- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan implan Total Knee Arthroplasty (TKA) untuk menjawab kebutuhan implan lutut yang sesuai dengan karakteristik populasi Asia. Pengembangan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Fakultas Sains dan Teknologi (FST).

Saat ini, pengembangan tersebut telah memasuki tahap pengujian pra klinis in vivo yang dilakukan di Rumah Sakit Hewan (RSH), Kampus MERR-C. Dalam pengembangan tersebut, UNAIR juga melibatkan mitra industri, yakni PT Trafas Dwi Medika yang diwakili oleh Septian Indra Wicaksana.

Persoalan kesesuaian produk TKA di pasaran dengan karakteristik anatomi populasi Asia menjadi latar belakang pengembangan implan lutut. Dosen FST UNAIR, Prof Dr Prihartini Widiyanti drg MKes SBio CCD menjelaskan bahwa desain implan tersebut berdasarkan pada data antropometri dan anatomi lutut masyarakat Asia. Bentuk sendi yang asimetris serta kebutuhan aktivitas dengan tingkat fleksi tinggi menjadi aspek pertimbangan.

“Desain ini kami sesuaikan dengan anatomi masyarakat dan kebutuhan aktivitas yang membutuhkan fleksi tinggi. Misalnya gerakan saat salat dan posisi duduk tertentu,” jelasnya.

ads

Mengembangkan Desain Berbasis Anatomi

Lebih lanjut, Prof Prihartini menyebut bahwa proses riset telah berlangsung sejak 2024. Setelah desain terselesaikan pada 2025, tim menyeleksi 68 kandidat material secara in silico menggunakan metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS).

Hasil seleksi menghasilkan tiga kandidat material untuk pengujian in vitro menggunakan sel dan pengujian mekanis. Material tersebut berasal dari Perancis, Tiongkok, dan Jerman. Material terpilih kemudian menjalani pengujian in vivo di Rumah Sakit Hewan UNAIR. Setelah 40 hari implantasi, tim melakukan pengambilan sampel jaringan tulang, darah, dan organ pada Selasa (1/9/2026). Sampel digunakan untuk menganalisis osteointegrasi, biokompatibilitas, respons imunologis, hematologi, dan toksisitas.

Muhammad Hafizh Athari ST MT, lulusan Magister Teknik Biomedis UNAIR yang berkontribusi dalam pengembangan TKA, menjelaskan bahwa pengujian dilakukan untuk memastikan respons tubuh terhadap biomaterial.

“Pengujian kami lakukan untuk mengetahui respons tubuh terhadap biomaterial. Mulai dari osteointegrasi, biokompatibilitas, respons imunologis, hingga toksisitas. Seluruh pengujian mengacu pada standar ISO,” ungkapnya.

Kolaborasi Lintas Bidang Menuju Hilirisasi

Dalam kolaborasi ini, FK UNAIR berkontribusi pada aspek klinis dan kebutuhan ortopedi, ssementara Teknik Biomedis FST UNAIR berfokus pada desain serta biomaterial, sedangkan RSHP FKH UNAIR mendukung pengujian praklinis. PT Trafas Dwi Medika berperan dalam produksi, pembentukan komponen, pengadaan material, serta regulasi dan registrasi produk.

Hasil sementara pengujian menunjukkan respons yang sesuai dengan harapan tim. Desain implan juga telah dipatenkan. Setelah analisis dan pelaporan selesai, tim menargetkan pengembangan berlanjut menuju hilirisasi dan produksi.

Inovasi tersebu harapannya dapat menghasilkan implan yang sesuai dengan karakteristik pasien Asia sekaligus mengurangi ketergantungan produk impor. Kolaborasi akademisi, tenaga medis, rumah sakit pendidikan, dan industri menjadi langkah penting dalam mendorong hasil riset UNAIR agar dapat dimanfaatkan masyarakat.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!