
MetroTimes (Surabaya) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya bersama komunitas peduli lingkungan dan Lions Club Surabaya Sejahtera menggelar kampanye pengurangan sampah, terutama sampah organik dan popok sekali pakai, sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam gerakan zero waste.
Kepala DLH Kota Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan bahwa sekitar 70 persen sampah di Surabaya adalah sampah organik, dengan porsi terbesar berasal dari sisa makanan (food waste). “Indonesia menduduki tiga besar penyumbang food waste di dunia. Kita perlu mengubah perilaku konsumsi kita, misalnya saat hajatan atau acara syukuran agar sisa makanan tidak terbuang sia-sia,” tegas Dedik.
Selain fokus pada sampah organik, Pemkot Surabaya melalui Wali Kota juga menginisiasi gerakan penggunaan popok pakai ulang sebagai solusi masalah popok sekali pakai yang mencemari sungai. Dedik mengungkapkan, hasil riset menemukan jutaan popok sekali pakai di Sungai Brantas, yang merupakan sumber bahan baku air PDAM. “Popok sekali pakai mengandung mikroplastik dan gel yang butuh waktu 500 tahun untuk terurai. Kalau kita tidak mengubah perilaku, sampai lima keturunan ke depan, popok itu masih ada di bumi,” jelasnya.
Program popok pakai ulang Surabaya bahkan masuk 50 finalis Mayors Challenge 2025 yang digelar Bloomberg Philanthropies di New York. “Saya diundang ke Kolombia untuk memaparkan program ini karena ternyata masalah popok sekali pakai terjadi di hampir seluruh kota di dunia. Dengan popok pakai ulang, manfaatnya luar biasa, dari sisi lingkungan, kesehatan bayi, hingga ekonomi keluarga yang bisa hemat sampai 60%,” kata Dedik.
Sementara itu, Tatik Effendi, SH, dari Lions Club Surabaya Sejahtera menambahkan pihaknya secara rutin melakukan edukasi masyarakat agar semakin mencintai lingkungan, salah satunya dengan membuat dan menyalurkan eco enzim ke sungai untuk mengurangi polusi. “Sungai adalah sumber kehidupan, terutama Kalimas. Kita ingin masyarakat sadar pentingnya menjaga sungai, mulai dari mengurangi sampah sekali pakai, membawa tumbler, sapu tangan, hingga mengurangi penggunaan tisu,” ujarnya.
Kami juga hadir bersama dgn guru,Kepsek Sekolah Luar Biasa Harapan Bunda,serta Fira Modelling Disabilitas dari
Rumah Anak Prestasi
Pemkot Surabaya
Kegiatan ini juga dihadiri Maria Singgih, Ketua RT 04 RW 08 Kelurahan Ketabang yang juga Wakil Ketua Bidang Lingkungan 4 Santa Monika,di Gereja Kristus Raja. Ia mengaku akan membawa hasil edukasi ini ke warganya. “Ini bagus sekali. Akan kami terapkan di lingkungan gereja maupun RT/RW agar masyarakat sadar dan mau memulai kebiasaan nol sampah,” tuturnya.
Para peserta kegiatan sepakat bahwa kolaborasi pemerintah, komunitas, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. DLH Surabaya berharap gerakan ini dapat berjalan secara berkelanjutan (sustainable) dan menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah.
(nald)








