Oplus_16908288
- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Jawa Timur mengirim sinyal kuat arah baru pendidikan vokasi nasional: tidak lagi sekadar mencetak tenaga siap kerja, tetapi mendorong lahirnya inovator dan pencipta teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Pesan ini mengemuka saat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mendampingi Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Dikmen dan Diksus) Kemendikdasmen RI, Tatang Muttaqin, dalam peninjauan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Dikmen Jawa Timur di SMKN 5 Surabaya.

Berbeda dari pola lama yang berfokus pada kompetensi dasar, LKS kali ini menampilkan kesiapan siswa dalam ekosistem industri nyata—mulai dari presisi kerja, problem solving, hingga adaptasi teknologi.

“Kami melihat bukan hanya keterampilan, tetapi juga karakter kerja dan kesiapan industri. Ini yang menjadi kunci daya saing Indonesia ke depan,” tegas Tatang Muttaqin.

ads

Sorotan utama justru datang dari luar arena lomba. Di Sidoarjo, inovasi mobil listrik karya siswa SMK YPM 8 menjadi simbol pergeseran besar pendidikan vokasi: dari pengguna teknologi menjadi produsen teknologi.

Langkah ini dinilai sejalan dengan agenda nasional transisi energi dan penguatan industri berbasis teknologi ramah lingkungan. Keterlibatan siswa SMK dalam pengembangan kendaraan listrik menunjukkan bahwa hilirisasi inovasi bisa dimulai dari bangku sekolah.

“Ini bukan sekadar proyek sekolah. Ini embrio industri. Jika didukung ekosistem yang tepat, karya seperti ini bisa masuk ke rantai pasok nasional,” ujar Aries.

Di sisi lain, inovasi berbasis ekonomi sirkular juga mencuat. Siswa SMKN 5 Surabaya mampu mengolah limbah menjadi produk bernilai jual tinggi—membuktikan bahwa pendidikan vokasi dapat berperan langsung dalam menjawab isu lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

Dirjen Tatang menilai pendekatan ini sebagai kombinasi strategis antara entrepreneurship, sustainability, dan inovasi.

“Yang kita lihat di sini adalah model pembelajaran masa depan: siswa tidak hanya dilatih bekerja, tetapi menciptakan nilai tambah. Ini yang akan menentukan posisi Indonesia dalam kompetisi global,” ujarnya.

Momentum ini mempertegas bahwa transformasi vokasi tidak cukup berhenti pada kurikulum dan pelatihan, tetapi harus terhubung dengan industri, riset terapan, serta dukungan kebijakan yang mendorong komersialisasi karya siswa.

Jawa Timur, dalam konteks ini, mulai menunjukkan peran sebagai laboratorium nyata penguatan pendidikan vokasi nasional—tempat di mana kompetisi, inovasi, dan kebutuhan industri bertemu dalam satu ekosistem.

Jika model ini direplikasi secara luas, pendidikan vokasi berpotensi menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

(nald)