- iklan atas berita -

METROT8MES ( AMBON, ) 2 September 2026 — Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon, Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., menyoroti sikap pengurus Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Kota Ambon yang dinilai tidak beretika setelah meminta masukan konsep acara “Ambon Bershalawat” namun tiba-tiba hilang tanpa kabar hingga kegiatan selesai.

Apa yang terjadi?
Kronologi bermula pada 14 Agustus 2026, ketika pihak LASQI yang diwakili oleh seseorang bernama Ari beserta Ibu Devi Bin Umar menemui Habib Rifqi di Cafe Pelangi sekitar pukul 14.00 siang. Pada pertemuan tersebut, Habib Rifqi menjelaskan secara rinci konsep acara yang meliputi pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Mahalil Qiyam, hadrah, dan Banjarriyah. Konsep ini kemudian dibahas kembali pada pertemuan kedua di Hotel Santika pada 16 Agustus 2026.

Namun setelah pertemuan kedua, tidak ada komunikasi sama sekali hingga tanggal 23 Agustus 2026. Ketika dihubungi, pihak LASQI hanya menjawab melalui pesan video tanpa panggilan langsung, dan sejak saat itu tidak ada kabar hingga acara selesai. Padahal, pihak LASQI yang menghubungi Habib Rifqi terlebih dahulu, bukan sebaliknya. Usman Bugis dari KESRA juga turut terlibat dalam awal komunikasi ini sebagai saksi.

Mengapa menjadi masalah?
Habib Rifqi menegaskan bahwa dirinya tidak mempersoalkan penggunaan konsep acara tersebut maupun soal uang. Bahkan pada 17 Agustus 2026, ia bersama Ustadz Fatih Karim dari Jakarta mengisi acara syukuran Proklamasi di kediaman Wakil Wali Kota Ambon tanpa meminta bayaran sepeser pun.

Yang menjadi masalah adalah etika komunikasi. Menurutnya, jika konsep tidak dipakai atau ada kendala, pihak LASQI seharusnya menyampaikan kepastian — ya atau tidak — agar waktu pihak lain tidak terbuang sia-sia. Apalagi, pemain gambus saja ditelepon secara langsung untuk diundang mengisi acara, sementara dirinya yang sudah memberikan konsep justru diabaikan tanpa kepastian.

ads

“Apa karena kita bukan orang pemerintah, bukan orang kaya, bukan orang pejabat? Lantas kami ini ulama dan tokoh agama dipermainkan begitu?” tegas Habib Rifqi.

Ia menambahkan, LASQI sebagai lembaga seni qasidah yang berisi pujian kepada Nabi seharusnya menjadi teladan etika dan moral, bukan justru mengabaikan orang yang telah dimintai bantuan.

Apa harapan Habib Rifqi?
Habib Rifqi tidak menuntut hal lain selain klarifikasi secara langsung dari pihak yang bersangkutan atau diwakili oleh Ketua LASQI Kota Ambon. Jika memang ada kesalahan, akui dan minta maaf secara terbuka. Ia juga mengingatkan agar persoalan ini tidak dilebarkan atau diseret ke ranah Pemerintah Kota Ambon, karena dirinya menjalin hubungan baik dengan Wali Kota Bodewin Wattimena dan jajaran Pemkot Ambon.

“Saya tidak mempersoalkan anggaran, tetapi jangan melebar atau membias ke mana-mana,” ungkapnya.

Habib Rifqi tetap membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan. Namun jika pihak LASQI tetap diam, masyarakat berhak menilai sendiri bagaimana etika dan moral dari Ari sebagai pengurus tersebut.

“Siapa yang ingin hidupnya selamat, hendaklah memiliki etika, moral, dan adab. Ilmu boleh tinggi, tapi tanpa etika, semuanya tidak bermakna,” pungkasnya. ( Tasya Patty )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!