
Metro Times (Kebumen) – Jaminan kesehatan kebutuhan dasar yang tak bisa ditunda. Saat penyakit datang, kepastian biaya pengobatan jadi faktor krusial kecepatan penanganan medis. Manfaat ini dirasakan langsung Wiwi Nuryani (26), Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Petanahan, Kebumen.
Sebagai kepala SPPG, Wiwi punya mobilitas dan tanggung jawab besar memastikan program pemenuhan gizi berjalan optimal. Di tengah kesibukan, ia sempat mengalami demam tinggi dengan diagnosis tifus hingga dua kali rawat inap.
Beruntung, seluruh biaya pengobatan ditanggung Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Pelayanan yang saya terima ramah, baik, dan memuaskan. Tidak ada perbedaan perlakuan. Dengan JKN, saat sakit tidak ada lagi penundaan berobat karena khawatir tak bisa bayar,” ungkap Wiwi, Jumat (19/5/2026).
Pengalaman serupa dialami suaminya setahun lalu. Ia sakit demam berdarah dan harus rawat inap beberapa hari. Saat itu suaminya sedang pindah kerja, periode yang biasanya rentan finansial.
Berkat kartu JKN aktif, suaminya mendapat perawatan intensif tanpa membebani kas keluarga. Pengalaman ini membuat Wiwi sadar betapa vitalnya jaminan kesehatan saat kondisi darurat.
Sebagai generasi muda, Wiwi aktif menggunakan aplikasi Mobile JKN. Fitur yang sering ia pakai antara lain pendaftaran online di faskes, perubahan faskes, dan pengecekan iuran.
“Kini akses layanan JKN makin mudah dan praktis. Semua bisa diurus lewat handphone saja,” katanya.
Berangkat dari pengalaman pribadi, Wiwi berkomitmen mendorong seluruh relawan SPPG Petanahan segera terdaftar peserta JKN. Ia akan berkoordinasi dengan yayasan yang menaungi lembaganya.
“Memastikan kesehatan relawan terjamin adalah langkah awal menciptakan lingkungan kerja produktif, aman, dan tenang. Program JKN ini sangat penting untuk menjamin kesehatan kita dan keluarga,” tegasnya.
Wiwi berharap JKN terus meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan pelayanan prima, ia optimis kepercayaan masyarakat terhadap program strategis pemerintah ini makin kuat.(dnl).




