- iklan atas berita -

MetroTimes (Surabaya) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan Kick Off Rupiah Java Run 2026, sebuah ajang lari yang tidak hanya mengedepankan gaya hidup sehat, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai kecintaan terhadap Rupiah, promosi wisata heritage Kota Surabaya, serta penguatan sektor UMKM, khususnya komoditas kopi Indonesia.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia untuk mengintegrasikan olahraga, edukasi, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi daerah dalam satu rangkaian kegiatan.

“Kami ingin mengajak masyarakat Surabaya hidup sehat melalui olahraga lari, sekaligus mengenalkan berbagai titik heritage di Kota Surabaya. Di saat yang sama, peserta juga akan mendapatkan edukasi mengenai gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah yang selama ini terus kami gaungkan,” ujar Ridzky.

Rupiah Java Run 2026 ditargetkan diikuti sekitar 3.000 peserta yang akan dibagi dalam dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer. Selain menyediakan hadiah bagi para juara putra dan putri, Bank Indonesia juga membuka kategori Master bagi pelari senior serta lomba kostum atau jersey paling kreatif untuk semakin memeriahkan suasana.

ads

“Kami ingin kegiatan ini menjadi pesta olahraga masyarakat. Karena itu kami juga mengajak peserta berkreasi melalui jersey yang unik dan inovatif, yang nantinya akan mendapatkan penghargaan khusus,” katanya.

Lebih dari sekadar ajang olahraga, Rupiah Java Run juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsep sport tourism yang dipadukan dengan promosi budaya lokal serta pemberdayaan pelaku UMKM.

Menurut Ridzky, kegiatan tersebut menjadi salah satu media efektif untuk memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga dan menghargai Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa.

Ia menjelaskan, gerakan Cinta Rupiah diwujudkan melalui kebiasaan merawat uang dengan prinsip 5J, yaitu tidak melipat, tidak mencoret, tidak meremas, tidak membasahi, dan tidak menstaples uang Rupiah agar tetap layak edar dan memiliki usia pakai yang lebih panjang.

Selain itu, masyarakat juga terus diberikan pemahaman untuk mengenali keaslian uang melalui metode 3D, yaitu Dilihat, Diraba, dan Diterawang, sehingga dapat meminimalkan peredaran uang palsu di masyarakat.

“Kalau masyarakat memahami ciri-ciri keaslian uang melalui metode 3D, maka mereka akan lebih terlindungi dari peredaran uang palsu,” jelasnya.

Sementara itu, Bangga Rupiah dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus dijaga bersama.

Adapun Paham Rupiah diwujudkan melalui edukasi kepada masyarakat agar mampu menggunakan uang secara bijak, berbelanja secara cerdas, serta memilih instrumen investasi yang aman dan legal.

Untuk memperluas literasi tersebut, Bank Indonesia secara rutin melaksanakan berbagai program edukasi seperti CBP (Cinta, Bangga, Paham Rupiah) Goes to School, Goes to Campus, sosialisasi di kawasan wisata, forum diskusi kelompok (FGD), hingga berbagai kegiatan literasi keuangan di berbagai daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Ridzky juga menyoroti pelaksanaan Java Coffee and Flavor Festival, agenda tahunan Bank Indonesia yang menjadi wadah promosi bagi pelaku UMKM kopi, cokelat, dan rempah-rempah dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, festival tersebut menghadirkan pelaku usaha dan petani kopi dari berbagai sentra produksi nasional, mulai dari Jawa Timur, Aceh dengan Kopi Gayo, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Bali dan Nusa Tenggara.

Seluruh peserta yang mengikuti festival telah melalui proses kurasi untuk memastikan kualitas produk yang dipamerkan benar-benar memenuhi standar sehingga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar global.

“Kami ingin masyarakat menikmati kopi terbaik Indonesia. Karena itu setiap peserta harus lolos proses kurasi sehingga kualitas produk yang ditampilkan benar-benar terjamin,” ujarnya.

Bank Indonesia juga mempertemukan para petani kopi, pelaku UMKM, kafe, dan lembaga perbankan guna memperluas akses pembiayaan sehingga usaha mereka dapat berkembang dan naik kelas hingga berorientasi ekspor.

Ridzky menyebut sektor UMKM memiliki kontribusi sekitar 60 persen terhadap perekonomian nasional, sehingga penguatan UMKM, termasuk industri kopi, menjadi salah satu fokus utama Bank Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Terkait peredaran uang palsu, Bank Indonesia mengakui masih terdapat temuan di masyarakat. Namun, berbagai langkah mitigasi terus dilakukan melalui edukasi publik sekaligus penguatan koordinasi bersama aparat penegak hukum dalam wadah Botasupal (Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu).

“Sinergi antara Bank Indonesia, aparat penegak hukum, dan berbagai lembaga terus diperkuat untuk mencegah dan menangani peredaran uang palsu. Di sisi lain, masyarakat juga harus terus meningkatkan kewaspadaan dengan selalu melakukan pengecekan keaslian uang menggunakan metode 3D,” pungkas Ridzky.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!