
Metro Times (Purworejo) Produktivitas gula kristal di Kabupaten Purworejo dan sekitarnya semakin tinggi dan terus meningkat setiap tahunya. Meski sudah sampai menembus pasar ekspor, sayangnya produk unggulan hasil deresan nira kelapa ini masih belum terserap optimal lantaran pemasarannya masih terbatas.
Sri Susilowati pegiat usaha gula semut mengungkapkan, kapasitas produksi gula semut yang mampu diproduksi oleh petani setiap bulanya mencapai 200 Ton. Jumlah ini baru sebagian dari produksi petani penderes yang masuk kedalam Koperasi wanita Srikandi Purworejo.
“Ada 208 orang anggota kita, sedangkan jumlah penderesnya sekitar 2.100 petani, tidak hanya dari Purworejo, tapi juga sebagian dari wilayah kabupaten lain seperti Wonosobo dan Kebumen,” kata Sri, yang juga menjabat sebagai ketua koperasi tersebut, Selasa (30/4).
Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan OVOP (One Village One Product) MOU Signing antara Koperasi Wanita Srikandi Purworejo dengan Komipo Indonesia. Agenda tersebut sekaligus menandatangai kerjasama pendampingan produksi gula kristal dari perusahaan dari Korea Selatan.
Kegiatan itu berlangsung di Centra Prosesing Unit (cpu), gula kristal organik, Cangkrep Kecamatan Purworejo, dihadiri oleh Direktur Utama Kotra (Korea Trade Invesment Promotion Agency), Kim Byung Sam, Direktur Utama PT Komipo Energy Indonesia, Beck Namhee, dan wakil dari kementrian serta dinas pertanian setempat.
Dalam sambutanya Sri menyebutkan, selama ini pemasaran gula semut sudah merambah ke luar negeri. Seperti di Sidney dan Kolombo. Sementara untuk pasar dalam negeri, produk gula kristal organik ini dipasarkan melalui kerjasama dengan sektor UMKM yang kebanyakan menjual oleh-oleh.
“Untuk ekspor baru 35 Ton sebulan, ke Sydney dan Kolombo. Kalau di pasar lokal ya berkisar 100 Ton lebih. Itu gula kristal organik. Jumlah produksinya belum optimal atau dibawah kapasitas 200 Ton mengingat kita belum memiliki jaringan pasar yang dapat menyerap itu semua,” ujarnya.
Sri menuturkan, harga dari gula semut sendiri dibanderol Rp 25.000 per pack dengan berat bersih setengah kilogram. Kalau untuk luar negeri, harganya bervariasi, tergantung dari kesepakatan antara pemesan dan pihaknya sebagai penyedia barang. Namun pasti lebih tinggi dibanding pasar lokal.
Selain berusaha meningkatkan jaringan pasar lokal, Sri juga mengaku berkeinginan untuk menambah wilayah pemasaran di luar negeri yang lebih luar. Seperti di Benua Eropa dan Amerika. Selain memiliki wilayah yang luas, kedua benua tersebut juga berstandar harga lebih tinggi.
Supaya menembus pasar tersebut, peningkatan terhadap mutu produk juga terus ditingkatkan. Salah satu caranya yakni dengan bekerjasama dengan perusahaan berstandar internasional dari negara Korea Selatan yang baru ditandatangani tersebut.
“Dengan adanya kerjasama ini saya berharap kualitas produk gula kristal organik kita akan lebih baik, sehingga diterima pasar yang lebih luas. Bantuan pendampingan dari Komipo ini juga akan memebantu dalam pemasaran yang lebih luas lagi,” pungkasnya.
Direktur Utama KOTRA Jakarta yang mendukung MOU OVOP ini, Kim Byung Sam mengatakan dirinya sangat mengapresiasi kerjasama antara perusahaan asal negaranya dengan Koperasi Srikandi Purworejo. Menurutnya kerjasama ini akan memberikan efek posotif bagi keduabelah pihak.
“Saat ini, Kotra memiliki 125 pusat bisnis di 83 negara. Dahulu negara kita kecil, bahkan masuk dikategorikan sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Namun berkat membuat produk yang bagus dan mengekspor, Korea dengan cepat berkembang. Saya harap gula semut juga dapat begitu,” katanya.
Sementara Direktur Utama PT KOMIPO Energy Indonesia, Beck Namhee menjelaskan, bentuk kerjasama ini meliputi kontrol kualitas produks. Upaya ini dilakukan supaya produk yang dihasilkan oleh petani sesuai dengan ketentuan ekspor. (dnl)




