
MetroTimes (Surabaya) – Mangesti Waluyo Sjati, Ketua Terpilih Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur, menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat jejaring pengusaha Muslim, mendorong hilirisasi pangan, serta memperluas kiprah pelaku usaha Jawa Timur di pasar internasional.

Melalui kepengurusan baru yang mengusung semangat regenerasi dan kolaborasi, ISMI Jatim menargetkan program-program yang tidak hanya memperluas jaringan bisnis, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi anggota, masyarakat, dan perekonomian daerah.
Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain Halal Expo Internasional, turnamen golf berskala internasional, serta penguatan kemitraan dalam pengembangan hilirisasi pangan untuk mendukung kemandirian pangan nasional.
Mangesti menyampaikan, kepengurusan baru ISMI Orwil Jatim merupakan perpaduan antara pengurus lama dan pengusaha generasi muda. Regenerasi tersebut tidak dimaksudkan untuk meninggalkan pengalaman para senior, melainkan menggabungkannya dengan energi, gagasan, dan kemampuan generasi baru dalam mengembangkan organisasi.
Menurutnya, tantangan ISMI ke depan adalah membuktikan manfaat konkret bagi setiap pengusaha yang bergabung. Organisasi harus mampu memberikan pendampingan, membuka peluang bisnis, memperluas akses pasar, serta membantu anggota menyelesaikan berbagai persoalan usaha.
“Sinergi dan kolaborasi jangan hanya menjadi jargon. Kita ingin mewujudkan network to value, bagaimana jaringan yang dimiliki benar-benar menghasilkan nilai tambah dan manfaat nyata,” tegas Mangesti.
Dalam pengembangan ekonomi, Mangesti juga menyoroti pentingnya hilirisasi pangan untuk menghadapi tantangan geopolitik dan geoekonomi menuju Indonesia Emas 2045. Ia menilai diversifikasi pangan, pengembangan singkong, penguatan produksi benih berkualitas, serta pengembangan komoditas strategis lainnya perlu dipersiapkan sejak sekarang.
ISMI Jatim, lanjutnya, siap membangun kemitraan dengan pemerintah daerah untuk mendukung program hilirisasi yang dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian, memperkuat industri pengolahan, dan membuka peluang usaha baru.
Di tingkat internasional, Mangesti menyebut Halal Expo Internasional menjadi salah satu agenda yang direncanakan untuk memperkenalkan ISMI sebagai Muslim Chamber of Commerce sekaligus memperluas jaringan perdagangan dan kemitraan pengusaha Muslim Indonesia.
Ia menegaskan, keberhasilan kepengurusan baru nantinya tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari seberapa besar dampak yang dihasilkan bagi anggota dan masyarakat.
Dengan mengedepankan integritas, regenerasi, serta kolaborasi lintas sektor, Mangesti berharap ISMI Orwil Jawa Timur dapat berkembang menjadi wadah pengusaha yang solutif, produktif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari arah baru kepengurusan ISMI Orwil Jawa Timur yang baru dilantik, sekaligus menjadi momentum konsolidasi organisasi melalui rangkaian pelantikan pengurus, Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), dan Kibar.
Ketua atau perwakilan pengurus ISMI yang memberikan keterangan, Mangesti Waluyo Sjati, menegaskan bahwa kepengurusan baru membawa semangat regenerasi dengan tetap menghargai kontribusi pengurus sebelumnya. Komposisi kepengurusan kini lebih banyak diisi pengusaha muda yang memiliki pengalaman bisnis, latar belakang pendidikan beragam, serta komitmen untuk mengembangkan organisasi melalui kerja nyata.
Menurut Mangesti, regenerasi bukan berarti meninggalkan pengurus lama, melainkan menggabungkan pengalaman, jaringan, dan pengetahuan para senior dengan energi serta gagasan baru dari generasi muda.
“Yang sudah baik akan kita lanjutkan bersama. Pengurus lama tetap menjadi bagian penting, sementara pengurus muda dipersiapkan untuk meneruskan dan mengembangkan organisasi ke depan,” ujarnya.
Mengubah jejaring menjadi manfaat nyata
Mangesti menilai, tantangan terbesar ISMI ke depan adalah menjawab pertanyaan mendasar para pengusaha mengenai manfaat nyata bergabung dengan organisasi tersebut.
Menurutnya, ISMI harus mampu memberikan pelayanan konkret kepada anggota, bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, atau menyelenggarakan seminar.
Ia menjelaskan, ISMI memiliki modal besar berupa akumulasi pengetahuan, pengalaman, dan jaringan bisnis para pengusaha senior dari beragam sektor. Modal tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pengusaha yang baru merintis usaha maupun pelaku bisnis yang sedang menghadapi persoalan.
Permasalahan yang dihadapi anggota pun beragam, mulai dari kehilangan pasar, kesulitan memperoleh jalur distribusi, hingga persoalan pembiayaan dan kredit macet.
Melalui jaringan yang dimiliki, ISMI diharapkan dapat mempertemukan anggota yang membutuhkan pendampingan dengan pengusaha yang mempunyai pengalaman dan kapasitas untuk memberikan solusi.
Dengan demikian, sinergi dan kolaborasi tidak berhenti sebagai jargon organisasi, tetapi diwujudkan melalui pelayanan, pendampingan, dan peluang usaha yang dapat dirasakan langsung oleh anggota.
“Selama ini terlalu banyak bicara, berdiskusi, dan seminar, tetapi miskin eksekusi. Ke depan, kita ingin mewujudkan network to value, yakni bagaimana jaringan yang dimiliki benar-benar menghasilkan nilai tambah,” tegas Mangesti.
Ia menambahkan, keberhasilan organisasi harus diukur dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada anggota, pengurus, serta masyarakat luas.
Hilirisasi pangan untuk memperkuat kedaulatan nasional
Selain penguatan jaringan bisnis, ISMI Jatim juga menaruh perhatian pada hilirisasi pangan sebagai salah satu strategi menghadapi tantangan ekonomi dan ketahanan pangan Indonesia menuju 2045.
Mangesti berpandangan bahwa perubahan geopolitik dan geoekonomi global menuntut Indonesia memperkuat kemandirian pangan. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dan input produksi tertentu perlu diantisipasi sejak sekarang agar tidak menjadi persoalan serius di masa mendatang.
Menurutnya, pengembangan hilirisasi pangan membutuhkan perencanaan jangka panjang karena hasilnya tidak selalu dapat dinikmati dalam waktu singkat.
Salah satu komoditas yang dinilai potensial adalah singkong atau cassava.
Tanaman ini dapat tumbuh di lahan relatif kering dan memiliki beragam kegunaan, mulai dari bahan pangan, pakan, hingga energi.
Singkong juga dapat diolah menjadi tepung, termasuk tepung mocaf (modified cassava flour), yang berpotensi menjadi bahan baku alternatif untuk berbagai produk pangan, seperti roti dan olahan lainnya.
Mangesti menilai diversifikasi sumber pangan menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas. Selain singkong, pengembangan jagung dan kentang juga perlu diperhatikan, termasuk penguatan penyediaan benih berkualitas bagi kebutuhan petani dan industri.
Ia menyoroti ketergantungan industri kentang terhadap pasokan impor, khususnya kentang untuk kebutuhan pengolahan industri. Karena itu, pengembangan benih lokal dan penguatan ekosistem produksi dinilai dapat menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian pangan.
Mangesti menyebut jaringan usaha yang dimilikinya telah mengembangkan produksi benih berkualitas, termasuk singkong dan kentang. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi modal untuk mendorong pengembangan komoditas pangan strategis di berbagai daerah.
ISMI Jatim, lanjutnya, akan berupaya membangun kemitraan dengan pemerintah daerah untuk mendukung program hilirisasi pangan. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk pertanian, memperkuat industri pengolahan, membuka peluang usaha, dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Jawa Timur.
Halal Expo Internasional menjadi pintu masuk pasar global
Dalam bidang pengembangan organisasi dan ekspansi bisnis, ISMI Jatim berencana menyusun program kerja secara lebih terarah melalui Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).
Mangesti mengatakan, konsolidasi awal akan dilakukan melalui pertemuan daring untuk menyamakan langkah, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan langsung guna merumuskan prioritas program organisasi.
Salah satu agenda yang tengah disiapkan adalah Halal Expo Internasional. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha, memperluas jejaring perdagangan, serta membuka akses pasar bagi produk-produk anggota ISMI.
Selain itu, ISMI Jatim juga merencanakan turnamen golf berskala internasional sebagai salah satu sarana memperluas jejaring dan meningkatkan eksposur organisasi di lingkungan bisnis global.
Mangesti menegaskan, kedua agenda tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Program internasional harus menjadi sarana untuk memperkuat posisi ISMI sebagai bagian dari jaringan perdagangan dan bisnis Muslim yang mampu membangun kerja sama lintas negara.
Ia ingin memperkenalkan ISMI kepada masyarakat internasional sebagai Muslim Chamber of Commerce, yakni wadah yang mempertemukan dan memperkuat kepentingan ekonomi para pengusaha Muslim.
Melalui program-program tersebut, ISMI Jatim berharap dapat membangun reputasi organisasi, memperluas peluang kemitraan, serta mendorong produk dan pelaku usaha daerah memasuki pasar yang lebih luas.
Regenerasi, integritas, dan kolaborasi lintas organisasi
Mangesti juga menekankan pentingnya integritas dalam menjalankan amanah organisasi. Menurutnya, ketakwaan dan nilai moral tidak cukup ditunjukkan melalui aktivitas keagamaan, tetapi harus tercermin dalam tanggung jawab, kejujuran, dan kesungguhan ketika seseorang menerima amanah.
Ia menyebut kepengurusan baru terdiri atas pengusaha dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam, termasuk dari perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Jember, dan Universitas Brawijaya.
Keberagaman tersebut dipandang sebagai kekuatan untuk membangun kolaborasi. ISMI, menurutnya, tumbuh dari semangat kebersamaan berbagai unsur umat Islam, termasuk Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.
Karena itu, perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan modal untuk saling melengkapi.
Mangesti mengajak seluruh pengurus membangun budaya organisasi yang mengedepankan kerja sama, saling mendukung, dan memperbaiki kekurangan satu sama lain, bukan menjadikan kelemahan rekan sebagai bahan untuk menjatuhkan.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan regenerasi bergantung pada kemampuan pengurus saat ini dalam meletakkan fondasi organisasi yang kuat agar dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Menjadikan ISMI bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui kepengurusan baru, ISMI Jatim ingin menempatkan kebermanfaatan sebagai ukuran utama keberhasilan organisasi. Penguatan jejaring usaha, pendampingan anggota, hilirisasi pangan, dan perluasan pasar internasional diharapkan saling terhubung dalam satu agenda pengembangan ekonomi.
Mangesti menilai, langkah besar tidak selalu harus dimulai melalui program yang rumit. Keberhasilan-keberhasilan kecil yang dilaksanakan secara konsisten dapat menjadi fondasi bagi pencapaian yang lebih besar.
Semangat tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi pengurus ISMI Jatim untuk menerjemahkan gagasan sinergi dan kolaborasi menjadi hasil yang terukur.
Dengan dukungan pengusaha senior, keterlibatan generasi muda, kemitraan pemerintah, serta partisipasi masyarakat, ISMI Jatim berupaya membangun organisasi yang bukan hanya memiliki jaringan luas, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.
(nald)









