- iklan atas berita -

Metro Times (Surabaya) – penyakit difteri yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jawa Timur, tidak luput pula terjadi di daerah Jember dan akan diatasi dengan secepatnya agar tidak sampai menjadi wabah nantinya.

Bupati Jember dr Hj Faida menjelaskan, bahwa sebenarnya kasus difteri di Jember tidak tinggi. “Ini KLB se-Jatim dan harus  diantisipasi dengan serius. Satu kasus saja, yang sebelumnya tidak ada sudah cukup dikatakan KLB. Jangan sampai difteri menjadi wabah dan harus diantisipasi,” katanya kepada media massa di Surabaya, Rabu (17/1).

Sebagaimana rilis  Humas Kabupaten Jember, sepanjang tahun 2017 terjadi 4 kasus Difteri di Jember. Di Jawa -Timur, jumlah itu sama dengan kabupaten Pamekasan, Magetan, dan Kota Mojokerto. Untuk 4 kasus Difteri di Jember, tidak ada penderita yang meninggal dunia.

Menurut Bupati Jember dr Hj Faida, penetapan KLB Difteri ini dalam rangka memproteksi Jember secara epidemologi dari wabah Difteri. Apalagi Gubernur Jawa Timur  juga telah menetapkan status KLB Difteri di Jatim.

Beredarnya isu bahwa vaksin difteri mengandung babi, ditepis langsung  oleh dr Faida, Bupati Jember, karena MUI telah mengatakan aman dan halal, tinggal mengkomunkasikan  pada masyarakat dengan benar, agar masyarakat tidak resah.

ads

“Tak ada penolakan dari masyarakat, kita baru konsolidsi dan sudah persiapkan hal itu. Kami  telah menginstruksikan untuk dilakukan imunisasi secara masif. Utamanya warga yang berusia  1 tahun sampai 19 tahun,” terangnya.

Upaya pencegahan bagi carrier (pembawa virus Difteri) dan suspect (penderita yang diduga) Difteri harus dilakukan secara masif. Melibatkan seluruh fasilitas kesehatan, baik Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL).

Pemberian imunisasi mencegah Difteri ini, menurut dr. Faida,  bisa dilakukan di Posyandu, Puskesmas, sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren dan sejumlah fasilitas.

“Saya lebih pada pelayanan kesehatan dan pemenuhan hak anak. Untuk itulah, para kepala sekolah dikumpulkan.  Sekolah harus menjamin  terpenuhi hak anak untuk imuniasi,” ucapnya.

Juga dilakukan monitoring yang hasilnya akan selalu dievaluasi setiap bulan. “Langkah ini untuk menyelamatkan masyarakat, khususnya generasi muda dari wabah Difteri. Imunisasi akan dilakukan serentak pada Januari, Februari, Juni dan Desember,” cetusnya. (nald)