
MetroTimes (Surabaya) – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang dirangkaikan dengan Hari Guru Nasional 2025 berlangsung khidmat dan penuh apresiasi di Surabaya, Jumat (13/12/2025). Kegiatan yang mengusung tema “Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas” ini dihadiri ribuan guru dari seluruh Jawa Timur.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam sambutannya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih mendalam kepada para guru atas dedikasi luar biasa dalam mencetak generasi penerus bangsa. Ia menegaskan bahwa peran guru tidak hanya sebatas transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values dan doa.
“Para guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengirimkan doa untuk anak-anak didiknya. Itulah kekuatan yang luar biasa,” ujar Khofifah dengan penuh haru.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemprov Jawa Timur memberikan hadiah umroh kepada 4 guru berprestasi serta 4 unit laptop bagi guru inspiratif lainnya. Khofifah bahkan berseloroh bahwa bagi guru yang “tidak jalan-jalan ke mal”, insyaallah akan “jalan-jalan ke Makkah dan Madinah”.
Khofifah juga memaparkan capaian gemilang dunia pendidikan Jawa Timur. Selama enam tahun berturut-turut (2020–2025), Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah tertinggi siswa SMA dan SMK yang diterima di perguruan tinggi negeri, baik melalui jalur tes maupun non-tes, termasuk jalur KIP.
“Semua ini adalah hasil tangan-tangan dingin para guru. Panjenengan semua sedang menyiapkan pemimpin Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menyampaikan bahwa Jawa Timur menjadi provinsi dengan pengangkatan guru PPPK tertinggi di Indonesia, serta mengusulkan tambahan sekitar 17 ribu guru PPPK untuk tahun mendatang.

Sementara itu, Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., menegaskan bahwa PGRI akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memajukan pendidikan nasional. Ia menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan guru dan dosen, termasuk perjuangan agar tunjangan profesi melekat dalam UU Sistem Pendidikan Nasional dan dibayarkan setiap bulan.
“Memperhatikan pendidikan berarti memperhatikan guru dan dosen. Tanpa itu, Indonesia tidak akan maju,” tegas Prof. Unifah.
Ia juga mengungkapkan keberhasilan pemerintah dalam sertifikasi 400 ribu guru pada 2025, serta program pengakuan pembelajaran lampau (RPL) bagi guru yang belum S1. Namun demikian, ia mengingatkan masih tingginya beban administratif guru yang berdampak pada well-being dan tingkat stres.
Selain itu, Prof. Unifah menyampaikan kepedulian PGRI terhadap guru dan sekolah di daerah terdampak bencana. PGRI membuka donasi nasional hingga Januari 2026 yang akan diprioritaskan untuk kebutuhan dasar seperti air bersih, kesehatan, dan keberlangsungan pendidikan.

Di sisi lain, Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur, Drs. Djoko Adi Walujo, S.T., M.M., menegaskan bahwa PGRI adalah mitra strategis pemerintah dan siap mengawal program-program pendidikan nasional. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi guru, mengingat maraknya kasus kriminalisasi terhadap tenaga pendidik.
“Kami mendorong pendekatan restorative justice. Tidak semua persoalan guru harus diselesaikan lewat jalur hukum,” tegas Djoko.
Ia menambahkan, peringatan HUT PGRI tahun ini tetap dilaksanakan secara terbatas karena adanya suasana duka nasional, meski antusiasme guru sangat tinggi dengan jumlah kehadiran mencapai 17.490 orang.
Peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama bahwa guru adalah fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.
(nald)




