- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) menggelar Seminar Perunggasan dan Hewan Kecil sekaligus peluncuran buku “55 Tahun FKH UNAIR” dalam rangka memperingati perjalanan panjang institusi tersebut sebagai salah satu fakultas kedokteran hewan terbaik di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung meriah itu juga dirangkai dengan pelantikan pengurus SAGA VET atau Ikatan Alumni FKH UNAIR periode 2025–2030.

Dekan FKH UNAIR, Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh., M.Kes., menyampaikan bahwa peluncuran buku 55 Tahun FKH UNAIR menjadi bagian penting dalam merekam perjalanan sejarah fakultas sejak awal berdiri hingga visi pengembangan di masa mendatang.

“Buku ini merupakan napak tilas perjalanan FKH UNAIR mulai dari awal pendirian, perkembangan yang sangat pesat hingga gambaran FKH ke depan. Harapannya, FKH tetap menjadi fakultas kedokteran hewan terbaik,” ujarnya.

Menurut Prof. Lilik, FKH UNAIR tidak hanya berfokus pada kesehatan hewan semata, tetapi juga memainkan peran strategis dalam konsep One Health, yakni keterkaitan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.

ads

Ia mencontohkan munculnya berbagai penyakit zoonotik, termasuk hantavirus, yang membutuhkan kolaborasi erat antara tenaga kesehatan, lingkungan, dan kedokteran hewan.

“Dokter hewan memiliki peran penting dalam penanganan penyakit zoonotik. Keilmuan kami tidak sektoral, tetapi menjadi bagian dari pilar utama kesehatan global melalui konsep One Health,” katanya.

Prof. Lilik juga menyoroti dinamika perkembangan penyakit unggas, khususnya Newcastle Disease (ND), yang terus mengalami mutasi sehingga industri vaksin harus terus beradaptasi mengikuti perkembangan virus.

“Perkembangan virus sangat dinamis. Karena itu pengembangan vaksin juga harus mengikuti perubahan strain virus agar mampu menekan penyebaran penyakit ND di Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, ia menyinggung pentingnya pengembangan pangan fungsional melalui sektor peternakan. Menurutnya, pakan ternak di masa depan diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menghasilkan produk pangan bernutrisi tinggi bagi kesehatan manusia.

Sementara itu, Guru Besar FKH UNAIR sekaligus Ketua Pelaksana Seminar, Prof. Dr. Suwarno, menjelaskan bahwa seminar tahun ini mengangkat dua fokus utama, yakni bidang perunggasan dan hewan kecil.

“Untuk seminar unggas, kita mengangkat Newcastle Disease atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit tetelo pada ayam. Tahun 2026 ini tepat 100 tahun virus ND ditemukan di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyakit ND hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi industri perunggasan dunia. Meski vaksinasi terus dilakukan, virus tersebut tetap sulit diberantas karena memiliki reservoir alami seperti itik, entok, dan burung liar yang dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit.

“Virus ND sekarang semakin ganas. Ada strain G7 yang sangat virulen dan bisa menyebabkan kematian ayam hingga 100 persen. Pada ayam petelur bahkan bisa menurunkan produksi telur sampai 80 persen,” paparnya.

Dalam seminar tersebut juga dibahas pengembangan pakan unggas yang lebih efisien dan ekonomis tanpa menurunkan kualitas produksi ternak.

“Pakan unggas menyumbang lebih dari 70 persen biaya produksi. Maka tantangannya adalah bagaimana menghasilkan pakan murah tetapi kualitasnya tetap baik,” jelasnya.

Menariknya, Prof. Suwarno mengungkapkan bahwa virus Newcastle Disease yang selama ini dikenal berbahaya bagi unggas ternyata juga tengah diteliti sebagai terapi anti kanker pada manusia.

“Virus ND yang sudah dimodifikasi secara genetik dan dibuat tidak ganas ternyata berpotensi menjadi terapi untuk kanker paru, kanker payudara, kanker lambung hingga kanker darah,” ungkapnya.

Selain seminar perunggasan, seminar hewan kecil juga membahas berbagai kasus neurologi pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, termasuk penanganan cedera saraf akibat kecelakaan hingga penyakit degeneratif pada usia lanjut.

Dr. Rizky Fajar Meirawan, SKH., MFAP.

 

Di sisi lain, penulis buku “55 Tahun FKH UNAIR”, Dr. Rizky Fajar Meirawan, SKH., MFAP., menilai capaian FKH UNAIR saat ini merupakan hasil perjuangan panjang sejak berdiri pada akhir 1960-an.

“Secara ranking dunia, FKH UNAIR menjadi fakultas kedokteran hewan terbaik di Indonesia dan masuk 100 besar fakultas kedokteran hewan terbaik di dunia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ke depan FKH UNAIR harus bergerak menuju konsep teaching industry, yakni menghasilkan inovasi yang tidak hanya kuat secara ilmiah tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

“Kedokteran hewan harus mampu menghasilkan temuan yang aplikatif dan menyelesaikan persoalan di masyarakat, baik di bidang peternakan, kesehatan hewan, pangan maupun lingkungan,” katanya.

Dr. Rizky juga menyoroti pentingnya peran dokter hewan dalam menjaga ekosistem lingkungan dan mendukung ekonomi berkelanjutan, termasuk dalam isu carbon trade dan konservasi hutan tropis.

“Kalau populasi satwa seperti orangutan terjaga, maka hutan juga terjaga. Itu berkontribusi besar dalam penyerapan karbon dunia dan memiliki nilai ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, dokter hewan juga berperan penting menjaga ekosistem pesisir, hutan bakau, dan keberlanjutan sumber daya alam yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Melalui rangkaian seminar, peluncuran buku, dan pelantikan pengurus alumni tersebut, FKH UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat pengembangan ilmu kedokteran hewan yang adaptif, inovatif, dan berdampak luas bagi kesehatan manusia, hewan, serta lingkungan.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!