- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur (sekarang Kemenduk Bangga/BKKBN) terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya dalam hal komunikasi publik. Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop public speaking dan beauty class yang melibatkan penyuluh KB, perwakilan ASN, serta jajaran pimpinan internal BKKBN Jatim.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, M.M.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar ASN mampu tampil lebih percaya diri, komunikatif, serta berpenampilan segar dan profesional saat memberikan layanan kepada masyarakat.

“Workshop ini kita gelar untuk meningkatkan kapasitas SDM, khususnya dalam hal komunikasi. Dengan adanya public speaking dan beauty class, kami berharap performa ASN semakin baik, segar, dan enak dipandang sehingga klien lebih nyaman berkomunikasi dengan kita,” ujar Ernawati.

Ia menegaskan, komunikasi yang efektif sangat dibutuhkan karena BKKBN merupakan lembaga yang diberi amanah untuk memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat. Peningkatan kompetensi komunikasi diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra dalam mensukseskan program Bangga Kencana.

ads

“Target kita adalah semua ASN, baik yang bertugas di kantor maupun di lapangan sebagai penyuluh KB, mampu berkomunikasi dengan baik. Dengan begitu, program Bangga Kencana bisa lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat,” tambahnya.

Selain peningkatan SDM, BKKBN Jatim juga menyoroti capaian penting dalam penurunan angka stunting. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru, prevalensi stunting di Jawa Timur berhasil turun dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.

“Alhamdulillah tahun ini ada penurunan yang signifikan, yaitu tiga poin. Capaian ini bukan hanya kerja BKKBN, tapi hasil kolaborasi berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota, LSM, hingga media,” ungkap Ernawati.

Secara khusus, Ernawati mengapresiasi capaian Kota Surabaya yang kini mencatat prevalensi stunting terendah di Indonesia, yakni 1,6 persen. “Artinya dari 10 anak, hanya ada 1 yang stunting. Ini luar biasa bagus dan kemungkinan menjadi daerah terendah se-Indonesia,” katanya.

Namun demikian, ia menegaskan masih ada daerah yang perlu mendapatkan perhatian lebih, khususnya di kawasan Tapal Kuda seperti Probolinggo dan Jember yang prevalensi stuntingnya masih tinggi.

“Kita optimis dengan kolaborasi yang terus terjalin, angka stunting di Jawa Timur bisa terus kita turunkan,” pungkas Ernawati.

(nald)