- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Indopol Survey melakukan Survey Persepsi Publik terhadap Penanganan Covid-19 di Jatim; Evaluasi Kinerja, Implikasi Ekonomi dan Politik yang dilakukan pada tanggal 23-28 Juli 2020.

“Indopol survey ini tujuannya, mengetahui kinerja pemerintah provinsi Jawa Timur menurut persepsi publik selama enam bulan Covid-19 di Indonesia dari beberapa program dan kebijakan sudah dilakukan. Dan mengetahui perubahan perilaku sosial, budaya, ekonomi dan politik masyarakat Jawa Timur di pandemi Covid-19. Kemudian mengetahui dinamika politik akibat dampak kinerja pemerintah provinsi maupun kota/kabupaten dalam menanggulangi penyebaran Covid-19,” terang Ratno Sulistiyanto Direktur Eksekutif Indopol Survey.

Menurut Ratno, pandemi COV1D-19 di indonesia membawa dampak buruknya pekonomian nasional dan tidak lepas pula kehidupan perkonomian di daerah. Di Jawa Timur khususnya dalam kurun waktu 6 bulan sejak wabah covid-19 menjadi pandemic mayoritas public menilai kondisi rumah tangganya lebih buruk bahkan ditambah jauh Iebih buruk sebesar 85,496% dibandingkan dengan satu tahun ialu. Pendapatan rumah tangga masyarakat Jawa Timur juga memiliki kecenderungan menurun.

Jawa Timur pernah menjadi wilayah yang tingkat penyebaran Covid-19 tertinggi dalam kurun waktu 26 Juni – 6 Agustus 2020, sebelum diduduki DKI Jakarta. Namun berkat usaha keras segenap pemerintahan daerah di Jatim (Pemprov maupun pemkab/Pemkot) dapat menekan laju penularan Covid-19.

ads

Ratno menambahkan, dari hasil survey 68,296 masyarakat Jatim merasa puas dengan kinerja Pemprov Jatim dalam menangani Covid-19. Belum lagi tingkat kepuasan masyarakat cukup tinggi terlihat di institusi kepoIisian,TNl maupun Gugus Tugas Penangan Covid-19 didaerah maupun Nasional.

Dan juga beberapa program-program yang tetah dilakukan seperti adanya Kampung Tangguh, bansos, himbauan protokol kesehatan dan pembagian masker telah dinilai masyarakat bisa mengatasi kondisi dimasa pandemi covid 19 ini.

Tingkat kepuasan terbesar terdapat di Kota Probolinggo, Bondowoso, Nganjuk, Trenggalek, Sumenep, Probolinggo, dan Sampang. Sedangkan tingkat kepuasan terendah terdapat di Kota Batu, Bojonegoro, Pacitan, Sidoarjo, Kota Surabaya, Bangkalan, Lumajang, Gresik, Jombang, dan Blitar.

Tanggal 9 Desember 2020 nanti ada 19 kabupaten dan kota di seluruh Jatim yang menyelenggaran Pilkada. “Pilkada pada era wabah pandemi akan melahirkan situasi dan keadaan yang baru dan tidak terprediksi. Aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial akan mempengaruhi kualitas penyelenggaraan Pilkada. Menjadi pekerjaan rumah bagi KPU untuk bisa menyelenggaran Pilkada di masa pandemi ini,” papar Ratno

“Situasi pandemi Covid-19 memberikan implikasi terhadap situasi politik di Jawa Timur. Popularitas, Liketabititas dan Elektabilitas figur-figur pemimpin dimata publik bisa menjadi harapan dalam perbaikan dimasa pandemi. Mayoritas publik menilai bahwa yang Iayak memimpin JawaTimur adalah Khofifah, disusul Risma, Sukarwo, Emil Dardak dan Syaifullah Yusuf,” imbuh Ratno. (nald)