- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Mega Proyek Pembangunan Bendung Bener di wilayah Kabupaten Purworejo sudah dimulai. Namun permasalahan dengan warga Desa Wadas, Kecamatan Bener sebagai tempat diambilnya quarry untuk pembangunan belum juga selesai.

Masyarakat desa tersebut menolak ditetapkan sebagai lokasi pengambilan batu karena takut akan mengganggu kehidupan mereka yang didapat dari perkebunan dan pertanian di bukit yang quarry-nya akan diambil.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang dimintai keterangan usai kampanye besek pengganti plastik menyampaikan bahwa pihaknya, melalui Bupati Purworejo akan melalukan dialog dengan warga.

“Dalam setiap pembangunan pasti selalu ada yang menolak, itu biasa. Kita ajak bicara saja, manfaat dan progress dari Bendungan ini. Kita ini berjuang lama agar dapat membangun Bendung Bener, jadi tidak akan berhenti,” lanjut Ganjar.
Dia juga menegaskan tidak akan mengubah Penlok (penunjukan lokasi) quarry yang telah dikeluarkannya. Rabu (23/10).

ads

Bupati Purworejo, Agus Bastian yang mendampingi Ganjar mengatakan dalam waktu dekat akan mengajak warga untuk berdialog. Dia juga mengatakan bahwa kemungkinan akan meniru diplomasi meja makan yang selama ini dilakukan oleh Presiden Joko Widodo.

Tokoh masyarakat Desa Wadas, Moh Suud yang dihubungi melalui pesan singkat menegaskan bahwa warganya tetap menolak quarry. “Selama ini belum ada undangan untuk berdialog dengan pemerintah. Jika diundang, kami akan musyawarahkan dulu,” tegas Uud.

Dia juga menjelaskan bahwa besok (24/11) 300 warga Desa Wadas akan berdemo ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak di Yogyakarta untuk memprotes Penlok quarrry di desanya. (dnl)