- iklan atas berita -

Metrotimes (Purworejo)- Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) meluluskan dua orang mahasiswa penyandang disabilitas atau difabel tanpa skripsi. Dua mahasiswa program studi sarjana pendidikan bahasa dan sastra jawa itu merupakan pasangan suami istri.

Mahasiswa atas nama Udin Prasojo dan Umi Musfiroh itu telah menjalani sidang terbuka wisuda bersama 209 wisudawan wisudawati dari berbagai program studi pada Sabtu (9/5/2026).

Rektor Universitas Purworejo, Teguh Wibowo menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Purworejo merupakan kampus Inklusif. Ia pun memberikan aprisiasi tinggi terhadap sepasang suami istri penyandang disabilitas itu atas semangat serta dedikasinya dalam menyelesaikan pendidikan sarjana di kampus tersebut.

Udin dan Umi merupakan penyandang tuna netra. Keduanya berhasil lulus melalui alternatif skripsi ciptaan aransemen yang memperoleh hak cipta dari Kementerian Hukum RI. Udin Prasojo lulus dengan aransemen berjudul “Netra Rasa” dengan nomor pencatatan Kementerian Hukum 000999610. Sedangkan Umi Musfiroh lulus melalui alternatif skripsi karya cipta lagu berjudul “Rebab Tanpa Kawat”

ads

Rektor UMPWR dalam sambutannya menyoroti kondisi dunia yang tengah menghadapi krisis global akibat konflik geopolitik internasional yang berdampak pada ekonomi, energi, hingga ketidakpastian dunia kerja. Lulusan perguruan tinggi saat ini tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus siap menghadapi era disrupsi dan kompetisi global.

“Tantangan global harus dijawab dengan kesiapan kompetensi, ketahanan mental, dan moral keislaman. Jadilah problem solver, innovator, dan leader,” pesan Teguh.

Rektor juga menekankan pentingnya efisiensi energi dan penguatan sumber daya manusia di tengah ancaman krisis energi dunia.

Senada dengan Rektor Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi yang hadir pada kegiatan itu berpesan agar lulusan UMPWR mampu menjadi sumber daya manusia yang mempu menjawab persoalan bangsa.

“Permasalahan manusia dari dulu sampai hari ini masih sama, sejak jaman belanda sampai sekarang sama cuma beda cara. Dulu Belanda datang ke Indonesia datang ke Indonesia hanya untuk cari pala, karena saat itu pala menjadi komoditas yang harganya luar biasa,” kata Wakil Bupati.

Hari ini negara-negara Eropa maupun dari benua lain masih datang ke Indonesia dengan niat yang sama yakni mengambil hasil sumber daya alam yang di miliki Indonesia.

“Saya pernah ke Bangka Belitung. Saat ini pala itu berubah jadi timah. Di sana kita bisa menyaksikan, ketika daerah yang memiliki kekayaan alam seakan ada kutukan. Daerah kaya biasanya SDM kurang bagus dan angka kemiskinannya tinggi. Untuk itu, generasi kita jangan hanya mengandalkan SDA tapi harus bangkit untuk memperkuat SDM,” imbuh Dion.

Menurutnya, kuncinya kemajuan daerah adalah SDM yang terus dibangun sebab bangsa yang besar harus ditopang oleh peradaban serta SDM yang kuat pula. Ia pun memberikan harapan besar terhadap Universitas Muhammadiyah Purworejo untuk terus beristiqomah dalam mencetak SDM unggul.(toyib)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!