
MetroTimes (Surabaya) – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), Universitas Airlangga berhasil lolos pendanaan tingkat nasional pada tahun 2025. Tim Geopark, yang terdiri dari lima mahasiswa yaitu Bey Fitria Salsabila dan Muhammad Taufiq Hidayat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Diza Ulya Nurfaizah, Mohamad Devan Tri Oktavadhan, dan Bagas Putut Pratama dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Penelitian ini dibimbing oleh Angga Erlando, S.E., M.Ec. Dev, dengan tujuan mengkaji dampak penobatan status geopark berbeda terhadap masyarakat lokal. Studi ini mengkomparasikan Geopark Ijen yang berstatus UNESCO Global Geopark (UGGp) dengan Geopark Bojonegoro yang masih berstatus Nasional.
Apa yang diteliti?
Tim PKM RSH Geopark mengkaji lebih dalam 4 aspek utama, yakni dampak terhadap aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan pendidikan dari status penobatan geopark UGGp Ijen dan geopark nasional Bojonegoro. Selain itu, Tim Geopark juga menilai strategi pengembangan yang dijalankan di masing-masing kawasan tersebut. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, masyarakat, maupun pengelola geopark dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Apakah penobatan status Geopark berdampak terhadap masyarakat?
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan di dua lokasi, yaitu Geopark Ijen di Banyuwangi dan Geopark Bojonegoro. Dalam temuan riset ditemukan bahwa, perbedaan status geopark berpengaruh terhadap kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan pendidikan masyarakat lokal sekitar geopark. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa UGGp Ijen membawa dampak signifikan.
Pada aspek ekonomi jumlah kunjungan wisata mengalami peningkatan, namun peningkatan pendapatan masyarakat masih belum merata. Pada aspek lingkungan kualitas udara dan air serta keberlanjutan lingkungan mengalami tekanan akibat naiknya jumlah wisatawan. Sementara itu, Geopark Bojonegoro memiliki potensi yang besar, terutama melalui produk khas bersertifikasi geopark, namun dampaknya terhadap ekonomi lokal belum sekuat Ijen. Dari aspek sosial, partisipasi masyarakat di Ijen lebih luas, sedangkan di Bojonegoro masih terbatas. Pada bidang pendidikan, Ijen sudah mulai mengintegrasikan program pengenalan geopark dan menginisiasi program edukatif yang menyasar pada lembaga pendidikan, sementara Bojonegoro lebih banyak berkolaborasi dengan perguruan tinggi.
Tidak berhenti disini Tim Geopark UNAIR memperdalam penemuan penelitian melalui wawancara mendalam (In Depth Interview) dengan 8 narasumber utama yang terdiri dari tokoh masyarakat, pengelola geopark, dan Dinas memperlihatkan adanya perbedaan persepsi terhadap penobatan status UNESCO Global Geopark (UGGp). Pendalaman lebih lanjut dianalisis menggunakan Analisis Model Interaktif Miles dan Huberman (1994). Hasil analisis kuantitatif dikuatkan dengan hasil analisis kualitatif yang menyatakan bahwa jumlah pengunjung mengalami peningkatan, namun tidak menjadi representasi yang sama terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.
Apa kata stakeholder?
Penobatan UNESCO Global Geopark (UGGp) dapat menjadi katalis dalam meningkatkan branding situs potensi khas geopark pada forum internasional. Pada dua dekade terakhir telah dilakukan sebanyak 11 konferensi internasional geopark yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif GGN (Global Geopark Network). Pada tahun 2023 dilakukan Konferensi Internasional ke-10 tentang Geopark Global UNESCO Marrakesh M’Goun Geopark Global UNESCO 2023 (Maroko) konferensi ini sekaligus menjadi momen ketika Geopark Nasional Ijen dinobatkan sebagai UNESCO Global Geopark Ijen. Potensi penobatan yang meningkatkan branding tersebut tentunya menimbulkan antusiasme daerah lain yang memiliki warisan geologi khas terdorong untuk mengajukan penobatan serupa. “Pada akhir-akhir ini banyak dari perwakilan daerah yang menghubungi saya dan antusias untuk berlomba-lomba dalam pengajuan status geopark nasional di wilayahnya seperti Tulungagung dan Gresik” Ujar Misbah Tenaga Ahli Geopark BAPPEDA Provinsi Jawa Timur. Namun, penobatan UNESCO Global Geopark (UGGp) hanya memberikan sebanyak dua kuota bagi geopark nasional pada masing-masing negara. Sehingga, status UGGp menjadi status yang layak untuk dijaga dan dipertahankan.
Apa kata masyarakat ?
Penobatan status UNESCO Global Geopark (UGGp) berfokus pada tiga pilar utama yakni edukasi, konservasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan (pemberdayaan masyarakat). Masyarakat lokal turut menjadi salah satu agen yang penting dalam fokus utama UGGp. Tim PKM RSH Geopark telah melalui proses yang panjang dalam upaya bertemu dan berbincang lebih dalam dengan masyarakat lokal pada kedua objek geopark. Masyarakat lokal memiliki perspektif beragam utamanya terkait baik dalam penobatan situs maupun literasi terkait geopark. Pedagang sekitar Ijen dalam interview mengatakan “Saya sebagai pedagang UKM di Ijen sudah tau kalau Ijen menjadi bagian dari UGGp karena Dinas Pariwisata telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan saya mengikuti sosialisasi itu. Terkait dampaknya untuk usaha saya, tentu ada peningkatan dari segi pendapatan” Kata Bu Elis. Perspektif beragam masyarakat tidak hanya menunjukkan dampak positif, sebab peningkatan jumlah pengunjung juga menjadi potensi usaha bagi masyarakat sekitar. Akibatnya banyak unit usaha baru yang muncul dan membuat pendapatan sebagian masyarakat menurun. Pak Zaenal sebagai pemilik jasa sewa perlengkapan mendaki menyebutkan dalam interviewnya bersama Tim Geopark, “Pendapatan saya menurun mulai dari tahun 2022, sepertinya nominal pendapatan paling tinggi ada di tahun 2017 di mana masih sedikit orang-orang yang menyediakan jasa sewa perlengkapan mendaki”.
Langkah yang telah Dilakukan
Pada aspek pendidikan, kedua objek geopark menggunakan pendekatan tersendiri. “UNESCO Global Geopark (UGGp) Ijen tengah rutin menginisiasi kegiatan pengenalan geopark telah terintegrasi dalam pendidikan, seperti kegiatan Ngaji Geowisata yang diadakan di PIGGI (Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen) yang baru saja diselenggarakan pada bulan Juli lalu”, Ujar Firman Sauqi, Manager Edukasi dan Riset Ijen UNESCO Global Geopark. Selain itu, istilah geopark go to school dan school go to geopark juga menjadi kegiatan rutin yang telah terlaksana di UGGp Ijen. Sedangkan di Geopark Bojonegoro lebih banyak berkolaborasi dalam kegiatan kemahasiswaan dengan perguruan tinggi seperti Universitas Bojonegoro yang membuat skema KKN berfokus pada pengembangan situs-situs geopark yang tersebar pada daerah-daerah di Geopark Nasional Bojonegoro.
Bagaimana strategi pengembangannya?
Tim Geopark mehighlight perbedaan pendekatan strategi yang tengah diimplementasikan pada kedua wilayah geopark. UGGp Ijen berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan transportasi tambahan, serta pembuatan paket perjalanan antar-situs, sedangkan Geopark Bojonegoro lebih berorientasi pada penguatan kelembagaan dan persiapan menuju standar UGGp. Perbedaan ini menggambarkan tahapan perkembangan yang berbeda. Ijen sudah berada pada tahap penguatan kualitas dan promosi global, sementara Bojonegoro masih dalam tahap pembentukan sistem dan kesiapan pengajuan status UGGp.
Geopark Ijen lebih berorientasi pada branding internasional dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Sebaliknya, Geopark Bojonegoro fokus pada pembangunan infrastruktur dasar dan edukasi lokal sebagai langkah awal menuju standar UGGp. Perbedaan arah kebijakan ini menunjukkan bahwa setiap kawasan memiliki strategi yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan daerahnya. Tim Geopark juga merekomendasikan agar hasil riset tidak hanya berhenti pada analisis, tetapi ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan nyata. Rekomendasi kebijakan untuk kedua geopark berbeda-beda yang dituangkan dalam policy brief.
Hal-hal yang dapat Dikembangkan
Tim Geopark menyusun Policy Brief yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi stakeholder dalam mendukung evaluasi dan pengembangan upaya yang telah dilakukan selama ini. Adapun saran rekomendasi kebijakan bagi UGGp meliputi:
- PRIMA (Peningkatan Kualitas Manajemen dan Sasaran) yang mana kebijakan ini berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sistem manajemen kelembagaan Geopark Ijen dengan memperbaiki mekanisme perekrutan
- TERBUKA (Transparansi dan Rekrutmen Berbasis Keadilan Komunitas) untuk menciptakan proses perekrutan yang inklusif, adil, dan transparan dalam pengelolaan kawasan Geopark Ijen.
- SAKTI (Satu Akses Tiket Terpadu dan Inovatif) yakni sistem manajemen kunjungan wisata di kawasan Geopark Ijen melalui penerapan sistem penjualan tiket satu pintu yang terintegrasi secara digital.
- LESTARI (Lingkungan Sehat dan Terkontrol Berkualitas) yang berfokus pada penekanan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap kualitas lingkungan di kawasan Geopark Ijen melalui pembangunan stasiun pemantauan kualitas lingkungan.
- SIGAP (Sertifikasi dan Integrasi Gaya Pemandu Profesional) yang difokuskan pada peningkatan kualitas layanan wisata di kawasan Geopark Ijen melalui program pelatihan dan sertifikasi resmi bagi para pemandu (tour guide).
- RESIK Sampah 7R (Revolusi Sistem Kelola Sampah 7R) yang berfokus pada revolusi pengelolaan sampah di kawasan Geopark Ijen dengan menerapkan prinsip 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Repair, dan Replace).
- SEHAT (Sistem Travel Medicine dan Wellness Tourism) yang berfokus pada pembangunan sistem travel medicine di kawasan Geopark Ijen sebagai bagian dari penguatan konsep wellness tourism atau pariwisata berbasis kesehatan dan kesejahteraan.
- SIAGA (Shelter dan Infrastruktur Aman Geopark Area) dengan berfokus pada pembangunan emergency shelter sebagai langkah strategis dalam mitigasi risiko kecelakaan dan bencana di kawasan Ijen Geopark.
Sedangkan, pada geopark Bojonegoro tentunya diperlukan sebuah pendekatan yang berbeda dengan Geopark Ijen dengan merekomendasikan kebijakan meliputi :
- UMKM-PRO (UMKM Promotion and Resource Optimization) rekomendasi ini dapat membantu menciptakan identitas kuat bagi produk lokal yang terhubung dengan nilai-nilai konservasi dan keunikan geopark.
- DATA-ONE (Data Aggregation for Tourism and Networking Enhancement) dengan menyediakan website terintegrasi yang dapat mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan berbagai informasi terkait geopark, baik dari segi geologi, pariwisata, maupun kegiatan ekonomi yang ada di sekitar kawasan guna mendukung pengelolaan Geopark Nasional Bojonegoro yang lebih efisien dan terorganisir.
- PRICE-FIT (Pricing Regulation for Inclusive Trade), yang merupakan penetapan regulasi tarif batas bawah dan batas atas harga jual serta harga beli minyak mentah hasil tambang di wilayah Geopark Nasional Bojonegoro perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi dan melindungi kepentingan masyarakat
- TICK-IT (Ticketing Integration for Convenient Travel), yaitu membangun sistem ticketing online yang dilengkapi dengan antarmuka pengguna (UI) dan pengalaman pengguna (UX) yang ramah dan intuitif demi meningkatkan kenyamanan pengunjung dan mempermudah akses ke berbagai situs Geopark Nasional Bojonegoro
- ROUTE-X (Route Optimization and User Experience), suatu sistem optimasi rute perjalanan yang jelas dan efisien menuju situs-situs utama di Geopark Nasional Bojonegoro Untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan pengunjung.
- RENEW (Rehabilitation of Environmental Wells), suatu kebijakan yang melakukan revitalisasi sumur bekas tambang yang sudah tidak terpakai dan dibiarkan terbengkalai selama lebih dari satu tahun, khususnya bagi pemilik tambang yang tidak mengelola sumurnya.
- GREEN (Gaining Resources for Environmental Enzyme Neutralization), suatu kebijakan dengan mengadakan pelatihan pembuatan eco-enzym bagi masyarakat dan pelaku usaha tambang, dengan tujuan untuk mengolah limbah penambangan, khususnya limbah yang mengandung solar atau bahan kimia lainnya.
- KIDS-GEO (Kids Involved in Discovering Stories and Geopark Education), merupakan suatu program edukasi yang dirancang untuk mengenalkan konsep Geopark kepada anak-anak melalui pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif, menggunakan media buku cerita anak.
Penelitian yang dilakukan oleh TIM PK RSH Geopark membuktikan bahwasannya negara Indonesia memiliki potensi geologi khas yang sangat kaya sehingga perlu untuk dijaga dan dilestarikan. Kalau BUKAN KITA, LALU SIAPA…
(nald)







