomunikasi dengan buyer internasional, keterbatasan bahasa, serta kekhawatiran dipermainkan pembeli.
Untuk itu, ALFI memberikan pendampingan intensif melalui modul dan platform yang memungkinkan UMKM mengakses data buyer dan kebutuhan pasar global secara langsung.
Saat ini, tercatat sekitar 500 UMKM di wilayah Kediri dan Mataraman yang menjadi binaan ALFI.
“Untuk produsen besar masih melalui Perak atau Juanda. Tapi untuk pengusaha kecil yang baru mulai ekspor, Bandara Dhoho bisa kita akomodir,” ujarnya.
Cece menutup dengan menegaskan bahwa hampir seluruh kendala yang dihadapi anggota ALFI sejauh ini dapat terakomodasi, termasuk persoalan komunikasi dengan operator bandara dan ground handling.
“Kalau ada keluhan, Otoritas Bandara selalu menengahi. Kita bisa curhat dan dicarikan solusi bersama,” pungkasnya.
(nald)




