- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) 2026 di Surabaya sebagai bagian dari rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026. Program ini bertujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui kampanye #ReksaDanaAja dan peluncuran program PINTAR Reksa Dana.

Kegiatan SOSEDU APRDI 2026 di Surabaya dilaksanakan di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur serta sejumlah perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI), antara lain Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Kristen Petra, Universitas Airlangga, dan STIESIA Surabaya.

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, APRDI akan menggelar seremoni peluncuran program PINTAR Reksa Dana dan kampanye #ReksaDanaAja pada 27 April 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, bersamaan dengan Pekan Reksa Dana 2026.

Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari

Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, dalam sambutannya menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap produk investasi, khususnya reksa dana. Ia mengingatkan bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko yang harus dipahami secara menyeluruh, tidak hanya potensi keuntungannya.

ads

“Sebagai individu maupun wartawan, penting untuk memahami karakteristik produk, termasuk risiko dan mekanismenya. Dengan pemahaman yang baik, informasi yang disampaikan kepada masyarakat akan lebih objektif dan edukatif,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran media sebagai mitra strategis dalam membangun persepsi publik yang benar terhadap investasi, terutama di tengah maraknya informasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Berdasarkan data OJK, industri reksa dana di Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, total transaksi reksa dana mencapai sekitar Rp4,96 triliun atau tumbuh 54,60 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara jumlah investor reksa dana retail tercatat sekitar 141.861 SID, meningkat 13,52 persen (YoY).

Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional, M. Maulana

Di tingkat nasional, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional, M. Maulana, menyampaikan bahwa jumlah investor reksa dana hingga Februari 2026 telah mencapai sekitar 21,7 juta, meningkat dari 19 juta pada Desember 2025. Mayoritas investor didominasi generasi muda dengan masa investasi di bawah lima tahun.

Menurutnya, potensi pertumbuhan industri masih sangat besar, sehingga diperlukan upaya edukasi yang masif dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya literasi keuangan sebagai dasar sebelum mendorong inklusi investasi.

“Literasi harus didahulukan sebelum inklusi, agar masyarakat memahami risiko dan karakter produk sebelum berinvestasi,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, diperkenalkan program PINTAR Reksa Dana (Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana) yang dirancang untuk membangun kebiasaan investasi secara rutin dan berkelanjutan di berbagai lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa, pekerja, dan ibu rumah tangga.

Secara industri, kinerja reksa dana nasional juga menunjukkan tren positif. Dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) reksa dana pada akhir 2025 tercatat mencapai Rp679,24 triliun, tumbuh 35,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total dana kelolaan investasi meningkat menjadi Rp1.007,65 triliun atau naik 25,19 persen.

Dari sisi kinerja, reksa dana saham mencatat imbal hasil tertinggi sebesar 17,23 persen, diikuti reksa dana campuran 12,48 persen, pendapatan tetap 6,96 persen, dan pasar uang 3,18 persen. Pertumbuhan ini sejalan dengan kinerja positif pasar saham Indonesia yang tercermin dari kenaikan IHSG sebesar 22,13 persen sepanjang 2025.

Ketua Presidium Dewan APRDI, Lolita Lilana

Ketua Presidium Dewan APRDI, Lolita Lilana, menyatakan bahwa kampanye #ReksaDanaAja merupakan langkah konkret industri untuk memperluas literasi dan inklusi investasi di Indonesia. Program Road to Pekan Reksa Dana 2026 akan menghadirkan kelas edukasi bagi jurnalis dan mahasiswa di lima kota besar.

“Melalui sinergi antara asosiasi, OJK, dan Self Regulatory Organization, kami ingin mendorong masyarakat agar lebih memahami dan memanfaatkan reksa dana sebagai instrumen investasi yang terjangkau dan terdiversifikasi,” ujarnya.

Rangkaian roadshow akan digelar di lima kota, dimulai dari Surabaya pada 7 April, kemudian berlanjut ke Semarang (9 April), Medan (14 April), Makassar (16 April), dan Bandung (20 April) 2026.

APRDI yang berdiri sejak 1999 merupakan organisasi yang menaungi pelaku industri reksa dana dan investasi di Indonesia, serta menjadi induk dari enam asosiasi terkait, termasuk Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Asosiasi Bank Kustodian Indonesia (ABKI), dan Asosiasi Bank Agen Penjual Efek Reksa Dana Indonesia (ABAPERDI).

Melalui kegiatan ini, APRDI bersama OJK dan BEI berharap dapat memperkuat ekosistem investasi yang sehat, meningkatkan literasi keuangan masyarakat, serta mendorong partisipasi yang lebih luas dalam industri reksa dana di Indonesia.

(nald)