- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Tidak semua orang berani mempertaruhkan masa depannya pada sebuah warung kecil di pinggir kota. Namun, Alumni FEB UNAIR Erik Marsudi melakukannya dan kini ia berdiri di balik salah satu brand kuliner ayam bakar paling stabil di Jawa Timur, dengan 60 cabang dan lebih dari seribu orang menggantungkan hidupnya pada bisnis yang ia rintis.

Sebagai alumni, Erik memang memilih jalur wirausaha sejak awal. Sejak duduk di bangku kuliah, ia sudah terpikat pada dunia bisnis dan bukan sekadar mencari nafkah saja, tetapi ajang medium untuk menciptakan dampak nyata bagi orang lain. Cita-cita itu tidak langsung terwujud. Ada masa-masa jatuh bangun, usaha yang dicoba kemudian gagal, dan pelajaran mahal yang hanya bisa dibeli dengan pengalaman langsung.

Titik baliknya datang pada 2008, ketika ia membuka depot kecil di kawasan Tropodo, Surabaya, dengan menu andalan ayam bakar. Modalnya tidak besar, namun keyakinannya yang besar. Kualitas rasa yang konsisten dan harga yang bersahabat membuat warung itu cepat dikenal. Pelanggan datang, lalu kembali lagi dan membawa orang lain bersamanya.

Bisnis itu tumbuh melampaui ekspektasinya sendiri. Satu cabang menjadi dua, dua menjadi puluhan, hingga brand Ayam Bakar Pak D kini hadir di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, dan berbagai kota lain di Jawa Timur. Menariknya ekspansi ini tidak berhenti bahkan saat pandemi melanda. Alhasil bisnisnya terbukti tangguh.

ads

Rahasia di balik ketangguhan itu adalah model kemitraan yang Erik terapkan secara konsisten. Calon mitra bisa memulai usaha dengan modal mulai Rp 4–5 juta, jauh lebih terjangkau dibanding franchise kuliner kebanyakan. Pendekatan inklusif ini bukan hanya strategi ekspansi, tetapi juga komitmen sosial untuk membuka akses usaha bagi lebih banyak orang yang ingin mandiri secara ekonomi.

“Membangun usaha bukan hanya soal keuntungan, tetapi tentang seberapa banyak orang yang bisa kita ikut sertakan dalam perjalanan itu,” ujar Erik.

Enam puluh cabang bukan sekadar angka jaringan bisnis. Di baliknya ada lebih dari seribu orang yang bekerja, mulai dari dapur, meja layanan, staf logistik hingga manajer operasional. Ayam Bakar Pak D telah menjelma menjadi salah satu kontributor penyerapan tenaga kerja yang signifikan di sektor kuliner regional Jawa Timur. Erik juga rutin membuka peluang Praktik Kerja Lapangan bagi siswa yang ingin mengenal langsung dunia bisnis kuliner.

Inovasi tidak berhenti di satu menu. Erik mengembangkan lini produk baru seperti Mr. D menu ayam geprek serta konsep Pak D Kitchen Express untuk mitra skala kecil yang ingin masuk dengan kapasitas lebih terbatas. Setiap inovasi dirancang agar bisnis tetap relevan di tengah persaingan kuliner yang tidak pernah tidur.

“Kunci bertahan bukan hanya pada rasa, tetapi pada kemampuan membaca pasar dan keberanian beradaptasi sebelum keadaan memaksa,” katanya.

Kisah Erik Marsudi menjadi pengingat bahwa kampus terbaik tidak selalu menghasilkan lulusan yang paling nyaman tetapi yang paling siap menghadapi ketidakpastian. FEB UNAIR telah memberinya kerangka berpikir bisnis yang kuat, sisanya ia bangun sendiri, satu warung, satu cabang, satu mitra pada satu waktu.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!