
Liputan Khusus : Jaques Anthonius Latuhihin
MetroTimes(Jogya)-Semangat menjaga ruang kreativitas anak sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Angon Bocah Demakan #11 dan Pasar Wutah Kampung Demakan 2026. Kegiatan yang digagas oleh Sanggar Seni Nali Rasa bersama Pemuda Harapan Pemudi Kampung Demakan ini akan berlangsung pada 25–26 Juli 2026 di sepanjang Jalan Wiratama, Kampung Demakan, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta.
Memasuki tahun ke-11 penyelenggaraannya, festival budaya berbasis komunitas ini mengangkat tema “Tekun Teken Tekan”, sebuah filosofi Jawa yang sarat makna tentang ketekunan, tekad, dan keyakinan dalam meraih cita-cita.
Menurut panitia, tema tersebut merupakan refleksi dari nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat. Tekun bermakna ketekunan dalam berproses, teken berarti tekad dan pegangan hidup yang kuat, sementara tekan dimaknai sebagai tercapainya tujuan yang dicita-citakan. Filosofi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui usaha yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Festival Angon Bocah Demakan secara rutin diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Selama lebih dari satu dekade, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak sekaligus sarana pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.
Berbagai kegiatan edukatif, kreatif, dan budaya telah disiapkan, di antaranya pentas seni anak, lomba kreativitas, arena edukasi, workshop kepemudaan, hingga permainan tradisional yang bertujuan melestarikan warisan budaya lokal.
Sementara itu, Pasar Wutah akan menghadirkan lebih dari 50 stan kuliner, kerajinan tangan, dan produk UMKM hasil karya warga Kampung Demakan serta wilayah sekitarnya. Kehadiran pasar rakyat tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis komunitas.


Pengunjung juga akan disuguhi beragam pertunjukan seni dan budaya, antara lain Kirab Budaya dan Gunungan, Jathilan, Gedrug Buto, Topeng Gecul Sanggar Nali Rasa, Barongsai, Karawitan Sedya Rukun, Campursari Extravagongso, AM Plus, Seni Hadrah, hingga berbagai kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis, senam sehat lansia, dan workshop kepemudaan.
Ketua Kampung Demakan, Agung, berharap festival ini terus menjadi ruang pemersatu masyarakat sekaligus media pembelajaran bagi generasi muda.
“Festival Angon Bocah bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi menjadi sarana membangun karakter anak-anak, mempererat kebersamaan warga, dan menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Kampung Demakan. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Ketua RW 07 Demakan, Sutadi. Menurutnya, festival ini merupakan bukti bahwa kolaborasi masyarakat mampu melahirkan kegiatan positif yang berdampak langsung terhadap lingkungan sosial dan ekonomi warga.
“Kami berharap Festival Angon Bocah dan Pasar Wutah dapat menjadi agenda budaya yang semakin dikenal masyarakat luas serta mampu mengangkat potensi ekonomi kreatif warga melalui produk-produk UMKM yang ditampilkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua RT 26 Demakan, Danang, menilai kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat gotong royong dan keterlibatan generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kegiatan ini lahir dari semangat kebersamaan warga. Harapan kami, semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam pelestarian budaya dan kegiatan sosial kemasyarakatan sehingga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dapat terus hidup dan berkembang,” tuturnya.
Sebagai motor penggerak kegiatan, kalangan pemuda melalui Karang Taruna Kampung Demakan turut menaruh harapan besar terhadap keberlanjutan festival yang telah menjadi agenda tahunan masyarakat tersebut.
Perwakilan Karang Taruna sekaligus panitia pelaksana, Candra, menyampaikan bahwa Festival Angon Bocah dan Pasar Wutah merupakan ruang kolaborasi yang dibangun bersama oleh warga lintas generasi.
“Kami ingin festival ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk berani berekspresi, bagi pemuda untuk berkarya, dan bagi masyarakat untuk semakin bangga terhadap kampungnya sendiri. Harapan kami, kegiatan ini dapat terus berkelanjutan dan menjadi identitas budaya Kampung Demakan yang dikenal luas oleh masyarakat Yogyakarta maupun wisatawan,” ujar Candra.
Senada dengan itu, panitia pelaksana lainnya, Dotu, menilai bahwa keterlibatan seluruh elemen masyarakat merupakan kunci utama keberhasilan festival yang telah memasuki tahun ke-11 penyelenggaraannya.
“Festival ini lahir dari semangat gotong royong. Kami berharap masyarakat dapat hadir dan ikut meramaikan acara ini, karena selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mendukung pelaku UMKM lokal serta mempererat kebersamaan antarwarga. Semoga Festival Angon Bocah Demakan terus tumbuh dan menjadi agenda budaya yang dinanti setiap tahunnya,” tutur Dotu.
Menurut para penyelenggara, tema “Tekun Teken Tekan” menjadi semangat bersama untuk terus menjaga konsistensi dalam berkarya, melestarikan budaya, serta membangun Kampung Demakan melalui kegiatan-kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Festival Angon Bocah Demakan #11 dan Pasar Wutah 2026 terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya. Warga Yogyakarta maupun wisatawan diundang untuk hadir, menikmati berbagai pertunjukan budaya, mendukung produk UMKM lokal, serta merayakan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas Kampung Demakan.
Jadwal Kegiatan
Hari/Tanggal: Sabtu–Minggu, 25–26 Juli 2026
Waktu:
- Sabtu, 25 Juli 2026 : 13.00 – 22.00 WIB
- Minggu, 26 Juli 2026 : 07.00 – 22.00 WIB
Lokasi:
Jl. Wiratama, Kampung Demakan, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta
Gratis untuk Umum (Free Entry)
Mari bersama mengapresiasi kreativitas anak bangsa, merawat tradisi, memperkuat gotong royong, serta mendukung kebangkitan ekonomi kreatif lokal melalui Festival Angon Bocah Demakan #11 dan Pasar Wutah 2026.
Berbagai Pentas Seni Dan Budaya dalam Festival Angon Bocah Tahun Lalu









