- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur terus mendorong penguatan ekonomi dan keuangan syariah melalui pengembangan model bisnis UMKM, perluasan linkage usaha, serta pemanfaatan digitalisasi. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi daerah sekaligus meningkatkan daya saing produk halal Indonesia di pasar global.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto

Hal tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto, dalam talkshow bertajuk “Penguatan Model Bisnis dan Linkage Usaha Syariah yang Mendukung Sustainable and Halal Lifestyle, GPIPS, dan Digitalisasi” dalam rangka Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Convention & Exhibition, Surabaya.

Ridzky mengatakan, penguatan ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian dari strategi untuk membangun fondasi perekonomian daerah yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Menurutnya, UMKM syariah dan pesantren tidak hanya berperan sebagai pelaku aktivitas ekonomi, tetapi juga memiliki kontribusi strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi regional, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

ads

“Tema ini lahir dari kebutuhan strategis membangun fondasi ekonomi daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan. UMKM syariah dan pesantren tidak sekadar bergerak dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi bagian penting dari kemandirian regional dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Potensi Ekonomi Syariah Global Terus Meningkat

Ridzky menjelaskan, potensi ekonomi syariah global terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mengacu pada laporan State of the Global Islamic Economy Report 2025–2026, terdapat enam sektor utama yang menjadi penggerak ekonomi Islam, yakni makanan halal, keuangan syariah, pariwisata ramah muslim, fesyen muslim, media dan rekreasi, serta farmasi dan kosmetik halal

.Nilai konsumsi pada sektor-sektor ekonomi Islam global tersebut mencapai sekitar 2,6 triliun dolar AS pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 3,56 triliun dolar AS pada 2029.

Besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar produk halal, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta memperkuat posisi pelaku usaha nasional dalam rantai pasok global.

Indonesia sendiri memiliki sejumlah pencapaian dalam industri halal dunia. Berdasarkan pemeringkatan yang disampaikan Ridzky, Indonesia berada di peringkat keempat global dalam ekonomi Islam, peringkat pertama pada sektor fesyen muslim, peringkat kedua pada pariwisata ramah muslim, serta peringkat ketiga pada sektor makanan halal.

“Ini sebuah pencapaian yang sangat membanggakan. Namun, kita tidak boleh berhenti sampai di sini. Kita harus terus berusaha meningkatkan ekonomi syariah di Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, peluang tersebut perlu dioptimalkan melalui penguatan kapasitas usaha, peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, dan pengembangan ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi.

Dengan demikian, produk UMKM tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing untuk menembus pasar internasional.

UMKM dan Pesantren Jadi Kekuatan Ekonomi Daerah

Lebih lanjut, Ridzky menekankan bahwa UMKM memiliki peran penting dalam menopang perekonomian Indonesia.

Ia menyebutkan, UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Sementara itu, sekitar 15,7 persen UMKM telah berorientasi ekspor.

Dengan jumlah sekitar 64 juta pelaku UMKM di Indonesia, sektor ini memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menghasilkan produk kreatif dengan nilai tambah.

Menurut Ridzky, penguatan UMKM syariah perlu diarahkan pada pengembangan model bisnis yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya meningkatkan jumlah pelaku usaha, tetapi juga harus diikuti dengan peningkatan kapasitas, kualitas produk, akses pembiayaan, dan kemampuan menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain UMKM, pesantren juga dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah.

Berdasarkan data Kementerian Agama yang disampaikan dalam forum tersebut, Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan hampir 3 juta santri.

Besarnya ekosistem pesantren tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi melalui pengembangan unit usaha, kewirausahaan santri, pemberdayaan masyarakat sekitar, serta penguatan rantai pasok produk halal.

“Peran pesantren juga tidak kecil. Jumlahnya yang sangat besar merupakan potensi ekonomi yang bisa kita kembangkan untuk memperkuat kemandirian dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

Perkuat Sinergi dan Linkage Usaha Syariah

Dalam kesempatan tersebut, Ridzky juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang kuat dan berkelanjutan di Jawa Timur.

Melalui talkshow tersebut, para narasumber diharapkan dapat berbagi perspektif mengenai arah kebijakan, penguatan ekosistem, serta strategi pengembangan ekonomi syariah di daerah.

Keterlibatan berbagai lembaga, mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha dan pesantren, menjadi bagian penting dalam memperluas jaringan kemitraan atau linkage usaha.

Dari sisi pengembangan usaha, penguatan kapasitas pelaku UMKM, perluasan akses pasar, dan pembangunan jejaring kemitraan menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan usaha yang berkesinambungan.

Sementara itu, pengalaman lembaga pendidikan dan pesantren dalam mengembangkan kemandirian ekonomi diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan model bisnis syariah yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Digitalisasi juga menjadi aspek penting dalam memperkuat daya saing pelaku usaha, terutama untuk memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan efisiensi operasional, serta membuka peluang kemitraan dengan berbagai pihak.

Ridzky menegaskan, forum Fesyar Regional Jawa 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi konkret antar-pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi syariah.

“Marilah kita menjadikan forum ini sebagai titik tolak untuk memperkuat ekonomi dan kesejahteraan sebagai bagian dari ekosistem yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.

Ia optimistis, melalui kerja sama yang kuat dan berkelanjutan, pengembangan UMKM syariah, pesantren, serta industri halal dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

Fesyar Regional Jawa 2026 sendiri menjadi bagian dari upaya mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah melalui sinergi dan transformasi digital, sekaligus mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas peluang usaha dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!