
MetroTimes (Surabaya) – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga kembali menerjunkan ratusan mahasiswa dalam program Merdeka Belajar Kampus Berdampak (MBKB) pemeriksaan hewan kurban Iduladha 2026. Sebanyak 330 mahasiswa dari jenjang S1, PPDH, S2 hingga S3 diterjunkan ke berbagai wilayah di Jawa Timur untuk melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem hewan kurban demi menjamin keamanan pangan asal hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.
Kegiatan tahunan yang digelar oleh Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR ini melibatkan mahasiswa lintas jenjang yang didampingi dosen pembimbing lapangan, mahasiswa pascasarjana, serta dokter hewan di masing-masing daerah penempatan.
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Prof. Dr. Lilik Maslachah menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari implementasi MBKB yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
“Ini merupakan kegiatan tahunan dan bagian dari MBKB, di mana mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem hewan kurban. Ini penting agar mahasiswa bisa mengimplementasikan teori yang diperoleh di kampus dengan kondisi nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum hewan disembelih guna memastikan hewan dalam kondisi sehat dan layak dipotong. Setelah penyembelihan, mahasiswa kembali melakukan pemeriksaan postmortem terhadap organ-organ hewan untuk memastikan daging aman dikonsumsi masyarakat.
Menurut Prof. Lilik, tingginya permintaan dari berbagai daerah menunjukkan profesi dokter hewan sangat dibutuhkan, terutama dalam menjaga keamanan pangan asal hewan yang bermuara pada kesehatan masyarakat.
“Mahasiswa yang diterjunkan tidak bekerja sendiri. Mereka didampingi dosen pembimbing lapangan, mahasiswa S2, S3, dan PPDH yang sudah berpengalaman. Jadi dalam satu wilayah terdapat tim lengkap,” katanya.
Salah satu mahasiswa peserta MBKB, Revo Haidara Elmirza mengatakan dirinya mendapat penugasan di Kabupaten Sidoarjo bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan.
“Nantinya kami melakukan pengecekan antemortem dan postmortem terhadap hewan kurban di sejumlah masjid. Untuk wilayah Sidoarjo sendiri ada sekitar 50 mahasiswa yang disebar ke berbagai kecamatan,” ungkapnya.
Revo menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut sangat penting karena memberikan pengalaman praktik langsung sebelum benar-benar terjun sebagai dokter hewan.
“Selama ini kami belajar teori di kelas, tapi melalui kegiatan ini kami bisa langsung hands-on di lapangan, melihat kondisi nyata, termasuk kemungkinan adanya penyakit atau temuan tertentu pada hewan kurban,” katanya.
Ia menambahkan, mahasiswa telah mendapatkan pembekalan akademik sesuai jenjang semester. Mahasiswa semester dua dibekali ilmu anatomi, semester empat mempelajari patologi untuk membedakan organ normal dan organ yang mengalami gangguan penyakit, sedangkan semester enam mendapatkan materi kesehatan masyarakat veteriner atau kesmavet.

Sementara itu, PIC kegiatan MBKB, Rury Mega Wahyuni menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang kesehatan masyarakat veteriner, khususnya pemeriksaan kesehatan hewan kurban ruminansia.
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam pemeriksaan kesehatan ternak, memberikan pengalaman langsung di lapangan, mendukung pengawasan keamanan pangan asal hewan, sekaligus mendukung pencapaian SDGs poin 2 tanpa kelaparan dan SDGs poin 3 kehidupan sehat dan sejahtera,” ujarnya.
Ia melaporkan, total peserta MBKB tahun ini mencapai sekitar 330 mahasiswa yang terdiri atas 231 mahasiswa S1, sekitar 40 mahasiswa PPDH, 15 mahasiswa S2 dari berbagai program studi, serta mahasiswa S3 Sains Veteriner.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta telah mengikuti pembekalan selama dua minggu yang mencakup materi anatomi, patologi, dan kesehatan masyarakat veteriner. Selain itu, koordinasi teknis juga dilakukan sebelum mahasiswa mulai melakukan pemeriksaan pada 26–27 Mei 2026.
Setelah pemeriksaan lapangan selesai, mahasiswa diwajibkan melakukan pendataan, pelaporan hasil pemeriksaan, evaluasi kegiatan, hingga penyusunan laporan akhir sebagai bagian dari penilaian MBKB.
FKH UNAIR berharap kegiatan tersebut dapat terus diperluas sehingga ke depan semakin banyak mahasiswa yang terlibat langsung dalam pengawasan kesehatan hewan kurban dan pengabdian kepada masyarakat.
(nald)






