
MetroTimes (Perak, Malaysia) — Ketersediaan hijauan yang berubah mengikuti musim dan ancaman penyakit parasitik menjadi tantangan bagi peternak kambing di wilayah tropis, termasuk Malaysia dan Indonesia. Kondisi tersebut mendorong akademisi dari kedua negara berbagi teknologi pengolahan pakan dan manajemen kesehatan ternak bersama peternak di Negeri Perak, Malaysia.
Kolaborasi Internasional akademisi Indonesia dan Malaysia di Negeri Perak ini menggabungkan pelatihan pakan fermentasi, pengendalian penyakit, dan teknologi reproduksi untuk meningkatkan produktivitas peternakan kambing.
Sebanyak 30 peternak anggota Koperasi Agro Ternak Melayu Perak Berhad (KATAM) mengikuti pelatihan pembuatan pakan fermentasi di Manong, Kuala Kangsar, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) dengan Institute of Tropical Agriculture and Food Security (ITAFoS), Universiti Putra Malaysia (UPM).
Para peternak diperkenalkan pada pembuatan silase berbasis probiotik sebagai salah satu cara mengantisipasi keterbatasan hijauan segar. Rumput yang telah dicacah dicampur dengan molases dan bahan probiotik, kemudian disimpan dalam wadah kedap udara untuk menjalani proses fermentasi.
Teknologi pengawetan tersebut memungkinkan peternak menyiapkan cadangan hijauan yang dapat disimpan lebih lama. Pengolahan pakan juga menjadi perhatian karena kecukupan nutrisi berkaitan erat dengan pertumbuhan, kesehatan, dan produktivitas kambing.
Ketua Tim Pengabdian FKH UNAIR, Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D., mengatakan bahwa peternak di Indonesia dan Malaysia menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda.
“Indonesia dan Malaysia menghadapi tantangan peternakan tropis yang sama. Karena itu, kami datang untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman lapangan,” ujarnya.
Persoalan kesehatan ternak turut menjadi perhatian. Sebuah kajian pada ruminansia kecil di Negeri Perak mencatat prevalensi infeksi cacing sebesar 86,86 persen dan koksidiosis sebesar 92,57 persen. Penyakit parasitik dapat mengganggu penyerapan nutrisi, menurunkan pertumbuhan, serta memengaruhi produktivitas ternak.
Bertukar Pengetahuan Pakan Lokal
Pelatihan tidak hanya berfokus pada teknik fermentasi. Peternak juga memperoleh pengetahuan mengenai pemanfaatan bahan pakan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Prof. Dr. Hasliza Abu Hassim dari FKH UPM, yang juga tergabung dalam ITAFoS UPM, menyampaikan materi nutrisi dan pengolahan pakan. Sementara itu, dosen FKH UNAIR, Dr. Zulfi Nur Amrina Rosyada, S.Pt., M.Si., memperkenalkan berbagai bahan pakan yang lazim dimanfaatkan peternak di Indonesia.
Pertukaran pengetahuan tersebut membuka peluang pemanfaatan bahan pakan lokal sebagai alternatif dalam penyusunan ransum. Selain mempertimbangkan kandungan nutrisi, peternak juga perlu memperhatikan ketersediaan, kualitas, dan keamanan bahan sebelum diberikan kepada ternak.
Direktur ITAFoS UPM, Prof. Dr. Anjas Asmara Samsudin, turut memperkuat pembahasan mengenai nutrisi dan manajemen pakan dalam forum diskusi bersama peternak. Pembahasan diarahkan pada persoalan yang dihadapi peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan kambing di lingkungan tropis.
Kesehatan dan Reproduksi Jadi Perhatian
Selain ketersediaan pakan, pengendalian penyakit dan manajemen reproduksi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan produktivitas peternakan kambing.
Guru Besar FKH UNAIR, Prof. Dr. Poedji Hastutiek, drh., M.Si., mengulas pengendalian penyakit parasitik. Sementara itu, Prof. Dr. Tri Wahyu Suprayogi, drh., M.Si., membahas manajemen reproduksi dan pemanfaatan teknologi inseminasi buatan pada kambing.
Pembahasan tersebut dilanjutkan dalam forum bertajuk Permasalahan dan Keperluan Penternak Ruminan Kecil. Forum ini mempertemukan peternak dengan akademisi serta praktisi kesehatan hewan dari kedua negara untuk mendiskusikan kendala yang dihadapi di lapangan.
Diskusi dipandu Dr. Wan Nor Fitri bin Wan Jaafar dari UPM. Selain Prof. Anjas, panel akademisi Malaysia menghadirkan Prof. Madya Dr. Annas Salleh dan Prof. Dr. Mohd. Zamri Saad. Dari FKH UNAIR, Yulianna Puspitasari bergabung bersama Prof. Poedji Hastutiek dan Prof. Tri Wahyu Suprayogi.
Jabatan Perkhidmatan Veterinar (Department of Veterinary Services/DVS) Negeri Perak turut berkontribusi melalui Muhammad Radzi bin Zainal Abidin dan Muhammad Naguib bin Aziz Azlan.
Melalui forum tersebut, peternak mendapat kesempatan menyampaikan persoalan pemeliharaan kambing secara langsung, sekaligus memperoleh masukan dari berbagai bidang keahlian.

Kegiatan ini mendapat dukungan DVS Negeri Perak dan dibuka secara resmi oleh Dr. Adil bin Ibrahim. Sejumlah perwakilan DVS lainnya juga hadir, yakni Nurul Hanis binti Mustafa, Hamizi bin A. Manan, Nordiana Asyikin binti Abdul Rahim, dan Nor Hanis binti Zuber.
Pengerusi KATAM, Mohd Helmi bin Mohamad Rozi, bersama anggota koperasi menyambut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas peternak di wilayah Manong.
Mesin Pencacah untuk Keberlanjutan Program
Agar teknologi pengolahan pakan dapat diterapkan setelah pelatihan, FKH UNAIR menyerahkan satu unit mesin pencacah hijauan atau chopper kepada KATAM. Mesin tersebut akan digunakan bersama oleh anggota koperasi untuk mempermudah penyiapan bahan pakan.
Bantuan juga mencakup satu paket desinfektan dan bahan pakan fermentasi. Penyerahan sarana ini diharapkan membantu peternak menerapkan praktik pengolahan pakan serta meningkatkan efisiensi kegiatan pemeliharaan.
Dalam pelaksanaannya, tim FKH UNAIR turut melibatkan Dr. Nanik Hidayatik, drh., yang memfasilitasi diskusi dan koordinasi dengan pengurus koperasi. Dua mahasiswa Magister Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Miftachul Abdillah Azhar dan drh. Idris Indrawan, juga terlibat dalam mendukung kegiatan pelatihan.
Program pengabdian masyarakat internasional tersebut dilaksanakan melalui skema Airlangga International Community Development–Faculty Global Network (AICOM-FGN) Universitas Airlangga.
Selain meningkatkan keterampilan pengolahan pakan, kegiatan ini menargetkan sedikitnya 80 persen peserta memahami manajemen pakan berbasis probiotik. Hasil evaluasi setelah pelatihan ditargetkan meningkat minimal 30 persen dibandingkan sebelum pelatihan.
Kerja sama tidak berhenti pada kegiatan tatap muka. FKH UNAIR dan ITAFoS UPM merencanakan pendampingan lanjutan secara daring serta penguatan kemitraan melalui perjanjian pelaksanaan antarinstitusi.

Melalui penguatan kapasitas peternak dan pemanfaatan teknologi tepat guna, KATAM diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pengembangan peternakan kambing yang lebih produktif dan berkelanjutan di Negeri Perak.
Program ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama ketahanan pangan (SDG 2), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), serta kemitraan untuk mencapai tujuan (SDG 17).
(nald)










