- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Pasuruan) – Komisi IV DPR RI bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyoroti pentingnya penguatan biosekuriti dan kesehatan sapi perah sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan rantai pasok susu nasional.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur di Grati, Kabupaten Pasuruan, Senin (28/9).

Kunjungan membahas penguatan koperasi susu dan rantai pasok, termasuk tantangan yang dihadapi peternak dalam menjaga populasi, produktivitas, kesehatan ternak, hingga sarana pascapanen.

Rombongan dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. Ia menekankan perlunya penguatan populasi dan produktivitas sapi perah lokal untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri.

ads

“Kemandirian susu nasional hanya bisa dicapai jika kita sungguh-sungguh memperkuat populasi dan produktivitas sapi perah lokal,” ujar Titiek di Pasuruan, Senin, (28/9).

Menurut dia, peningkatan produksi tidak cukup hanya melalui penambahan populasi. Peremajaan sapi perah, penggunaan bibit unggul, ketersediaan pakan, penguatan koperasi, serta perlindungan kesehatan ternak juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi susu.

“Koperasi peternak seperti KUTT Suka Makmur harus menjadi pilar utama produksi susu dalam negeri yang sehat, tangguh, dan sejahtera,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV juga menyoroti modernisasi fasilitas pascapanen di tingkat koperasi serta perlindungan terhadap kesehatan sapi perah.

Biosekuriti Dimulai dari Hulu

Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin Sriyanto mengatakan, penguatan produksi susu perlu berjalan beriringan dengan biosekuriti yang kuat.
Penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi karena dapat mengganggu kesehatan ternak dan produktivitas peternakan.

“Badan Karantina Indonesia berkomitmen penuh menjaga ekosistem peternakan nasional melalui penerapan biosekuriti yang ketat di seluruh tempat pemasukan, pengeluaran, serta pelintasan antarwilayah,” ujar Sriyanto.

Menurut dia, penguatan koperasi susu harus diikuti dengan sistem pengawasan kesehatan ternak yang memadai.

“Penguatan koperasi susu seperti KUTT Suka Makmur harus diimbangi dengan jaminan bahwa sapi-sapi perah bebas dari ancaman PHMS,” katanya.

Barantin melakukan pengawasan terhadap lalu lintas hewan dan komoditas terkait untuk mencegah masuk dan tersebarnya penyakit hewan karantina.

Pengawasan juga mencakup pemasukan bibit maupun bakalan sapi serta komoditas lain yang menjadi media pembawa risiko penyakit. Selain itu, tindakan karantina dilakukan untuk memastikan hewan yang dilalulintaskan memenuhi persyaratan kesehatan sebelum masuk ke daerah tujuan.

Sriyanto mengatakan, biosekuriti bukan hanya berkaitan dengan pencegahan penyakit. Kesehatan ternak juga memiliki hubungan langsung dengan keberlanjutan usaha peternak karena gangguan penyakit dapat memengaruhi produktivitas dan rantai pasok susu.

“Melalui tindakan karantina yang disiplin dan mitigasi risiko yang kuat, kita tidak hanya melindungi investasi peternak lokal, tetapi juga mengamankan rantai pasok hulu demi terwujudnya kemandirian susu nasional,” ujarnya.

Karena itu, perlindungan kesehatan sapi perah perlu dilakukan sejak dari tingkat peternakan, pergerakan ternak antarwilayah, hingga masuk ke rantai produksi.

Dalam kunjungan tersebut, Barantin diwakili Deputi Bidang Karantina Hewan Sriyanto, Direktur Manajemen Risiko, serta jajaran Karantina Jawa Timur. Kunjungan juga menjadi ruang untuk membahas penguatan koordinasi antara pemerintah, DPR, koperasi, dan pelaku peternakan dalam membangun rantai pasok susu yang lebih kuat.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!