
MetroTimes (Surabaya) – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat sejumlah indikator ekonomi daerah menunjukkan kinerja positif sepanjang Mei hingga April 2026. Inflasi masih berada dalam rentang terkendali, nilai tukar petani meningkat, dan ekspor tumbuh, meski sektor pariwisata domestik dan okupansi hotel masih menghadapi tantangan.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Juni 2026 yang digelar di Surabaya, Selasa (2/6/2026).
BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Jawa Timur pada Mei 2026 mencapai 3,49 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,83. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,28 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,43 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 1,57 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,75 persen, transportasi 0,41 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,23 persen, serta pendidikan 0,14 persen.
Kabupaten Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Jawa Timur sebesar 5,12 persen, sementara Kabupaten Tulungagung mencatat inflasi terendah sebesar 2,84 persen.
Di sektor pertanian, kesejahteraan petani menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada Mei 2026 mencapai 120,33 atau naik 3,32 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) naik menjadi 125,84 atau meningkat 3,24 persen.
Peningkatan tersebut dipengaruhi naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 3,76 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik 0,43 persen. Kenaikan NTP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang melonjak 11,77 persen.
Komoditas yang paling berkontribusi terhadap kenaikan pendapatan petani antara lain cabai rawit yang naik 16,33 persen, bawang merah 11,56 persen, serta bakalan sapi sebesar 5,40 persen.
Dari sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Jawa Timur periode Januari-April 2026 mencapai USD 8,52 miliar atau tumbuh 2,57 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara impor mencapai USD 10,39 miliar atau naik 7,31 persen.
Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar yang memberikan surplus perdagangan bagi Jawa Timur senilai USD 733,61 juta. Posisi berikutnya ditempati Jepang sebesar USD 506,39 juta dan Malaysia USD 314,80 juta.
Sementara itu, sektor pariwisata menunjukkan tren yang beragam. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Timur pada April 2026 mencapai 31.339 kunjungan atau meningkat 26,37 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Wisatawan asal Tiongkok mendominasi kunjungan ke Jawa Timur dengan kontribusi 36,46 persen, disusul Malaysia 20,30 persen, Singapura 6,55 persen, Thailand 5,66 persen, dan Taiwan 1,86 persen.
Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara mengalami penurunan signifikan. Pada April 2026 tercatat 15,40 juta perjalanan, turun 38,95 persen dibanding April 2025 yang mencapai 25,23 juta perjalanan.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang juga tercatat sebesar 46,80 persen atau turun 3,01 poin dibanding tahun sebelumnya. Namun dibanding Maret 2026, okupansi hotel berbintang meningkat 3,38 poin.
Pada sektor transportasi, mobilitas masyarakat masih cukup tinggi. Jumlah penumpang penerbangan domestik yang berangkat pada April 2026 mencapai 498,38 ribu orang, sedangkan penumpang datang sebanyak 400,79 ribu orang. Untuk penerbangan internasional, jumlah penumpang datang mencapai 97,15 ribu orang dan penumpang berangkat sebanyak 85,61 ribu orang.
Transportasi kereta api melayani 2,46 juta penumpang selama April 2026, sementara angkutan laut mencatat 250,46 ribu penumpang berangkat dan 146,38 ribu penumpang datang.
Herum Fajarwati menegaskan bahwa seluruh indikator dalam Berita Resmi Statistik menjadi cerminan kondisi ekonomi dan sosial Jawa Timur yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan daerah.
“Data statistik yang dirilis dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menyusun strategi pembangunan serta penguatan ekonomi daerah di tengah dinamika global dan nasional yang terus berkembang,” ujarnya.
(nald)




