
MetroTimes (Surabaya) – Pameran EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026 resmi dibuka di Grand City Convex Surabaya, Kamis (18/6/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-16 di Kota Surabaya, ajang industri makanan dan minuman terbesar di kawasan Indonesia Timur ini menjadi wadah strategis bagi pelaku usaha, industri pengolahan pangan, UMKM, investor, distributor, eksportir, hingga buyer dari dalam dan luar negeri untuk memperkuat ekosistem industri pangan nasional.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Dr. Endy Alim Abdi Nusa, S.IP., M.M., yang mewakili Wakil Gubernur Jawa Timur. Dalam sambutannya, Endy menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang berhalangan hadir karena menjalankan tugas pemerintahan di lokasi berbeda.
Menurut Endy, penyelenggaraan EastFood Indonesia Expo 2026 memiliki arti strategis bagi Jawa Timur yang saat ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa.
“Berdasarkan data terbaru, ekonomi Jawa Timur pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh sebesar 5,96 persen dan menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa. Salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut adalah sektor industri pengolahan, khususnya industri makanan dan minuman yang terus menunjukkan kinerja positif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai lumbung pangan nasional dengan berbagai capaian produksi unggulan. Jawa Timur tercatat sebagai produsen utama nasional untuk komoditas jagung, cabai rawit, daging sapi, telur ayam, susu, tebu, garam, serta hasil perikanan tangkap.
“Potensi besar sektor hulu tersebut harus terus kita dorong agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi melalui pengembangan industri pengolahan pangan, inovasi produk, teknologi pengemasan, perluasan pasar, dan penguatan daya saing usaha,” katanya.
Menurutnya, EastFood Indonesia Expo menjadi ruang penting yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pelaku industri, UMKM, asosiasi, investor, distributor, buyer hingga mitra internasional dalam membangun rantai industri pangan dari hulu hingga hilir.
“Pameran ini bukan sekadar ajang promosi, tetapi menjadi wadah strategis untuk memperkuat ekosistem industri pangan. Masa depan industri pangan akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita dalam berinovasi dan berkolaborasi,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Endy, juga mengapresiasi komitmen penyelenggara yang terus memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk tampil dalam pameran bertaraf internasional.
“UMKM merupakan fondasi ekonomi daerah dan bagian penting dari rantai pasok industri pangan nasional. Harapan kami, keikutsertaan UMKM dalam EastFood Indonesia Expo tidak berhenti pada promosi produk semata, tetapi mampu menghasilkan kemitraan usaha, perluasan pasar, peningkatan kapasitas, transaksi bisnis, hingga peluang ekspor yang nyata,” tambahnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan bahwa EastFood Indonesia Expo 2026 menjadi penyelenggaraan ke-16 di Surabaya dan terus berkembang sebagai ajang perdagangan yang mempertemukan seluruh rantai nilai industri makanan dan minuman.
“EastFood Indonesia hadir sebagai pameran dagang yang mempertemukan produsen, penyedia bahan baku, industri pengolahan, pengemasan, distribusi hingga sektor hotel, restoran dan kafe (horeca). Surabaya sebagai gerbang Indonesia Timur menjadi lokasi yang sangat strategis untuk penyelenggaraan pameran ini,” ujarnya.
Daud menjelaskan bahwa tahun ini pameran mengalami perluasan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, sektor pengemasan yang sebelumnya tergabung dalam EastFood dipisahkan menjadi pameran tersendiri bertajuk AllPack Surabaya yang akan digelar pada 1–4 Juli 2026.
“Karena itu, EastFood tahun ini menjadi lebih fokus pada industri makanan dan minuman, sementara sektor packaging memiliki pameran khusus yang juga akan berlangsung di tempat yang sama,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, EastFood Indonesia Expo 2026 diikuti oleh 180 peserta, termasuk 30 UMKM dari Jawa Timur dan berbagai daerah di Indonesia. Penyelenggara menargetkan sekitar 20.000 pengunjung selama empat hari pelaksanaan pameran hingga Minggu mendatang.
Beragam program unggulan turut memeriahkan pameran, di antaranya Bakat Boga Challenge yang diikuti mahasiswa kuliner, siswa perhotelan, hingga chef profesional dari berbagai daerah. Selain itu terdapat master class pizza bersama chef asal Italia dengan tema Pizza Rasa Indonesia, workshop kopi, gelato, es krim, pastry, bakery, demonstrasi kuliner, hingga berbagai sesi bisnis dan temu buyer.
“Kami juga menghadirkan program hosted buyers untuk mempertemukan peserta pameran dengan calon pembeli potensial sehingga koneksi bisnis yang tercipta menjadi lebih terarah, efektif, dan produktif,” tambah Daud.

Dukungan terhadap penyelenggaraan EastFood Indonesia Expo 2026 juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman. Ia menilai industri makanan dan minuman merupakan sektor yang terbukti tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
“Banyak yang mengatakan industri makanan dan minuman adalah industri yang resilien. Tahun lalu industri ini tumbuh 6,38 persen dan pada Triwulan I 2026 tumbuh 7,04 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkapnya.
Adhi menambahkan, industri makanan dan minuman memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dengan menyumbang sekitar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan sekitar 43 persen terhadap PDB nonmigas.
Karena itu, menurutnya, pameran seperti EastFood Indonesia Expo sangat penting untuk mendorong inovasi, pertukaran teknologi, pengembangan produk baru, serta kolaborasi antarpelaku industri dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan geopolitik dan perubahan iklim.
“Melalui pameran ini para pelaku industri dapat saling berbagi pengalaman, berbagi inovasi dan teknologi terbaru sehingga mampu melahirkan ide-ide baru untuk terus mengembangkan industri makanan dan minuman Indonesia,” katanya.
Adhi juga memberikan apresiasi kepada Krista Exhibitions yang secara konsisten menghadirkan berbagai pameran industri berskala nasional dan internasional.
“Pameran seperti ini menjadi sarana penting bagi pelaku usaha, investor, maupun konsumen untuk melihat perkembangan terbaru industri makanan dan minuman Indonesia. Kami berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terus mendukung sektor ini agar mampu berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan EastFood Indonesia Expo 2026, Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional sekaligus gerbang perdagangan utama kawasan Indonesia Timur. Pameran ini diharapkan mampu melahirkan kerja sama bisnis baru, meningkatkan investasi, memperluas pasar UMKM, serta memperkuat daya saing industri pangan Indonesia di tingkat global.
(nald)




