
MetroTimes (Surabaya) – Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (FTMM UNAIR) memperkuat sinergi dengan orang tua mahasiswa baru melalui kegiatan Silaturahmi Orang Tua Mahasiswa Baru FTMM UNAIR yang digelar di Auditorium Candradimuka Lantai 9, Gedung Nano, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi FTMM UNAIR untuk membangun komunikasi sejak awal antara kampus, mahasiswa, dan keluarga. Kolaborasi ini dinilai penting untuk bersama-sama mengawal perjalanan pendidikan mahasiswa selama menempuh studi hingga empat tahun ke depan.

Dekan FTMM UNAIR, Prof. Dr. Ir. Retna Apsari, M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengatakan mahasiswa tidak dapat sepenuhnya dikawal hanya oleh pihak kampus. Menurutnya, mahasiswa berada di lingkungan kampus dalam waktu terbatas, sehingga peran orang tua tetap menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan.
“Alasannya karena kita tahu kondisi saat ini kita tidak bisa sendirian. Kita perlu kolaborasi bersama antara orang tua, kampus, mahasiswa yang bersangkutan, dan stakeholder lainnya,” ujar Prof. Retna.
Ia menjelaskan, kampus umumnya hanya dapat berinteraksi dengan mahasiswa selama jam kegiatan akademik. Setelah berada di luar kampus, tanggung jawab pengawasan dan pendampingan juga berada di lingkungan keluarga.
Karena itu, FTMM UNAIR memilih membangun komunikasi langsung dengan orang tua sejak mahasiswa baru mulai menjalani pendidikan. Pendekatan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengawasi mahasiswa secara berlebihan, melainkan menciptakan mekanisme komunikasi yang sehat ketika muncul persoalan.
“Intinya kita mengajak mereka untuk sama-sama bergandengan tangan untuk mengawal empat tahun ke depan proses pendidikan. Kalau ada apa-apa, akan lebih mudah untuk memantau dan menyelesaikannya bersama,” katanya.
Prof. Retna menilai komunikasi antara kampus dan orang tua menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Berbagai persoalan yang muncul di lingkungan mahasiswa terkadang tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pihak.
Menurutnya, persoalan mahasiswa dapat bersumber dari berbagai hal, termasuk komunikasi antara anak dan orang tua maupun kondisi mahasiswa ketika berada di luar kampus.
“Bisa jadi yang bermasalah bukan kita. Bisa jadi justru anaknya sendiri atau mungkin ada ketidakharmonisan antara orang tua dan anak. Karena itu dari awal kita mengajak mereka untuk bersama-sama mengawal,” jelasnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah perkembangan akademik mahasiswa. Orang tua perlu mengetahui apakah anaknya benar-benar mengikuti perkuliahan, memperoleh hasil akademik yang baik, serta menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa.
Prof. Retna mengungkapkan, terdapat kasus di mana orang tua baru mengetahui persoalan akademik anak setelah masalah tersebut sudah cukup serius. Bahkan, ada orang tua yang mengetahui bahwa anaknya ternyata tidak aktif mengikuti perkuliahan.
“Orang tua itu sampai menangis karena anaknya ternyata tidak pernah kuliah. Dengan adanya komunikasi seperti ini, kita bisa sama-sama melakukan kontrol,” ungkapnya.
Kontrol tersebut juga dapat dilakukan melalui sistem akademik, termasuk memantau kehadiran mahasiswa. Jika ditemukan data absensi yang tidak sesuai, pihak fakultas dapat segera melakukan pengecekan, baik terhadap mahasiswa maupun proses administrasinya.
Hadirkan Komunikasi Langsung dan Platform Digital
FTMM UNAIR juga terus memanfaatkan sarana komunikasi digital untuk memudahkan hubungan dengan mahasiswa maupun orang tua. Prof. Retna menyebut platform digital yang dimiliki kampus sebenarnya telah tersedia sejak lama, termasuk melalui aplikasi yang dapat diakses di Play Store.
Namun, menurutnya, keberadaan teknologi tersebut akan lebih efektif apabila disertai komunikasi langsung.
“Platformnya sudah ada di Play Store dan sudah lama. Tetapi dengan adanya duduk bersama seperti ini, komunikasi menjadi lebih baik,” ujarnya.
Pertemuan tatap muka dengan orang tua dinilai memberikan ruang untuk membangun pemahaman yang sama mengenai program pendidikan, aturan akademik, layanan mahasiswa, hingga mekanisme penyelesaian persoalan.
Bagi orang tua yang tidak dapat hadir karena jarak atau kendala lainnya, FTMM UNAIR tetap membuka jalur komunikasi melalui helpdesk, email, dan layanan WhatsApp.
Prof. Retna menegaskan, pintu komunikasi fakultas tetap terbuka bagi orang tua kapan pun membutuhkan informasi atau pendampingan.
Pada tahun akademik 2026, FTMM UNAIR menerima 519 mahasiswa baru yang tersebar pada lima program studi, yakni S1 Teknik Elektro, S1 Teknologi Sains Data, S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, S1 Rekayasa Nanoteknologi, serta S1 Teknik Industri.
Dalam kegiatan silaturahmi tersebut, jumlah kehadiran yang sebelumnya terkonfirmasi sebanyak 253 orang kemudian tercatat mencapai sekitar 276 orang.
Prof. Retna mengatakan, pihak fakultas sengaja membuka kesempatan yang lebih luas agar orang tua dari berbagai daerah dapat mengikuti kegiatan tersebut. Jika sebelumnya peserta lebih banyak diarahkan berdasarkan kedekatan lokasi, pada kesempatan ini informasi kegiatan disebarluaskan secara umum kepada orang tua yang ingin hadir.
“Yang penting kita bisa bertemu langsung dengan orang tua. Karena masing-masing orang tua tentu mengetahui kondisi dan karakter anaknya,” katanya.
Selain persoalan akademik, FTMM UNAIR juga menyampaikan perhatian terhadap aspek pembiayaan pendidikan dan kesempatan mahasiswa untuk berkembang hingga tingkat internasional.
Prof. Retna mengakui kemampuan ekonomi keluarga mahasiswa berbeda-beda. Ada mahasiswa yang berasal dari keluarga berkecukupan, namun ada pula mahasiswa yang membutuhkan dukungan pembiayaan.
Untuk itu, FTMM UNAIR memanfaatkan dukungan Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) UNAIR dalam membantu mahasiswa yang membutuhkan.
Menurut Prof. Retna, fakultas memiliki keterbatasan dalam menggunakan anggaran reguler untuk kebutuhan bantuan sosial. Karena itu, kebutuhan bantuan mahasiswa diarahkan melalui mekanisme PUSPAS.
“Kalau kita butuh bantuan, kita meminta bantuannya ke PUSPAS. Dari sana ada mahasiswa yang mendapatkan bantuan, termasuk untuk mendukung mereka yang membutuhkan,” jelasnya.
Ia menyebut dukungan yang telah diberikan melalui PUSPAS mencapai sekitar Rp120 juta. Di tingkat universitas, masih terdapat sekitar 200 mahasiswa yang membutuhkan dukungan dan belum seluruhnya memperoleh bantuan.
FTMM juga membuka ruang partisipasi bagi orang tua maupun pihak lain yang memiliki kemampuan untuk berbagi melalui program dana sosial tersebut.
“Kalau ada orang tua yang ingin berbagi, tentu kita informasikan. Kalau tidak juga tidak masalah. Intinya bagaimana kita bersama-sama membantu mahasiswa,” tuturnya.
Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya FTMM UNAIR membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, termasuk dalam program yang mengarah pada internasionalisasi.
Membangun Generasi Mahasiswa dengan Pendekatan Kolaboratif
Kegiatan silaturahmi orang tua mahasiswa baru ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FTMM UNAIR membangun pola pendidikan yang lebih kolaboratif. Fakultas ingin memastikan mahasiswa tidak hanya memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga mendapatkan dukungan lingkungan yang memadai selama menjalani masa studi.
Prof. Retna menegaskan bahwa kampus, mahasiswa, dan orang tua memiliki peran masing-masing. Kampus memberikan pendidikan dan pendampingan akademik, mahasiswa bertanggung jawab menjalankan proses pendidikan dengan baik, sedangkan orang tua menjadi mitra penting dalam memberikan dukungan dan pengawasan dari lingkungan keluarga.
“Intinya mengajak bergandengan tangan untuk membentuk versi terbaik dari anak-anak kita masing-masing, dibantu semuanya,” tegasnya.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi semakin penting di era saat ini karena pola komunikasi antara mahasiswa dan orang tua telah berubah. Mahasiswa memiliki akses luas terhadap informasi dan media sosial, sehingga komunikasi terbuka antara keluarga dan kampus diperlukan agar berbagai persoalan dapat ditangani sejak awal.
Dengan sinergi tersebut, FTMM UNAIR berharap perjalanan pendidikan 519 mahasiswa baru dapat dikawal secara bersama-sama, tidak hanya untuk mencapai prestasi akademik, tetapi juga membentuk lulusan yang memiliki kompetensi teknologi, karakter, kemampuan berkolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan global.
“Kalau ada kasus apa pun, kita duduk bersama. Karena pada dasarnya semuanya pasti bisa diselesaikan kalau kita berkomunikasi dan bergandengan tangan,” pungkas Prof. Retna.
(nald)









